Bagi anak-anak, televisi merupakan kotak bergambar dan bersuara yang menarik untuk ditatap berjam-jam. Tetapi terlalu lama menatap “kotak ajaib” ini bisa menghambat perkembangan bicara dan mengekspresikan pikirannya.
Itu mengapa kita perlu membatasi akses anak terhadap televisi agar anak juga punya kesempatan untuk berinteraksi dengan sekitar. Dalam bahasa singkatnya, kita perlu membuat anak “sibuk”. Lalu “kesibukan” apa yang bisa menyelamatkan mereka dari dampak negatif televisi? Coba lakukan trik-trik Joel Schwartberg, penulis A Great Give to Any Father, berikut ini:
Menggambar atau menempel gambar, ini baik untuk anak berusia 3-7 tahun. Anak-anak suka dengan gambar, terlebih ketika gambar itu bisa ditempel di tempat-tempat kesukaannya. Jika tembok terlihat kotor akibat coretan dan tempelan gambar-gambar, jangan menjadi kesal. Ingatlah coretan itu adalah bagian dari proses stimulasi kreativitas yang membantu ketajaman berpikirnya.
Mengajaknya bermain musik, ini baik untuk anak berusia 3-6 tahun. Dorong mereka untuk membeli satu alat musik dan biarkan mereka memainkannya dengan bebas. Atau ajarkan bagaimana membuat alat-alat yang ada di sekelilingnya, seperti panci bekas atau sendok dan garpu sebagai alat musik. Trik ini akan membuat anak percaya diri karena berhasil menyulap benda-benda itu sebagai alat musik. Rasa percaya diri inilah yang nantinya membuat mereka tidak takut mengekspresikan apa pun yang ada di dalam pikirannya.
Bermain kaos kaki, ini baik untuk anak berusia 3-8 tahun. Sediakan keranjang kecil yang berisi berbagai macam kaos kaki. Setelah itu, minta mereka untuk menemukan pasangan dari masing-masing kaos kaki. Permainan ini akan membantu mereka berkenalan dengan warna. Plus mengajarkan mereka mengenali bentuk yang serupa.
Mengatur rak buku, ini baik untuk anak berusia 5-7 tahun. Ajak anak kita untuk menyusun buku-bukunya berdasarkan ukuran buku. Mulai dari buku yang berukuran kecil, sedang, hingga berukuran besar. Selain membantu mereka berkenalan dengan ukuran, kita juga telah melatihnya untuk merapikan barang-barangnya sendiri.
Melihat begitu banyak kesenangan dan pelajaran yang dapat kita ciptakan bersama anak-anak, rasa-rasanya kita tak butuh televisi lagi untuk mengenalkan kreativitas pada mereka. Di samping itu karena trik yang kita gunakan sebagian besar bermain, maka anak akan berpikir bahwa setiap hal yang dilakukan bersama orangtuanya adalah menyenangkan. Jadi, selamat bermain!
(Siagian Priska/Prevention Indonesia)
Showing posts with label dari. Show all posts
Showing posts with label dari. Show all posts
Saturday, March 27, 2010
Trik Mengalihkan Anak dari Televisi
Bagi anak-anak, televisi merupakan kotak bergambar dan bersuara yang menarik untuk ditatap berjam-jam. Tetapi terlalu lama menatap “kotak ajaib” ini bisa menghambat perkembangan bicara dan mengekspresikan pikirannya.
Itu mengapa kita perlu membatasi akses anak terhadap televisi agar anak juga punya kesempatan untuk berinteraksi dengan sekitar. Dalam bahasa singkatnya, kita perlu membuat anak “sibuk”. Lalu “kesibukan” apa yang bisa menyelamatkan mereka dari dampak negatif televisi? Coba lakukan trik-trik Joel Schwartberg, penulis A Great Give to Any Father, berikut ini:
Menggambar atau menempel gambar, ini baik untuk anak berusia 3-7 tahun. Anak-anak suka dengan gambar, terlebih ketika gambar itu bisa ditempel di tempat-tempat kesukaannya. Jika tembok terlihat kotor akibat coretan dan tempelan gambar-gambar, jangan menjadi kesal. Ingatlah coretan itu adalah bagian dari proses stimulasi kreativitas yang membantu ketajaman berpikirnya.
Mengajaknya bermain musik, ini baik untuk anak berusia 3-6 tahun. Dorong mereka untuk membeli satu alat musik dan biarkan mereka memainkannya dengan bebas. Atau ajarkan bagaimana membuat alat-alat yang ada di sekelilingnya, seperti panci bekas atau sendok dan garpu sebagai alat musik. Trik ini akan membuat anak percaya diri karena berhasil menyulap benda-benda itu sebagai alat musik. Rasa percaya diri inilah yang nantinya membuat mereka tidak takut mengekspresikan apa pun yang ada di dalam pikirannya.
Bermain kaos kaki, ini baik untuk anak berusia 3-8 tahun. Sediakan keranjang kecil yang berisi berbagai macam kaos kaki. Setelah itu, minta mereka untuk menemukan pasangan dari masing-masing kaos kaki. Permainan ini akan membantu mereka berkenalan dengan warna. Plus mengajarkan mereka mengenali bentuk yang serupa.
Mengatur rak buku, ini baik untuk anak berusia 5-7 tahun. Ajak anak kita untuk menyusun buku-bukunya berdasarkan ukuran buku. Mulai dari buku yang berukuran kecil, sedang, hingga berukuran besar. Selain membantu mereka berkenalan dengan ukuran, kita juga telah melatihnya untuk merapikan barang-barangnya sendiri.
Melihat begitu banyak kesenangan dan pelajaran yang dapat kita ciptakan bersama anak-anak, rasa-rasanya kita tak butuh televisi lagi untuk mengenalkan kreativitas pada mereka. Di samping itu karena trik yang kita gunakan sebagian besar bermain, maka anak akan berpikir bahwa setiap hal yang dilakukan bersama orangtuanya adalah menyenangkan. Jadi, selamat bermain!
