Showing posts with label Payudara. Show all posts
Showing posts with label Payudara. Show all posts

Sunday, April 4, 2010

13 Fakta tentang Payudara

Anda merasa tahu banyak tentang bagian tubuh yang Anda anggap paling penting ini? Hm... tunggu dulu. Sebanyak 13 fakta tentang payudara berikut ini mungkin baru Anda dengar saat ini.
1. Payudara memiliki berat rata-rata (bukan sepasang) 498 gram, dan terdiri atas 4-5 persen total lemak tubuh. Nah, tidak mengherankan bila perempuan berpayudara besar cenderung bungkuk karena menahan beban cukup berat di dadanya.

2. Seperti halnya penis, payudara bisa membesar (setidaknya bagian putingnya) bila disentuh.

3. Panjang puting payudara perempuan rata-rata menjadi 0,96 cm ketika ereksi.

4. Rata-rata ukuran payudara perempuan Amerika adalah 36C. Padahal, 15 tahun lalu ukuran rata-ratanya 34B.

5. Perempuan Amerika tampaknya terobsesi dengan payudara besar. Pada tahun 2008 saja, ada 307.230 prosedur implan payudara dilakukan di negara tersebut. Implan payudara menjadi prosedur kosmetik nomor satu, di atas operasi hidung (279.000 kasus), dan sedot lemak (245.000 kasus).
6. Payudara berukuran besar tidak dianggap menarik pada abad pertengahan. Payudara mungil dengan jarak lebar dianggap sempurna saat itu.

7. Rata-rata implan payudara menghabiskan biaya 3.700 dollar. Angka ini hanyalah operasi awal. Perempuan biasanya membutuhkan operasi tambahan untuk memperbaiki keretakan, pergeseran, dan keriput.

8. Sebanyak 20.967 perempuan melakukan operasi untuk mengecilkan payudara mereka kembali pada tahun 2008. Bahkan, pria pun menjalani prosedur breast reduction, tercatat ada 17.902 kasus untuk prosedur tersebut.

9. Anda mungkin hanya mengenal silikon sebagai bahan untuk "menyumpal" payudara. Namun, ahli bedah plastik sudah mencoba berbagai jenis implan dengan hasil yang mengerikan, seperti gading, tulang rawan sapi, karet, hingga poliester.

10. Perempuan yang dikenal memiliki payudara implan terbesar di dunia adalah Sheyla Hershey (30). Saat ini ia mengenakan bra berukuran 38KKK. Silikon cair yang diinjeksikan berkapasitas 10.000 cc. Sheyla memegang rekor Guinness Book of World Records untuk "prestasinya" ini.

11. Anda tidak suka memakai bra? Pindahlah ke negara bagian Maine, Ohio, New York, Texas, dan Hawaii di Amerika. Di sana, topless dilegalkan, meskipun pelakunya bisa saja terjerat hukum karena mengganggu masyarakat. Sementara itu, perempuan yang ketahuan topless di pantai Dubai akan dijebloskan ke penjara selama 6 bulan.

12. Dibandingkan susu sapi, ASI memiliki rasa yang lebih manis, mengandung lebih banyak vitamin E, zat besi, asam lemak, dan lebih sedikit sodium.

13. Untuk mencegah payudara menjadi turun sebelum waktunya, jangan membiasakan diri merokok. Bahan kimia pada rokok akan memecah elastin pada kulit.

KOMPAS.com

13 Fakta tentang Payudara

Anda merasa tahu banyak tentang bagian tubuh yang Anda anggap paling penting ini? Hm... tunggu dulu. Sebanyak 13 fakta tentang payudara berikut ini mungkin baru Anda dengar saat ini.
1. Payudara memiliki berat rata-rata (bukan sepasang) 498 gram, dan terdiri atas 4-5 persen total lemak tubuh. Nah, tidak mengherankan bila perempuan berpayudara besar cenderung bungkuk karena menahan beban cukup berat di dadanya.