(Siagian Priska/Prevention Indonesia)
Itu mengapa kita perlu membatasi akses anak terhadap televisi agar anak juga punya kesempatan untuk berinteraksi dengan sekitar. Dalam bahasa singkatnya, kita perlu membuat anak “sibuk”. Lalu “kesibukan” apa yang bisa menyelamatkan mereka dari dampak negatif televisi? Coba lakukan trik-trik Joel Schwartberg, penulis A Great Give to Any Father, berikut ini:
Menggambar atau menempel gambar, ini baik untuk anak berusia 3-7 tahun. Anak-anak suka dengan gambar, terlebih ketika gambar itu bisa ditempel di tempat-tempat kesukaannya. Jika tembok terlihat kotor akibat coretan dan tempelan gambar-gambar, jangan menjadi kesal. Ingatlah coretan itu adalah bagian dari proses stimulasi kreativitas yang membantu ketajaman berpikirnya.
Mengajaknya bermain musik, ini baik untuk anak berusia 3-6 tahun. Dorong mereka untuk membeli satu alat musik dan biarkan mereka memainkannya dengan bebas. Atau ajarkan bagaimana membuat alat-alat yang ada di sekelilingnya, seperti panci bekas atau sendok dan garpu sebagai alat musik. Trik ini akan membuat anak percaya diri karena berhasil menyulap benda-benda itu sebagai alat musik. Rasa percaya diri inilah yang nantinya membuat mereka tidak takut mengekspresikan apa pun yang ada di dalam pikirannya.
Bermain kaos kaki, ini baik untuk anak berusia 3-8 tahun. Sediakan keranjang kecil yang berisi berbagai macam kaos kaki. Setelah itu, minta mereka untuk menemukan pasangan dari masing-masing kaos kaki. Permainan ini akan membantu mereka berkenalan dengan warna. Plus mengajarkan mereka mengenali bentuk yang serupa.
Mengatur rak buku, ini baik untuk anak berusia 5-7 tahun. Ajak anak kita untuk menyusun buku-bukunya berdasarkan ukuran buku. Mulai dari buku yang berukuran kecil, sedang, hingga berukuran besar. Selain membantu mereka berkenalan dengan ukuran, kita juga telah melatihnya untuk merapikan barang-barangnya sendiri.
Melihat begitu banyak kesenangan dan pelajaran yang dapat kita ciptakan bersama anak-anak, rasa-rasanya kita tak butuh televisi lagi untuk mengenalkan kreativitas pada mereka. Di samping itu karena trik yang kita gunakan sebagian besar bermain, maka anak akan berpikir bahwa setiap hal yang dilakukan bersama orangtuanya adalah menyenangkan. Jadi, selamat bermain!
(Siagian Priska/Prevention Indonesia)
Wednesday, March 24, 2010
Memahami Pasangan Lelaki dari Posisi Tidur
INILAH.COM
Apakah Anda dan pasangan berpelukan dalam posisi sendok sepanjang malam? Ataukah Anda justru berada di tepi ranjang saat tidur?
Posisi tidur Anda memberikan makna terhadap hubungan dan menunjukkan bagaimana perasaan Anda dan menangani 'kekuatan' berdua.
Berikut ada beberapa posisi tidur dan maknanya.
1. Posisi Sendok (Pria di Belakang)
Pasangan Anda di belakang dengan menghadap ke punggung Anda.
Artinya: Dia ingin memberikan perlindungan terhadap Anda, walaupun posisi ini cukup tradisional. Dia bisa menjadi sensual dengan meraba-raba, memeluk dan membelai setiap bagian tubuh Anda. Hati-hati kalau Anda tidak pernah dalam posisi seperti ini karena mungkin akan terlalu kurang mesra.
2. Posisi Sendok (Wanita di Belakang)
Posisi yang lain adalah Anda menghadap punggungnya atau kedua pantatnya di depan Anda.
Artinya: Anda sangat menyayangi dan menjadi inisiatornya. Dia akan merasa tidak takut karena Anda menjadi mengendali suasana. Setiap saat keinginan Anda akan terlayani.
3. Tiang Terpisah
Kedua punggung saling berhadap-hadapan dengan jarak lumayan lebar.
Artinya: keintiman sedang renggang dan satu sama lain mungkin terlalu mandiri. Jika ingin setelah renggang kemudian berbaikan, maka ucapkanlah 'Selamat Malam' dengan hangat. Namun jangan sampai situasi ini menghalangi Anda dan pasangan Anda untuk masuk situasi berbaikan.
Posisi Menjauh
Salah satu terlentang dan yang lain menjauh dengan lebih memilih di tepi ranjang.
Artinya, kedua belah pihak mementingkan diri sendiri dan melupakan kepentingan bersama pasangan.
Posisi Butuh Kamu
Salah seorang berbaring di belakang pasangan, sedangkan yang lainnya terbuai di dalam rangkulan yang berusaha mendekatkan dirinya.
Artinya: Para pasangan yang berada di belakang memberikan kekuatan emosional dan kebahagiaan dengan menawarkan dukungan emosional kepada pasangan lain yang lebih membutuhkan.
Posisi Pesan Campuran
Anda berbaring di punggung pasangan Anda.
Artinya: Dia berkorban untuk Anda dan siap memberikan kebahagiaan kepada pasangan jika membutuhkan.
Posisi Patuh
Salah satu berbaring di perut pasangan.
Artinya: pasangan Anda pasrah atau percaya pada hubungan mereka.
Posisi Penuh Nafsu
Berpelukan erat dengan masing-masing kaki melilit.
Artinya: memendam nafsu seperti saat berbulan madu, yang selalu ingin berbaring terus bersama pasangan Anda. Anda terus memeluknya seakan tak ingin berpisah. Anda harus memberikan ciuman kalau akan menghentikannya dengan baik-baik
Apakah Anda dan pasangan berpelukan dalam posisi sendok sepanjang malam? Ataukah Anda justru berada di tepi ranjang saat tidur?
Posisi tidur Anda memberikan makna terhadap hubungan dan menunjukkan bagaimana perasaan Anda dan menangani 'kekuatan' berdua.
Berikut ada beberapa posisi tidur dan maknanya.
1. Posisi Sendok (Pria di Belakang)
Pasangan Anda di belakang dengan menghadap ke punggung Anda.
Artinya: Dia ingin memberikan perlindungan terhadap Anda, walaupun posisi ini cukup tradisional. Dia bisa menjadi sensual dengan meraba-raba, memeluk dan membelai setiap bagian tubuh Anda. Hati-hati kalau Anda tidak pernah dalam posisi seperti ini karena mungkin akan terlalu kurang mesra.
2. Posisi Sendok (Wanita di Belakang)
Posisi yang lain adalah Anda menghadap punggungnya atau kedua pantatnya di depan Anda.
Artinya: Anda sangat menyayangi dan menjadi inisiatornya. Dia akan merasa tidak takut karena Anda menjadi mengendali suasana. Setiap saat keinginan Anda akan terlayani.
3. Tiang Terpisah
Kedua punggung saling berhadap-hadapan dengan jarak lumayan lebar.
Artinya: keintiman sedang renggang dan satu sama lain mungkin terlalu mandiri. Jika ingin setelah renggang kemudian berbaikan, maka ucapkanlah 'Selamat Malam' dengan hangat. Namun jangan sampai situasi ini menghalangi Anda dan pasangan Anda untuk masuk situasi berbaikan.
Posisi Menjauh
Salah satu terlentang dan yang lain menjauh dengan lebih memilih di tepi ranjang.
Artinya, kedua belah pihak mementingkan diri sendiri dan melupakan kepentingan bersama pasangan.
Posisi Butuh Kamu
Salah seorang berbaring di belakang pasangan, sedangkan yang lainnya terbuai di dalam rangkulan yang berusaha mendekatkan dirinya.
Artinya: Para pasangan yang berada di belakang memberikan kekuatan emosional dan kebahagiaan dengan menawarkan dukungan emosional kepada pasangan lain yang lebih membutuhkan.
Posisi Pesan Campuran
Anda berbaring di punggung pasangan Anda.
Artinya: Dia berkorban untuk Anda dan siap memberikan kebahagiaan kepada pasangan jika membutuhkan.
Posisi Patuh
Salah satu berbaring di perut pasangan.
Artinya: pasangan Anda pasrah atau percaya pada hubungan mereka.
Posisi Penuh Nafsu
Berpelukan erat dengan masing-masing kaki melilit.
Artinya: memendam nafsu seperti saat berbulan madu, yang selalu ingin berbaring terus bersama pasangan Anda. Anda terus memeluknya seakan tak ingin berpisah. Anda harus memberikan ciuman kalau akan menghentikannya dengan baik-baik
Labels:
dari,
Lelaki,
Memahami,
Memahami Pasangan,
Mr cinta,
Pasangan,
Posisi,
Posisi Tidur,
Tidur
Memahami Pasangan Lelaki dari Posisi Tidur
INILAH.COM
Apakah Anda dan pasangan berpelukan dalam posisi sendok sepanjang malam? Ataukah Anda justru berada di tepi ranjang saat tidur?
Posisi tidur Anda memberikan makna terhadap hubungan dan menunjukkan bagaimana perasaan Anda dan menangani 'kekuatan' berdua.
Berikut ada beberapa posisi tidur dan maknanya.
1. Posisi Sendok (Pria di Belakang)
Pasangan Anda di belakang dengan menghadap ke punggung Anda.
Artinya: Dia ingin memberikan perlindungan terhadap Anda, walaupun posisi ini cukup tradisional. Dia bisa menjadi sensual dengan meraba-raba, memeluk dan membelai setiap bagian tubuh Anda. Hati-hati kalau Anda tidak pernah dalam posisi seperti ini karena mungkin akan terlalu kurang mesra.
2. Posisi Sendok (Wanita di Belakang)
Posisi yang lain adalah Anda menghadap punggungnya atau kedua pantatnya di depan Anda.
Artinya: Anda sangat menyayangi dan menjadi inisiatornya. Dia akan merasa tidak takut karena Anda menjadi mengendali suasana. Setiap saat keinginan Anda akan terlayani.
3. Tiang Terpisah
Kedua punggung saling berhadap-hadapan dengan jarak lumayan lebar.
Artinya: keintiman sedang renggang dan satu sama lain mungkin terlalu mandiri. Jika ingin setelah renggang kemudian berbaikan, maka ucapkanlah 'Selamat Malam' dengan hangat. Namun jangan sampai situasi ini menghalangi Anda dan pasangan Anda untuk masuk situasi berbaikan.
Posisi Menjauh
Salah satu terlentang dan yang lain menjauh dengan lebih memilih di tepi ranjang.
Artinya, kedua belah pihak mementingkan diri sendiri dan melupakan kepentingan bersama pasangan.
Posisi Butuh Kamu
Salah seorang berbaring di belakang pasangan, sedangkan yang lainnya terbuai di dalam rangkulan yang berusaha mendekatkan dirinya.
Artinya: Para pasangan yang berada di belakang memberikan kekuatan emosional dan kebahagiaan dengan menawarkan dukungan emosional kepada pasangan lain yang lebih membutuhkan.
Posisi Pesan Campuran
Anda berbaring di punggung pasangan Anda.
Artinya: Dia berkorban untuk Anda dan siap memberikan kebahagiaan kepada pasangan jika membutuhkan.
Posisi Patuh
Salah satu berbaring di perut pasangan.
Artinya: pasangan Anda pasrah atau percaya pada hubungan mereka.
Posisi Penuh Nafsu
Berpelukan erat dengan masing-masing kaki melilit.
Artinya: memendam nafsu seperti saat berbulan madu, yang selalu ingin berbaring terus bersama pasangan Anda. Anda terus memeluknya seakan tak ingin berpisah. Anda harus memberikan ciuman kalau akan menghentikannya dengan baik-baik
Apakah Anda dan pasangan berpelukan dalam posisi sendok sepanjang malam? Ataukah Anda justru berada di tepi ranjang saat tidur?