2. Seperti halnya penis, payudara bisa membesar (setidaknya bagian putingnya) bila disentuh.

3. Panjang puting payudara perempuan rata-rata menjadi 0,96 cm ketika ereksi.

4. Rata-rata ukuran payudara perempuan Amerika adalah 36C. Padahal, 15 tahun lalu ukuran rata-ratanya 34B.

5. Perempuan Amerika tampaknya terobsesi dengan payudara besar. Pada tahun 2008 saja, ada 307.230 prosedur implan payudara dilakukan di negara tersebut. Implan payudara menjadi prosedur kosmetik nomor satu, di atas operasi hidung (279.000 kasus), dan sedot lemak (245.000 kasus).
6. Payudara berukuran besar tidak dianggap menarik pada abad pertengahan. Payudara mungil dengan jarak lebar dianggap sempurna saat itu.

7. Rata-rata implan payudara menghabiskan biaya 3.700 dollar. Angka ini hanyalah operasi awal. Perempuan biasanya membutuhkan operasi tambahan untuk memperbaiki keretakan, pergeseran, dan keriput.

8. Sebanyak 20.967 perempuan melakukan operasi untuk mengecilkan payudara mereka kembali pada tahun 2008. Bahkan, pria pun menjalani prosedur breast reduction, tercatat ada 17.902 kasus untuk prosedur tersebut.

9. Anda mungkin hanya mengenal silikon sebagai bahan untuk "menyumpal" payudara. Namun, ahli bedah plastik sudah mencoba berbagai jenis implan dengan hasil yang mengerikan, seperti gading, tulang rawan sapi, karet, hingga poliester.

10. Perempuan yang dikenal memiliki payudara implan terbesar di dunia adalah Sheyla Hershey (30). Saat ini ia mengenakan bra berukuran 38KKK. Silikon cair yang diinjeksikan berkapasitas 10.000 cc. Sheyla memegang rekor Guinness Book of World Records untuk "prestasinya" ini.

11. Anda tidak suka memakai bra? Pindahlah ke negara bagian Maine, Ohio, New York, Texas, dan Hawaii di Amerika. Di sana, topless dilegalkan, meskipun pelakunya bisa saja terjerat hukum karena mengganggu masyarakat. Sementara itu, perempuan yang ketahuan topless di pantai Dubai akan dijebloskan ke penjara selama 6 bulan.

12. Dibandingkan susu sapi, ASI memiliki rasa yang lebih manis, mengandung lebih banyak vitamin E, zat besi, asam lemak, dan lebih sedikit sodium.

13. Untuk mencegah payudara menjadi turun sebelum waktunya, jangan membiasakan diri merokok. Bahan kimia pada rokok akan memecah elastin pada kulit.

KOMPAS.com

Monday, March 29, 2010

Mengenal Benjolan di Payudara

Kendati mayoritas benjolan di payudara tidak bersifat kanker, semua benjolan hendaknya dianggap serius sampai benar-benar dinyatakan itu bukan kanker. Berikut beberapa jenis benjolan yang umum terjadi di payudara.

Kista
Kista adalah benjolan di payudara yang muncul di akhir siklus haid dan umumnya tidak berbahaya. Setelah masa haid, jenis benjolan ini biasanya menghilang. Kista payudara adalah kantong berisi cairan yang cenderung membesar di akhir siklus haid ketika tubuh menahan lebih banyak cairan.

Ukuran kista ada yang kecil dan ada yang besar sampai sebesar telur. Kalau dipijat, kista bisa sedikit berubah bentuk dan sebagian besar bisa bergerak di bawah kulit. Kista juga bisa muncul pada usia 40 tahunan, beberapa tahun sebelum memasuki masa menopause.

Fibroadenoma
Fibroadenoma adalah gumpalan payudara yang bukan kista maupun kanker. Tumor jinak ini paling sering berkembang pada tahun-tahun pertengahan usia produktif (masih bisa melahirkan). Fibroadenoma terasa seperti massa yang padat, licin, kuat, dan elastis, dengan bentuk yang jelas. Fibroadenoma berkembang ketika jaringan ikat bertumbuh di dalam kelenjar atau lobule payudara.