Posisi tidur Anda memberikan makna terhadap hubungan dan menunjukkan bagaimana perasaan Anda dan menangani 'kekuatan' berdua.
Berikut ada beberapa posisi tidur dan maknanya.
1. Posisi Sendok (Pria di Belakang)
Pasangan Anda di belakang dengan menghadap ke punggung Anda.
Artinya: Dia ingin memberikan perlindungan terhadap Anda, walaupun posisi ini cukup tradisional. Dia bisa menjadi sensual dengan meraba-raba, memeluk dan membelai setiap bagian tubuh Anda. Hati-hati kalau Anda tidak pernah dalam posisi seperti ini karena mungkin akan terlalu kurang mesra.
2. Posisi Sendok (Wanita di Belakang)
Posisi yang lain adalah Anda menghadap punggungnya atau kedua pantatnya di depan Anda.
Artinya: Anda sangat menyayangi dan menjadi inisiatornya. Dia akan merasa tidak takut karena Anda menjadi mengendali suasana. Setiap saat keinginan Anda akan terlayani.
3. Tiang Terpisah
Kedua punggung saling berhadap-hadapan dengan jarak lumayan lebar.
Artinya: keintiman sedang renggang dan satu sama lain mungkin terlalu mandiri. Jika ingin setelah renggang kemudian berbaikan, maka ucapkanlah 'Selamat Malam' dengan hangat. Namun jangan sampai situasi ini menghalangi Anda dan pasangan Anda untuk masuk situasi berbaikan.
Posisi Menjauh
Salah satu terlentang dan yang lain menjauh dengan lebih memilih di tepi ranjang.
Artinya, kedua belah pihak mementingkan diri sendiri dan melupakan kepentingan bersama pasangan.
Posisi Butuh Kamu
Salah seorang berbaring di belakang pasangan, sedangkan yang lainnya terbuai di dalam rangkulan yang berusaha mendekatkan dirinya.
Artinya: Para pasangan yang berada di belakang memberikan kekuatan emosional dan kebahagiaan dengan menawarkan dukungan emosional kepada pasangan lain yang lebih membutuhkan.
Posisi Pesan Campuran
Anda berbaring di punggung pasangan Anda.
Artinya: Dia berkorban untuk Anda dan siap memberikan kebahagiaan kepada pasangan jika membutuhkan.
Posisi Patuh
Salah satu berbaring di perut pasangan.
Artinya: pasangan Anda pasrah atau percaya pada hubungan mereka.
Posisi Penuh Nafsu
Berpelukan erat dengan masing-masing kaki melilit.
Artinya: memendam nafsu seperti saat berbulan madu, yang selalu ingin berbaring terus bersama pasangan Anda. Anda terus memeluknya seakan tak ingin berpisah. Anda harus memberikan ciuman kalau akan menghentikannya dengan baik-baik
Labels:
dari,
Lelaki,
Memahami,
Memahami Pasangan,
Mr cinta,
Pasangan,
Posisi,
Posisi Tidur,
Tidur
Kenali Penyakitmu dari Bau Napas
KOMPAS.com — Selain organ tubuh, bau napas juga bisa digunakan untuk mendeteksi penyakit. Cukup banyak penyakit yang bisa dikenali lewat bau napas. Makanya, Anda patut curiga jika aroma napas tidak sedap padahal tidak sedang mengonsumsi makanan atau meminum obat.
Misalnya, bila napas bau meski sudah gosok gigi dan tidak makan apa pun, itu bisa menjadi tanda Anda sedang mengidap penyakit diabetes. Sementara jika napas bau dengan gejala batuk atau hidung tersumbat, mungkin itu mengindikasikan infeksi paru atau tenggorokan.
Namun, kondisinya akan berbeda jika napas berbau amis. Itu merupakan kondisi langka yang menandakan tubuh tidak bisa mencerna makanan, seperti telur, ikan atau hati dengan baik. Sementara, bau napas seperti feses atau kotoran kemungkinan terjadinya penyumbatan usus.
Sedangkan napas bau amoniak kemungkinan menunjukkan ada masalah di ginjal. Tapi jika berbau manis ditambah mata kekuningan, itu menandakan ada masalah dengan liver. Adapun napas berbau acetone atau seperti bau cat kuku, mengindikasikan ada masalah dengan darah. (Kontan/Raymond Reynaldi)
Misalnya, bila napas bau meski sudah gosok gigi dan tidak makan apa pun, itu bisa menjadi tanda Anda sedang mengidap penyakit diabetes. Sementara jika napas bau dengan gejala batuk atau hidung tersumbat, mungkin itu mengindikasikan infeksi paru atau tenggorokan.
Namun, kondisinya akan berbeda jika napas berbau amis. Itu merupakan kondisi langka yang menandakan tubuh tidak bisa mencerna makanan, seperti telur, ikan atau hati dengan baik. Sementara, bau napas seperti feses atau kotoran kemungkinan terjadinya penyumbatan usus.
Sedangkan napas bau amoniak kemungkinan menunjukkan ada masalah di ginjal. Tapi jika berbau manis ditambah mata kekuningan, itu menandakan ada masalah dengan liver. Adapun napas berbau acetone atau seperti bau cat kuku, mengindikasikan ada masalah dengan darah. (Kontan/Raymond Reynaldi)
Kenali Penyakitmu dari Bau Napas
KOMPAS.com — Selain organ tubuh, bau napas juga bisa digunakan untuk mendeteksi penyakit. Cukup banyak penyakit yang bisa dikenali lewat bau napas. Makanya, Anda patut curiga jika aroma napas tidak sedap padahal tidak sedang mengonsumsi makanan atau meminum obat.
Misalnya, bila napas bau meski sudah gosok gigi dan tidak makan apa pun, itu bisa menjadi tanda Anda sedang mengidap penyakit diabetes. Sementara jika napas bau dengan gejala batuk atau hidung tersumbat, mungkin itu mengindikasikan infeksi paru atau tenggorokan.
Namun, kondisinya akan berbeda jika napas berbau amis. Itu merupakan kondisi langka yang menandakan tubuh tidak bisa mencerna makanan, seperti telur, ikan atau hati dengan baik. Sementara, bau napas seperti feses atau kotoran kemungkinan terjadinya penyumbatan usus.
Sedangkan napas bau amoniak kemungkinan menunjukkan ada masalah di ginjal. Tapi jika berbau manis ditambah mata kekuningan, itu menandakan ada masalah dengan liver. Adapun napas berbau acetone atau seperti bau cat kuku, mengindikasikan ada masalah dengan darah. (Kontan/Raymond Reynaldi)
Misalnya, bila napas bau meski sudah gosok gigi dan tidak makan apa pun, itu bisa menjadi tanda Anda sedang mengidap penyakit diabetes. Sementara jika napas bau dengan gejala batuk atau hidung tersumbat, mungkin itu mengindikasikan infeksi paru atau tenggorokan.
Namun, kondisinya akan berbeda jika napas berbau amis. Itu merupakan kondisi langka yang menandakan tubuh tidak bisa mencerna makanan, seperti telur, ikan atau hati dengan baik. Sementara, bau napas seperti feses atau kotoran kemungkinan terjadinya penyumbatan usus.
Sedangkan napas bau amoniak kemungkinan menunjukkan ada masalah di ginjal. Tapi jika berbau manis ditambah mata kekuningan, itu menandakan ada masalah dengan liver. Adapun napas berbau acetone atau seperti bau cat kuku, mengindikasikan ada masalah dengan darah. (Kontan/Raymond Reynaldi)
Tertular Kutil Kelamin dari Pacar
Kompas.com - Jerawat di wajah pasti meresahkan si empunya, apalagi jika tumbuh di vagina. Pastilah lebih menyusahkan. Itulah yang dirasakan Ratna (bukan nama sebenarnya), janda berusia 37 tahun.
Bulan November 2009 ia menemukan bintil-bintil seukuran jerawat di lubang vaginanya. Sempat mengira bintil itu hanya akibat iritasi, Ratna tak mau mengambil risiko. "Saya ini tipe orang yang langsung periksa ke dokter kalau ada gangguan sekecil apa pun masalahnya. Orang lain mungkin menganggap jerawat di vagina sepele, bagi saya tidak," ungkap Ratna.
Pada pemeriksaan pertama itu Ratna tidak mendapat keterangan apa pun mengenai penyakitnya. Dokter hanya menyarankan agar Ratna menjalani biopsi lanjutan untuk mengetahui apa sebenarnya bintil tersebut. Ia diminta menunggu hasilnya seminggu.
"Tapi, saat itu juga saya mendapat tindakan laser untuk menghilangkan bintil tersebut," katanya. Setelah seminggu hasil biopsi menyatakan bahwa Ratna mengalami kutil kelamin atau kondolima akuminata. Kutil itu disebabkan Human Papiloma Virus (HPV), yang didapatkan dari hubungan seksual. HPV ini bisa menular lewat gesekan kulit yang tidak terlindung oleh kondom.
Saat itu Ratna masih tenang karena merasa sudah mengatasinya dengan laser. Ternyata sebulan kemudian kutil itu muncul lagi. Di tempat yang sama pula. Ia pun mendatangi dokter dan mendapat jawaban yang membuat syok.
"Kata dokter, penyakit ini tidak bisa bisa disembuhkan. Kalaupun kutilnya hilang, dia bisa kembali sewaktu-waktu ketika daya tahan tubuh menurun. Virusnya bersembunyi di dalam tubuh, sembari menunggu waktu untuk kambuh lagi. Parahnya, penyakit ini akrab dengan pelacur," ujarnya jengkel.
Tidak puas dengan jawaban satu dokter, ia mencari opini dari tiga dokter dan menjelajah informasi di internet. Hasilnya sama saja. Semua mengatakan virus ini tidak bisa dihilangkan dari tubuhnya.
"Malah beberapa sumber mengatakan kulit ini bisa berubah jadi kanker mulut rahim jika tidak ditangani dengan serius. Tambah panik saya," lanjutnya. Kenyataannya, kutil itu tumbuh kembali. Sudah tiga bulan berturut-turut Ratna mendapat tindakan laser.
"Capek bolak-balik ke dokter untuk dilaser. Mahal pula biayanya. Saya stres dan tersadar bahwa hanya hubungan seksual yang bisa menyebabkan seperti ini," katanya.
Ratna mengakui, setelah kematian suaminya, ia menjalin hubungan kasih dengan seorang pria. "Saya hanya beberapa kali berhubungan seks dengan pacar. Dia baik dan santun. Ternyata saya tertular dari dia. Akhirnya saya sadar, kita tidak bisa menilai orang dari luarnya saja. Bisa saja pria itu sudah sering main perempuan dan tertular HPV. Pria kan hanya pembawa saja, yang kena pihak wanita," ujar Ratna.
Menyadari HPV ini tidak bisa dimusnahkan, Ratna stres. Ia pun menyimpulkan bahwa yang harus dimusnahkan bukan kutilnya, melainkan virusnya. Jadilah setiap hari ia mencari informasi mengenai cara membasmi virus tersebut.
Mengandalkan informasi dari internet, Ratna mendapat petunjuk untuk menghilangkan HPV dengan pengobatan alternatif menggunakan ramuan herbal dan hewani.
Dari pengalaman pahit ini Ratna sungguh belajar dan bertekad lebih berhati-hati mengawasi kedua anaknya. "Jangan sampai sembarangan berhubungan seksual. Kalaupun menggunakan kondom tidak banyak membantu. Pokoknya say no to free sex," sebutnya. (GHS/mic)
Bulan November 2009 ia menemukan bintil-bintil seukuran jerawat di lubang vaginanya. Sempat mengira bintil itu hanya akibat iritasi, Ratna tak mau mengambil risiko. "Saya ini tipe orang yang langsung periksa ke dokter kalau ada gangguan sekecil apa pun masalahnya. Orang lain mungkin menganggap jerawat di vagina sepele, bagi saya tidak," ungkap Ratna.