Benjolan lainnya
Jenis lain dari benjolan payudara termasuk yang disebabkan infeksi atau perdarahan akibat cedera. Benjolan yang disebabkan tumor atau jaringan berlemak disebut lipoma. Benjolan di payudara juga bisa disebabkan adanya papiloma intraduktal, terutama jika ini menyumbat saluran sehingga menimbulkan kista. Semua kondisi ini tidak bersifat kanker.

Untuk memastikan apakah benjolan pada payudara berbahaya atau tidak, dokter akan memeriksa menggunakan ultrasonografi dan mamografi. Pada benjolan tunggal yang terasa seperti kista, dokter mungkin akan menyedot cairan dari dalamnya dengan menggunakan jarum halus. Jika cairannya bisa disedot dan benjolannya kemudian menghilang, ini mengindikasikan benjolan itu adalah sebuah kista.

Kompas.com

Mengenal Benjolan di Payudara

Kendati mayoritas benjolan di payudara tidak bersifat kanker, semua benjolan hendaknya dianggap serius sampai benar-benar dinyatakan itu bukan kanker. Berikut beberapa jenis benjolan yang umum terjadi di payudara.

Kista
Kista adalah benjolan di payudara yang muncul di akhir siklus haid dan umumnya tidak berbahaya. Setelah masa haid, jenis benjolan ini biasanya menghilang. Kista payudara adalah kantong berisi cairan yang cenderung membesar di akhir siklus haid ketika tubuh menahan lebih banyak cairan.

Ukuran kista ada yang kecil dan ada yang besar sampai sebesar telur. Kalau dipijat, kista bisa sedikit berubah bentuk dan sebagian besar bisa bergerak di bawah kulit. Kista juga bisa muncul pada usia 40 tahunan, beberapa tahun sebelum memasuki masa menopause.

Fibroadenoma
Fibroadenoma adalah gumpalan payudara yang bukan kista maupun kanker. Tumor jinak ini paling sering berkembang pada tahun-tahun pertengahan usia produktif (masih bisa melahirkan). Fibroadenoma terasa seperti massa yang padat, licin, kuat, dan elastis, dengan bentuk yang jelas. Fibroadenoma berkembang ketika jaringan ikat bertumbuh di dalam kelenjar atau lobule payudara.

Benjolan lainnya
Jenis lain dari benjolan payudara termasuk yang disebabkan infeksi atau perdarahan akibat cedera. Benjolan yang disebabkan tumor atau jaringan berlemak disebut lipoma. Benjolan di payudara juga bisa disebabkan adanya papiloma intraduktal, terutama jika ini menyumbat saluran sehingga menimbulkan kista. Semua kondisi ini tidak bersifat kanker.

Untuk memastikan apakah benjolan pada payudara berbahaya atau tidak, dokter akan memeriksa menggunakan ultrasonografi dan mamografi. Pada benjolan tunggal yang terasa seperti kista, dokter mungkin akan menyedot cairan dari dalamnya dengan menggunakan jarum halus. Jika cairannya bisa disedot dan benjolannya kemudian menghilang, ini mengindikasikan benjolan itu adalah sebuah kista.

Kompas.com

Friday, March 26, 2010

Kehamilan Aman untuk Pasien KankerPayudara

Kompas.com - Kini ada harapan bagi pasien kanker payudara yang telah sembuh (survivor) untuk memiliki buah hati. Penelitian menunjukkan kehamilan cukup aman untuk para survivor kanker payudara.

Dahulu para dokter mengkhawatirkan terjadinya perubahan hormon akibat kehamilan yang bisa memicu kembalinya sel kanker. Itu sebabnya banyak dokter yang tidak menyarankan para survivor untuk hamil.

Dalam hasil penelitian yang dipresentasikan dalam European Breast Cancer Conference di Barcelona, Spanyol, Jumat (26/3), para ahli mengatakan kehamilan bagi survivor kanker payudara adalah aman dan diyakini tidak berkaitan dengan kekambuhan penyakit.