Pada pemeriksaan pertama itu Ratna tidak mendapat keterangan apa pun mengenai penyakitnya. Dokter hanya menyarankan agar Ratna menjalani biopsi lanjutan untuk mengetahui apa sebenarnya bintil tersebut. Ia diminta menunggu hasilnya seminggu.
"Tapi, saat itu juga saya mendapat tindakan laser untuk menghilangkan bintil tersebut," katanya. Setelah seminggu hasil biopsi menyatakan bahwa Ratna mengalami kutil kelamin atau kondolima akuminata. Kutil itu disebabkan Human Papiloma Virus (HPV), yang didapatkan dari hubungan seksual. HPV ini bisa menular lewat gesekan kulit yang tidak terlindung oleh kondom.
Saat itu Ratna masih tenang karena merasa sudah mengatasinya dengan laser. Ternyata sebulan kemudian kutil itu muncul lagi. Di tempat yang sama pula. Ia pun mendatangi dokter dan mendapat jawaban yang membuat syok.
"Kata dokter, penyakit ini tidak bisa bisa disembuhkan. Kalaupun kutilnya hilang, dia bisa kembali sewaktu-waktu ketika daya tahan tubuh menurun. Virusnya bersembunyi di dalam tubuh, sembari menunggu waktu untuk kambuh lagi. Parahnya, penyakit ini akrab dengan pelacur," ujarnya jengkel.
Tidak puas dengan jawaban satu dokter, ia mencari opini dari tiga dokter dan menjelajah informasi di internet. Hasilnya sama saja. Semua mengatakan virus ini tidak bisa dihilangkan dari tubuhnya.
"Malah beberapa sumber mengatakan kulit ini bisa berubah jadi kanker mulut rahim jika tidak ditangani dengan serius. Tambah panik saya," lanjutnya. Kenyataannya, kutil itu tumbuh kembali. Sudah tiga bulan berturut-turut Ratna mendapat tindakan laser.
"Capek bolak-balik ke dokter untuk dilaser. Mahal pula biayanya. Saya stres dan tersadar bahwa hanya hubungan seksual yang bisa menyebabkan seperti ini," katanya.
Ratna mengakui, setelah kematian suaminya, ia menjalin hubungan kasih dengan seorang pria. "Saya hanya beberapa kali berhubungan seks dengan pacar. Dia baik dan santun. Ternyata saya tertular dari dia. Akhirnya saya sadar, kita tidak bisa menilai orang dari luarnya saja. Bisa saja pria itu sudah sering main perempuan dan tertular HPV. Pria kan hanya pembawa saja, yang kena pihak wanita," ujar Ratna.
Menyadari HPV ini tidak bisa dimusnahkan, Ratna stres. Ia pun menyimpulkan bahwa yang harus dimusnahkan bukan kutilnya, melainkan virusnya. Jadilah setiap hari ia mencari informasi mengenai cara membasmi virus tersebut.
Mengandalkan informasi dari internet, Ratna mendapat petunjuk untuk menghilangkan HPV dengan pengobatan alternatif menggunakan ramuan herbal dan hewani.
Dari pengalaman pahit ini Ratna sungguh belajar dan bertekad lebih berhati-hati mengawasi kedua anaknya. "Jangan sampai sembarangan berhubungan seksual. Kalaupun menggunakan kondom tidak banyak membantu. Pokoknya say no to free sex," sebutnya. (GHS/mic)
Tertular Kutil Kelamin dari Pacar
Kompas.com - Jerawat di wajah pasti meresahkan si empunya, apalagi jika tumbuh di vagina. Pastilah lebih menyusahkan. Itulah yang dirasakan Ratna (bukan nama sebenarnya), janda berusia 37 tahun.
Bulan November 2009 ia menemukan bintil-bintil seukuran jerawat di lubang vaginanya. Sempat mengira bintil itu hanya akibat iritasi, Ratna tak mau mengambil risiko. "Saya ini tipe orang yang langsung periksa ke dokter kalau ada gangguan sekecil apa pun masalahnya. Orang lain mungkin menganggap jerawat di vagina sepele, bagi saya tidak," ungkap Ratna.
Pada pemeriksaan pertama itu Ratna tidak mendapat keterangan apa pun mengenai penyakitnya. Dokter hanya menyarankan agar Ratna menjalani biopsi lanjutan untuk mengetahui apa sebenarnya bintil tersebut. Ia diminta menunggu hasilnya seminggu.
"Tapi, saat itu juga saya mendapat tindakan laser untuk menghilangkan bintil tersebut," katanya. Setelah seminggu hasil biopsi menyatakan bahwa Ratna mengalami kutil kelamin atau kondolima akuminata. Kutil itu disebabkan Human Papiloma Virus (HPV), yang didapatkan dari hubungan seksual. HPV ini bisa menular lewat gesekan kulit yang tidak terlindung oleh kondom.
Saat itu Ratna masih tenang karena merasa sudah mengatasinya dengan laser. Ternyata sebulan kemudian kutil itu muncul lagi. Di tempat yang sama pula. Ia pun mendatangi dokter dan mendapat jawaban yang membuat syok.
"Kata dokter, penyakit ini tidak bisa bisa disembuhkan. Kalaupun kutilnya hilang, dia bisa kembali sewaktu-waktu ketika daya tahan tubuh menurun. Virusnya bersembunyi di dalam tubuh, sembari menunggu waktu untuk kambuh lagi. Parahnya, penyakit ini akrab dengan pelacur," ujarnya jengkel.
Tidak puas dengan jawaban satu dokter, ia mencari opini dari tiga dokter dan menjelajah informasi di internet. Hasilnya sama saja. Semua mengatakan virus ini tidak bisa dihilangkan dari tubuhnya.
"Malah beberapa sumber mengatakan kulit ini bisa berubah jadi kanker mulut rahim jika tidak ditangani dengan serius. Tambah panik saya," lanjutnya. Kenyataannya, kutil itu tumbuh kembali. Sudah tiga bulan berturut-turut Ratna mendapat tindakan laser.
"Capek bolak-balik ke dokter untuk dilaser. Mahal pula biayanya. Saya stres dan tersadar bahwa hanya hubungan seksual yang bisa menyebabkan seperti ini," katanya.
Ratna mengakui, setelah kematian suaminya, ia menjalin hubungan kasih dengan seorang pria. "Saya hanya beberapa kali berhubungan seks dengan pacar. Dia baik dan santun. Ternyata saya tertular dari dia. Akhirnya saya sadar, kita tidak bisa menilai orang dari luarnya saja. Bisa saja pria itu sudah sering main perempuan dan tertular HPV. Pria kan hanya pembawa saja, yang kena pihak wanita," ujar Ratna.
Menyadari HPV ini tidak bisa dimusnahkan, Ratna stres. Ia pun menyimpulkan bahwa yang harus dimusnahkan bukan kutilnya, melainkan virusnya. Jadilah setiap hari ia mencari informasi mengenai cara membasmi virus tersebut.
Mengandalkan informasi dari internet, Ratna mendapat petunjuk untuk menghilangkan HPV dengan pengobatan alternatif menggunakan ramuan herbal dan hewani.
Dari pengalaman pahit ini Ratna sungguh belajar dan bertekad lebih berhati-hati mengawasi kedua anaknya. "Jangan sampai sembarangan berhubungan seksual. Kalaupun menggunakan kondom tidak banyak membantu. Pokoknya say no to free sex," sebutnya. (GHS/mic)
Bulan November 2009 ia menemukan bintil-bintil seukuran jerawat di lubang vaginanya. Sempat mengira bintil itu hanya akibat iritasi, Ratna tak mau mengambil risiko. "Saya ini tipe orang yang langsung periksa ke dokter kalau ada gangguan sekecil apa pun masalahnya. Orang lain mungkin menganggap jerawat di vagina sepele, bagi saya tidak," ungkap Ratna.
Pada pemeriksaan pertama itu Ratna tidak mendapat keterangan apa pun mengenai penyakitnya. Dokter hanya menyarankan agar Ratna menjalani biopsi lanjutan untuk mengetahui apa sebenarnya bintil tersebut. Ia diminta menunggu hasilnya seminggu.
"Tapi, saat itu juga saya mendapat tindakan laser untuk menghilangkan bintil tersebut," katanya. Setelah seminggu hasil biopsi menyatakan bahwa Ratna mengalami kutil kelamin atau kondolima akuminata. Kutil itu disebabkan Human Papiloma Virus (HPV), yang didapatkan dari hubungan seksual. HPV ini bisa menular lewat gesekan kulit yang tidak terlindung oleh kondom.
Saat itu Ratna masih tenang karena merasa sudah mengatasinya dengan laser. Ternyata sebulan kemudian kutil itu muncul lagi. Di tempat yang sama pula. Ia pun mendatangi dokter dan mendapat jawaban yang membuat syok.
"Kata dokter, penyakit ini tidak bisa bisa disembuhkan. Kalaupun kutilnya hilang, dia bisa kembali sewaktu-waktu ketika daya tahan tubuh menurun. Virusnya bersembunyi di dalam tubuh, sembari menunggu waktu untuk kambuh lagi. Parahnya, penyakit ini akrab dengan pelacur," ujarnya jengkel.
Tidak puas dengan jawaban satu dokter, ia mencari opini dari tiga dokter dan menjelajah informasi di internet. Hasilnya sama saja. Semua mengatakan virus ini tidak bisa dihilangkan dari tubuhnya.
"Malah beberapa sumber mengatakan kulit ini bisa berubah jadi kanker mulut rahim jika tidak ditangani dengan serius. Tambah panik saya," lanjutnya. Kenyataannya, kutil itu tumbuh kembali. Sudah tiga bulan berturut-turut Ratna mendapat tindakan laser.
"Capek bolak-balik ke dokter untuk dilaser. Mahal pula biayanya. Saya stres dan tersadar bahwa hanya hubungan seksual yang bisa menyebabkan seperti ini," katanya.
Ratna mengakui, setelah kematian suaminya, ia menjalin hubungan kasih dengan seorang pria. "Saya hanya beberapa kali berhubungan seks dengan pacar. Dia baik dan santun. Ternyata saya tertular dari dia. Akhirnya saya sadar, kita tidak bisa menilai orang dari luarnya saja. Bisa saja pria itu sudah sering main perempuan dan tertular HPV. Pria kan hanya pembawa saja, yang kena pihak wanita," ujar Ratna.
Menyadari HPV ini tidak bisa dimusnahkan, Ratna stres. Ia pun menyimpulkan bahwa yang harus dimusnahkan bukan kutilnya, melainkan virusnya. Jadilah setiap hari ia mencari informasi mengenai cara membasmi virus tersebut.
Mengandalkan informasi dari internet, Ratna mendapat petunjuk untuk menghilangkan HPV dengan pengobatan alternatif menggunakan ramuan herbal dan hewani.
Dari pengalaman pahit ini Ratna sungguh belajar dan bertekad lebih berhati-hati mengawasi kedua anaknya. "Jangan sampai sembarangan berhubungan seksual. Kalaupun menggunakan kondom tidak banyak membantu. Pokoknya say no to free sex," sebutnya. (GHS/mic)
Tuesday, March 23, 2010
Riset: Sepak Bola Lebih Sehat dari Angkat Beban dan Lari
KOMPAS.com — Riset teranyar menunjukkan, bermain sepak bola lebih baik pengaruhnya bagi kesehatan ketimbang olahraga lari atau angkat beban. Faktor intensitas dan variasi gerakan dalam sepak bola, seperti menendang, berlari, menggiring, dan berputar, membuat olahraga ini lebih unggul.