Dalam penelitiannya, Dr.Hatem Azim dari Institute Jules Bordet, Belgia yang menganalisa 14 studi yang melibatkan 1.400 wanita hamil dengan riwayat kanker payudara menemukan, sebagian besar wanita bisa hamil beberapa bulan atau tahun setelah menjalani terapi pengobatan kanker. Azim dan timnya membandingkan kelompok wanita tersebut dengan 18.000 survivor yang tidak hamil.

"Kami berharap hasil studi ini mengubah saran dokter kepada pasien. Tidak ada alasan untuk mencegah para survivor untuk hamil," ujar Azim.

Hasil studi Azim juga menemukan, survivor yang hamil memiliki risiko 42 persen lebih rendah untuk meninggal dibanding dengan survivor yang tidak hamil. Hal tersebut diduga karena sebagian besar wanita memang secara alami menjadi lebih sehat saat sedang hamil.

Menanggapi studi tersebut para pakar memberikan catatan bahwa kehamilan yang sehat untuk para survivor tergantung pada tipe kanker dan berapa lama terapi pengobatan yang dijalani. Mereka yang melakukan terapi hormon untuk kanker payudara secara umum perlu waktu lima tahun untuk hamil.

Para wanita juga sebaiknya menunggu waktu dua tahun setelah diagnosis kanker untuk hamil. "Dua tahun adalah periode yang beresiko tinggi kekambuhan sel kanker," kata Maria Leadbater, ahli kanker payudara dari Inggris.

Azim mengatakan, hubungan antara hormon dan kanker payudara lebih rumit daripada yang selama ini diketahui. Estrogen memang jadi pemicu kanker payudara dan saat hamil tubuh seorang wanita memproduksi lebih banyak estrogen. Namun, hormon estrogen dalam jumlah sangat tinggi juga bisa membunuh sel kanker.

Hormon lain yang diproduksi tubuh saat kehamilan, seperti hormon untuk menghasilkan ASI, telah terbukti melindungi tubuh dari sel kanker payudara.

Kehamilan Aman untuk Pasien KankerPayudara

Kompas.com - Kini ada harapan bagi pasien kanker payudara yang telah sembuh (survivor) untuk memiliki buah hati. Penelitian menunjukkan kehamilan cukup aman untuk para survivor kanker payudara.

Dahulu para dokter mengkhawatirkan terjadinya perubahan hormon akibat kehamilan yang bisa memicu kembalinya sel kanker. Itu sebabnya banyak dokter yang tidak menyarankan para survivor untuk hamil.

Dalam hasil penelitian yang dipresentasikan dalam European Breast Cancer Conference di Barcelona, Spanyol, Jumat (26/3), para ahli mengatakan kehamilan bagi survivor kanker payudara adalah aman dan diyakini tidak berkaitan dengan kekambuhan penyakit.

Dalam penelitiannya, Dr.Hatem Azim dari Institute Jules Bordet, Belgia yang menganalisa 14 studi yang melibatkan 1.400 wanita hamil dengan riwayat kanker payudara menemukan, sebagian besar wanita bisa hamil beberapa bulan atau tahun setelah menjalani terapi pengobatan kanker. Azim dan timnya membandingkan kelompok wanita tersebut dengan 18.000 survivor yang tidak hamil.

"Kami berharap hasil studi ini mengubah saran dokter kepada pasien. Tidak ada alasan untuk mencegah para survivor untuk hamil," ujar Azim.

Hasil studi Azim juga menemukan, survivor yang hamil memiliki risiko 42 persen lebih rendah untuk meninggal dibanding dengan survivor yang tidak hamil. Hal tersebut diduga karena sebagian besar wanita memang secara alami menjadi lebih sehat saat sedang hamil.

Menanggapi studi tersebut para pakar memberikan catatan bahwa kehamilan yang sehat untuk para survivor tergantung pada tipe kanker dan berapa lama terapi pengobatan yang dijalani. Mereka yang melakukan terapi hormon untuk kanker payudara secara umum perlu waktu lima tahun untuk hamil.

Para wanita juga sebaiknya menunggu waktu dua tahun setelah diagnosis kanker untuk hamil. "Dua tahun adalah periode yang beresiko tinggi kekambuhan sel kanker," kata Maria Leadbater, ahli kanker payudara dari Inggris.

Azim mengatakan, hubungan antara hormon dan kanker payudara lebih rumit daripada yang selama ini diketahui. Estrogen memang jadi pemicu kanker payudara dan saat hamil tubuh seorang wanita memproduksi lebih banyak estrogen. Namun, hormon estrogen dalam jumlah sangat tinggi juga bisa membunuh sel kanker.

Hormon lain yang diproduksi tubuh saat kehamilan, seperti hormon untuk menghasilkan ASI, telah terbukti melindungi tubuh dari sel kanker payudara.

Kanker Payudara Bisa Dicegah

Kompas.com - Lebih dari sepertiga kasus kanker payudara sebenarnya tidak harus terjadi bila seorang wanita mau berolahraga lebih sering dan mengurangi konsumsi makanan berlemak. Demikian peringatan yang disampaikan para pakar kesehatan.

Terapi pengobatan yang lebih canggih, deteksi dini dan skrining mamogram memang secara dramatis mampu memperlambat kanker, tetapi fokus yang harus dikampanyekan adalah tindakan pencegahan lewat perubahan gaya hidup.

"Apa yang bisa dicapai secara maksimal oleh tindakan skrining telah tercapai. Kita tidak bisa melakukan lebih. Inilah saatnya untuk pindah pada hal lain, yakni perubahan gaya hidup," kata Carlo La Vecchia, kepala divisi epidemiologi dari University of Milan.

La Vecchia mengatakan hal tersebut dalam konferensi European Breast Cancer di Barcelona, Spanyol, Selasa (24/3). Menurut International Agency for Research on Cancer, lembaga di bawah WHO, 25-30 persen kasus kanker dapat dicegah.

Dr.Michelle Holmes dari Harvard University, yang pernah melakukan studi mengenai kanker dan gaya hidup, mengatakan selama ini orang lebih sering mengaitkan kanker dengan faktor genetik dibanding gaya hidup.

"Gen telah ada sejak ribuan tahun, namun makin lama kasus kanker terus meningkat. Tentu ini tak ada kaitannya dengan gen," kata Holmes.

Para ahli menemukan mayoritas kanker payudara mendapat bahan bakar dari estrogen, hormon yang diproduksi oleh jaringan lemak. Oleh sebab itu para ahli menduga, semakin gemuk seseorang, makin banyak estrogen yang diproduksinya sehingga bisa memberi bahan bakar bagi kanker. Bahkan pada wanita kurus, para ahli yakin olahraga bisa membantu mengurangi risiko kanker karena lemak bisa diubah menjadi otot.

Ketua Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta, ahli bedah onkologi Sutjipto, dalam suatu kesempatan pernah mengatakan kanker payudara kini makin mengarah pada wanita muda. Jika 20 tahun lalu kanker ini lebih banyak menyerang wanita di atas usia 50 tahun, sekarang banyak wanita berusia di bawah 30 tahun yang terkena kanker payudara.

Gaya hidup, termasuk pola makan, kebiasaan merokok, kurang olahraga, termasuk stres dalam menjalani kehidupan sehari-haari, bisa menjadi salah satu penyebab kanker payudara.

Kanker Payudara Bisa Dicegah

Kompas.com - Lebih dari sepertiga kasus kanker payudara sebenarnya tidak harus terjadi bila seorang wanita mau berolahraga lebih sering dan mengurangi konsumsi makanan berlemak. Demikian peringatan yang disampaikan para pakar kesehatan.

Terapi pengobatan yang lebih canggih, deteksi dini dan skrining mamogram memang secara dramatis mampu memperlambat kanker, tetapi fokus yang harus dikampanyekan adalah tindakan pencegahan lewat perubahan gaya hidup.

"Apa yang bisa dicapai secara maksimal oleh tindakan skrining telah tercapai. Kita tidak bisa melakukan lebih. Inilah saatnya untuk pindah pada hal lain, yakni perubahan gaya hidup," kata Carlo La Vecchia, kepala divisi epidemiologi dari University of Milan.