Riset juga menyatakan, sepak bola five-a-side (satu tim lima orang) seperti futsal lebih mendatangkan manfaat ketimbang permainan bola skala penuh. Dengan tim beranggotakan lima, para pemain dituntut bergerak lebih lincah.
Keunggulan sepak bola terungkap setelah Prof Peter Krustrup dan timnya dari Universitas Kopenhagen melakukan tinjauan riset dan melakukan studi tentang olahraga. Ia bilang, permainan stop-start alamiah dan berkelanjutan dalam sepak bola dapat membangun kebugaran jangka panjang selain juga efektif membakar lemak.
Dengan begitu, risiko seseorang mengidap penyakit jantung akan berkurang karena aktivitas ini membuat tekanan darah dan kolesterol menurun. Sepak bola juga cara yang baik untuk menurunkan berat badan, menurut laporan studi yang melibatkan 50 ilmuwan di tujuh negara itu.
"Sepak bola lebih baik ketimbang angkat berat dan sama baiknya—jika tidak lebih baik—ketimbang berlari oleh karena manfaatnya untuk jantung," ungkap Prof Krustrup.
Berdasarkan hasil riset, ia bahkan mengklaim sepak bola dapat direkomendasikan sebagai bagian dari terapi gangguan jantung seperti tekanan darah tinggi.
"Sepak bola lebih kuat pergaruhnya terhadap sejumlah faktor kardiovaskular seperti pengambilan oksigen, fungsi jantung, tensi darah, kolesterol, dan massa lemak, dibanding latihan beban dan berlari. Kurang gerak adalah faktor risiko penting bagi timbulnya penyakit jantung, tetapi suatu hal baru bahwa olahraga menyenangkan seperti sepak bola efektif mengobati tekanan darah tinggi," ujarnya.
Salah satu dari riset tersebut meneliti 47 pria pengidap tekanan darah tinggi yang diminta berolahraga selama satu jam sebanyak dua kali seminggu selama tiga bulan. Responden dibagi menjadi dua kelompok, yakni yang bermain bola dan berolahraga lari. Mereka yang bermain bola ternyata mengalami penurunan tensi rata-rata sebesar kelompok lari.
Dua kelompok ini pun mengalami jumlah penurunan berat yang sama, tetapi kelompok sepak bola mengalami penurunan kadar kolesterol. Studi lain menemukan bahwa sepak bola juga meningkatkan kepadatan tulang dua kali lebih besar ketimbang lari.
Riset ini sedianya akan dipublikasikan dalam Scandinavian Journal of Medicine and Science in Sports. Para peneliti berencana melakukan studi lanjutan apakah sepak bola lebih sehat ketimbang permainan bola lainnya, seperti bola basket atau voli.
Riset: Sepak Bola Lebih Sehat dari Angkat Beban dan Lari
KOMPAS.com — Riset teranyar menunjukkan, bermain sepak bola lebih baik pengaruhnya bagi kesehatan ketimbang olahraga lari atau angkat beban. Faktor intensitas dan variasi gerakan dalam sepak bola, seperti menendang, berlari, menggiring, dan berputar, membuat olahraga ini lebih unggul.
Riset juga menyatakan, sepak bola five-a-side (satu tim lima orang) seperti futsal lebih mendatangkan manfaat ketimbang permainan bola skala penuh. Dengan tim beranggotakan lima, para pemain dituntut bergerak lebih lincah.
Keunggulan sepak bola terungkap setelah Prof Peter Krustrup dan timnya dari Universitas Kopenhagen melakukan tinjauan riset dan melakukan studi tentang olahraga. Ia bilang, permainan stop-start alamiah dan berkelanjutan dalam sepak bola dapat membangun kebugaran jangka panjang selain juga efektif membakar lemak.
Dengan begitu, risiko seseorang mengidap penyakit jantung akan berkurang karena aktivitas ini membuat tekanan darah dan kolesterol menurun. Sepak bola juga cara yang baik untuk menurunkan berat badan, menurut laporan studi yang melibatkan 50 ilmuwan di tujuh negara itu.
"Sepak bola lebih baik ketimbang angkat berat dan sama baiknya—jika tidak lebih baik—ketimbang berlari oleh karena manfaatnya untuk jantung," ungkap Prof Krustrup.
Berdasarkan hasil riset, ia bahkan mengklaim sepak bola dapat direkomendasikan sebagai bagian dari terapi gangguan jantung seperti tekanan darah tinggi.
"Sepak bola lebih kuat pergaruhnya terhadap sejumlah faktor kardiovaskular seperti pengambilan oksigen, fungsi jantung, tensi darah, kolesterol, dan massa lemak, dibanding latihan beban dan berlari. Kurang gerak adalah faktor risiko penting bagi timbulnya penyakit jantung, tetapi suatu hal baru bahwa olahraga menyenangkan seperti sepak bola efektif mengobati tekanan darah tinggi," ujarnya.
Salah satu dari riset tersebut meneliti 47 pria pengidap tekanan darah tinggi yang diminta berolahraga selama satu jam sebanyak dua kali seminggu selama tiga bulan. Responden dibagi menjadi dua kelompok, yakni yang bermain bola dan berolahraga lari. Mereka yang bermain bola ternyata mengalami penurunan tensi rata-rata sebesar kelompok lari.
Dua kelompok ini pun mengalami jumlah penurunan berat yang sama, tetapi kelompok sepak bola mengalami penurunan kadar kolesterol. Studi lain menemukan bahwa sepak bola juga meningkatkan kepadatan tulang dua kali lebih besar ketimbang lari.
Riset ini sedianya akan dipublikasikan dalam Scandinavian Journal of Medicine and Science in Sports. Para peneliti berencana melakukan studi lanjutan apakah sepak bola lebih sehat ketimbang permainan bola lainnya, seperti bola basket atau voli.
Subscribe to:
Posts (Atom)