La Vecchia mengatakan hal tersebut dalam konferensi European Breast Cancer di Barcelona, Spanyol, Selasa (24/3). Menurut International Agency for Research on Cancer, lembaga di bawah WHO, 25-30 persen kasus kanker dapat dicegah.

Dr.Michelle Holmes dari Harvard University, yang pernah melakukan studi mengenai kanker dan gaya hidup, mengatakan selama ini orang lebih sering mengaitkan kanker dengan faktor genetik dibanding gaya hidup.

"Gen telah ada sejak ribuan tahun, namun makin lama kasus kanker terus meningkat. Tentu ini tak ada kaitannya dengan gen," kata Holmes.

Para ahli menemukan mayoritas kanker payudara mendapat bahan bakar dari estrogen, hormon yang diproduksi oleh jaringan lemak. Oleh sebab itu para ahli menduga, semakin gemuk seseorang, makin banyak estrogen yang diproduksinya sehingga bisa memberi bahan bakar bagi kanker. Bahkan pada wanita kurus, para ahli yakin olahraga bisa membantu mengurangi risiko kanker karena lemak bisa diubah menjadi otot.

Ketua Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta, ahli bedah onkologi Sutjipto, dalam suatu kesempatan pernah mengatakan kanker payudara kini makin mengarah pada wanita muda. Jika 20 tahun lalu kanker ini lebih banyak menyerang wanita di atas usia 50 tahun, sekarang banyak wanita berusia di bawah 30 tahun yang terkena kanker payudara.

Gaya hidup, termasuk pola makan, kebiasaan merokok, kurang olahraga, termasuk stres dalam menjalani kehidupan sehari-haari, bisa menjadi salah satu penyebab kanker payudara.

Thursday, March 25, 2010

Operasi Implan Payudara Bisa Hilangkan Sensasi di Daerah Puting

OkeZone.com - DENGAN berbagai alasan dan kepentingan, kini lebih banyak wanita memilih operasi implan payudara. Apa pun motivasi di balik keputusan operasi implan, penting bahwa semua wanita punya pemahaman yang lebih baik mengenai efek samping implan payudara.

Efek samping umumnya berkisar dari masalah menyusui hingga menanamkan kebocoran. Kalau saja Anda tahu apa yang sebenarnya terjadi selama operasi implan, Anda akan bisa mendapatkan gambaran yang jelas mengenai apa sebenarnya yang harus dilakukan.

Mayoritas wanita yang telah menjalani implan payudara dapat menyusui bayi mereka berhasil. Tetapi angkanya sangat sedikit, yang banyak justru kenyataan sebaliknya. Operasi implan memberi dampak negatif bagi aktivitas ibu menyusui. Karenanya, sangat dianjurkan untuk konsultasi dengan dokter bedah plastik tentang rencana Anda menyusui anak sebelum prosedur operasi dijalani.

Kemungkinan risiko lain dari operasi implan payudara adalah menghalangi deteksi normal kanker payudara. Meski mamografi, X-ray, atau bahkan pemindaian USG dilakukan, implan tetap bisa menyembunyikan tumor atau lesi mencurigakan. Penting bagi para dokter untuk memberi perhatian khusus terhadap pemeriksaan payudara pada pasien operasi implan. Jika perlu, dianjurkan bagi Anda untuk mendiskusikan dengan ahli radiologi untuk memanfaatkan teknik-teknik pencitraan khusus, seperti Eklund displacement views (EH-klund dis-PLAYS-ment VYOOZ).

Sejumlah metode pencitraan membantu memaksimalkan ukuran jaringan payudara yang dianalisa. Dengan demikian, menjadi lebih mudah untuk mendeteksi keberadaan tumor atau lesi.

Setelah operasi implan payudara dilakukan, beberapa wanita ditemukan mengalami hilangnya sensasi di daerah sekitar puting. Kehilangan sensasi ini terutama disebabkan oleh kerusakan yang mungkin terjadi pada ujung saraf yang mengelilingi daerah payudara dan puting payudara.

Dalam kebanyakan kasus, hilangnya sensasi sementara akibat proses perubahan sementara akan membaik secara alami seiring berlalunya waktu. Namun, beberapa pasien menderita kehilangan sensasi permanen sensasi setelah operasi implan. Komplikasi pada umumnya didasarkan pada modus pilihan operasi implan. Juga harus diingat bahwa tidak ada implan yang akan bertahan selamanya.

Operasi Implan Payudara Bisa Hilangkan Sensasi di Daerah Puting

OkeZone.com - DENGAN berbagai alasan dan kepentingan, kini lebih banyak wanita memilih operasi implan payudara. Apa pun motivasi di balik keputusan operasi implan, penting bahwa semua wanita punya pemahaman yang lebih baik mengenai efek samping implan payudara.

Efek samping umumnya berkisar dari masalah menyusui hingga menanamkan kebocoran. Kalau saja Anda tahu apa yang sebenarnya terjadi selama operasi implan, Anda akan bisa mendapatkan gambaran yang jelas mengenai apa sebenarnya yang harus dilakukan.

Mayoritas wanita yang telah menjalani implan payudara dapat menyusui bayi mereka berhasil. Tetapi angkanya sangat sedikit, yang banyak justru kenyataan sebaliknya. Operasi implan memberi dampak negatif bagi aktivitas ibu menyusui. Karenanya, sangat dianjurkan untuk konsultasi dengan dokter bedah plastik tentang rencana Anda menyusui anak sebelum prosedur operasi dijalani.

Kemungkinan risiko lain dari operasi implan payudara adalah menghalangi deteksi normal kanker payudara. Meski mamografi, X-ray, atau bahkan pemindaian USG dilakukan, implan tetap bisa menyembunyikan tumor atau lesi mencurigakan. Penting bagi para dokter untuk memberi perhatian khusus terhadap pemeriksaan payudara pada pasien operasi implan. Jika perlu, dianjurkan bagi Anda untuk mendiskusikan dengan ahli radiologi untuk memanfaatkan teknik-teknik pencitraan khusus, seperti Eklund displacement views (EH-klund dis-PLAYS-ment VYOOZ).

Sejumlah metode pencitraan membantu memaksimalkan ukuran jaringan payudara yang dianalisa. Dengan demikian, menjadi lebih mudah untuk mendeteksi keberadaan tumor atau lesi.

Setelah operasi implan payudara dilakukan, beberapa wanita ditemukan mengalami hilangnya sensasi di daerah sekitar puting. Kehilangan sensasi ini terutama disebabkan oleh kerusakan yang mungkin terjadi pada ujung saraf yang mengelilingi daerah payudara dan puting payudara.

Dalam kebanyakan kasus, hilangnya sensasi sementara akibat proses perubahan sementara akan membaik secara alami seiring berlalunya waktu. Namun, beberapa pasien menderita kehilangan sensasi permanen sensasi setelah operasi implan. Komplikasi pada umumnya didasarkan pada modus pilihan operasi implan. Juga harus diingat bahwa tidak ada implan yang akan bertahan selamanya.

Tuesday, March 23, 2010

Waspada, Kanker Payudara pun Menyerang Saat Kehamilan

KOMPAS.com- Kehamilan dan laktasi merupakan dua hal yang tidak terpisahkan dari diri seorang perempuan. Kehamilan sendiri seringkali dipandang sebagai masa di mana seorang perempuan menganggap dirinya sebagai calon ibu dan akan sangat menjaga kesehatannya sehingga kemungkinan bahwa ia terkena kanker sangatlah jauh dari pemikirannya.

Meskipun jarang,  diagnosis kanker payudara merupakan penyebab kematian akibat kanker nomor dua setelah kanker serviks sebagai kanker yang paling sering didapatkan semasa kehamilan dan juga pada masa persalinan.

Dalam beberapa studi, perempuan yang terpapar dengan kadar estrogen yang tinggi dalam kurun waktu yang lama diperkirakan mempunyai risiko lebih tinggi untuk terkena kanker payudara.

Ini termasuk untuk perempuan yang mempunyai masa menstruasi lebih lama, permulaan menstruasi sebelum usia 12 atau pada mereka yang baru mengalami menopause setelah usia 55 tahun.

Beberapa studi menyatakan laktasi yang dilakukan hingga kurun waktu 1½ hingga 2 tahun bisa mengurangi risiko kanker payudara atau pada mereka yang mempunyai anak banyak sehingga sering menyusui anaknya.

Perubahan hormonal dan imunologi yang terjadi pada saat kehamilan sering diasumsikan sebagai salah satu penyebab pertumbuhan sel kanker payudara, akan tetapi hal ini masih menjadi kontroversi karena masih banyak studi yang belum berhasil membuktikannya. Hal ini disebabkan tidak adanya perbedaan insiden dari kanker payudara pada perempuan hamil dan tidak hamil pada populasi umum.

Alasan mengapa kehamilan dan laktasi berpengaruh terhadap risiko kanker payudara? Mungkin disebabkan karena kurangnya siklus menstruasi selama hidupnya,  tetapi ada sebuah informasi baru yang menyatakan bahwa hal ini juga berkaitan dengan adanya kadar hormon lain yaitu prolaktin.

Sebuah studi pada 2008 menunjukkan bahwa perempuan yang menyusui bayinya hingga satu tahun bahkan lebih mempunyai kadar prolaktin yang rendah hingga seumur hidupnya meskipun mereka tak lagi menyusui. Hal ini juga diperkirakan berpengaruh terhadap risiko kanker payudara, akan tetapi hal ini masih harus ditelusuri lebih lanjut.

dr.Intan Airlina Febiliawanti

Waspada, Kanker Payudara pun Menyerang Saat Kehamilan

KOMPAS.com- Kehamilan dan laktasi merupakan dua hal yang tidak terpisahkan dari diri seorang perempuan. Kehamilan sendiri seringkali dipandang sebagai masa di mana seorang perempuan menganggap dirinya sebagai calon ibu dan akan sangat menjaga kesehatannya sehingga kemungkinan bahwa ia terkena kanker sangatlah jauh dari pemikirannya.

Meskipun jarang,  diagnosis kanker payudara merupakan penyebab kematian akibat kanker nomor dua setelah kanker serviks sebagai kanker yang paling sering didapatkan semasa kehamilan dan juga pada masa persalinan.

Dalam beberapa studi, perempuan yang terpapar dengan kadar estrogen yang tinggi dalam kurun waktu yang lama diperkirakan mempunyai risiko lebih tinggi untuk terkena kanker payudara.

Ini termasuk untuk perempuan yang mempunyai masa menstruasi lebih lama, permulaan menstruasi sebelum usia 12 atau pada mereka yang baru mengalami menopause setelah usia 55 tahun.

Beberapa studi menyatakan laktasi yang dilakukan hingga kurun waktu 1½ hingga 2 tahun bisa mengurangi risiko kanker payudara atau pada mereka yang mempunyai anak banyak sehingga sering menyusui anaknya.

Perubahan hormonal dan imunologi yang terjadi pada saat kehamilan sering diasumsikan sebagai salah satu penyebab pertumbuhan sel kanker payudara, akan tetapi hal ini masih menjadi kontroversi karena masih banyak studi yang belum berhasil membuktikannya. Hal ini disebabkan tidak adanya perbedaan insiden dari kanker payudara pada perempuan hamil dan tidak hamil pada populasi umum.

Alasan mengapa kehamilan dan laktasi berpengaruh terhadap risiko kanker payudara? Mungkin disebabkan karena kurangnya siklus menstruasi selama hidupnya,  tetapi ada sebuah informasi baru yang menyatakan bahwa hal ini juga berkaitan dengan adanya kadar hormon lain yaitu prolaktin.

Sebuah studi pada 2008 menunjukkan bahwa perempuan yang menyusui bayinya hingga satu tahun bahkan lebih mempunyai kadar prolaktin yang rendah hingga seumur hidupnya meskipun mereka tak lagi menyusui. Hal ini juga diperkirakan berpengaruh terhadap risiko kanker payudara, akan tetapi hal ini masih harus ditelusuri lebih lanjut.

dr.Intan Airlina Febiliawanti