Kompas.com - Kini ada harapan bagi pasien kanker payudara yang telah sembuh (survivor) untuk memiliki buah hati. Penelitian menunjukkan kehamilan cukup aman untuk para survivor kanker payudara.
Dahulu para dokter mengkhawatirkan terjadinya perubahan hormon akibat kehamilan yang bisa memicu kembalinya sel kanker. Itu sebabnya banyak dokter yang tidak menyarankan para survivor untuk hamil.
Dalam hasil penelitian yang dipresentasikan dalam European Breast Cancer Conference di Barcelona, Spanyol, Jumat (26/3), para ahli mengatakan kehamilan bagi survivor kanker payudara adalah aman dan diyakini tidak berkaitan dengan kekambuhan penyakit.
Dalam penelitiannya, Dr.Hatem Azim dari Institute Jules Bordet, Belgia yang menganalisa 14 studi yang melibatkan 1.400 wanita hamil dengan riwayat kanker payudara menemukan, sebagian besar wanita bisa hamil beberapa bulan atau tahun setelah menjalani terapi pengobatan kanker. Azim dan timnya membandingkan kelompok wanita tersebut dengan 18.000 survivor yang tidak hamil.
"Kami berharap hasil studi ini mengubah saran dokter kepada pasien. Tidak ada alasan untuk mencegah para survivor untuk hamil," ujar Azim.
Hasil studi Azim juga menemukan, survivor yang hamil memiliki risiko 42 persen lebih rendah untuk meninggal dibanding dengan survivor yang tidak hamil. Hal tersebut diduga karena sebagian besar wanita memang secara alami menjadi lebih sehat saat sedang hamil.
Menanggapi studi tersebut para pakar memberikan catatan bahwa kehamilan yang sehat untuk para survivor tergantung pada tipe kanker dan berapa lama terapi pengobatan yang dijalani. Mereka yang melakukan terapi hormon untuk kanker payudara secara umum perlu waktu lima tahun untuk hamil.
Para wanita juga sebaiknya menunggu waktu dua tahun setelah diagnosis kanker untuk hamil. "Dua tahun adalah periode yang beresiko tinggi kekambuhan sel kanker," kata Maria Leadbater, ahli kanker payudara dari Inggris.
Azim mengatakan, hubungan antara hormon dan kanker payudara lebih rumit daripada yang selama ini diketahui. Estrogen memang jadi pemicu kanker payudara dan saat hamil tubuh seorang wanita memproduksi lebih banyak estrogen. Namun, hormon estrogen dalam jumlah sangat tinggi juga bisa membunuh sel kanker.
Hormon lain yang diproduksi tubuh saat kehamilan, seperti hormon untuk menghasilkan ASI, telah terbukti melindungi tubuh dari sel kanker payudara.
Showing posts with label Kehamilan. Show all posts
Showing posts with label Kehamilan. Show all posts
Friday, March 26, 2010
Kehamilan Aman untuk Pasien KankerPayudara
Kompas.com - Kini ada harapan bagi pasien kanker payudara yang telah sembuh (survivor) untuk memiliki buah hati. Penelitian menunjukkan kehamilan cukup aman untuk para survivor kanker payudara.
Dahulu para dokter mengkhawatirkan terjadinya perubahan hormon akibat kehamilan yang bisa memicu kembalinya sel kanker. Itu sebabnya banyak dokter yang tidak menyarankan para survivor untuk hamil.
Dalam hasil penelitian yang dipresentasikan dalam European Breast Cancer Conference di Barcelona, Spanyol, Jumat (26/3), para ahli mengatakan kehamilan bagi survivor kanker payudara adalah aman dan diyakini tidak berkaitan dengan kekambuhan penyakit.
Dalam penelitiannya, Dr.Hatem Azim dari Institute Jules Bordet, Belgia yang menganalisa 14 studi yang melibatkan 1.400 wanita hamil dengan riwayat kanker payudara menemukan, sebagian besar wanita bisa hamil beberapa bulan atau tahun setelah menjalani terapi pengobatan kanker. Azim dan timnya membandingkan kelompok wanita tersebut dengan 18.000 survivor yang tidak hamil.
"Kami berharap hasil studi ini mengubah saran dokter kepada pasien. Tidak ada alasan untuk mencegah para survivor untuk hamil," ujar Azim.
Hasil studi Azim juga menemukan, survivor yang hamil memiliki risiko 42 persen lebih rendah untuk meninggal dibanding dengan survivor yang tidak hamil. Hal tersebut diduga karena sebagian besar wanita memang secara alami menjadi lebih sehat saat sedang hamil.
Menanggapi studi tersebut para pakar memberikan catatan bahwa kehamilan yang sehat untuk para survivor tergantung pada tipe kanker dan berapa lama terapi pengobatan yang dijalani. Mereka yang melakukan terapi hormon untuk kanker payudara secara umum perlu waktu lima tahun untuk hamil.
Para wanita juga sebaiknya menunggu waktu dua tahun setelah diagnosis kanker untuk hamil. "Dua tahun adalah periode yang beresiko tinggi kekambuhan sel kanker," kata Maria Leadbater, ahli kanker payudara dari Inggris.
Azim mengatakan, hubungan antara hormon dan kanker payudara lebih rumit daripada yang selama ini diketahui. Estrogen memang jadi pemicu kanker payudara dan saat hamil tubuh seorang wanita memproduksi lebih banyak estrogen. Namun, hormon estrogen dalam jumlah sangat tinggi juga bisa membunuh sel kanker.
Hormon lain yang diproduksi tubuh saat kehamilan, seperti hormon untuk menghasilkan ASI, telah terbukti melindungi tubuh dari sel kanker payudara.
Dahulu para dokter mengkhawatirkan terjadinya perubahan hormon akibat kehamilan yang bisa memicu kembalinya sel kanker. Itu sebabnya banyak dokter yang tidak menyarankan para survivor untuk hamil.
Dalam hasil penelitian yang dipresentasikan dalam European Breast Cancer Conference di Barcelona, Spanyol, Jumat (26/3), para ahli mengatakan kehamilan bagi survivor kanker payudara adalah aman dan diyakini tidak berkaitan dengan kekambuhan penyakit.
Dalam penelitiannya, Dr.Hatem Azim dari Institute Jules Bordet, Belgia yang menganalisa 14 studi yang melibatkan 1.400 wanita hamil dengan riwayat kanker payudara menemukan, sebagian besar wanita bisa hamil beberapa bulan atau tahun setelah menjalani terapi pengobatan kanker. Azim dan timnya membandingkan kelompok wanita tersebut dengan 18.000 survivor yang tidak hamil.
"Kami berharap hasil studi ini mengubah saran dokter kepada pasien. Tidak ada alasan untuk mencegah para survivor untuk hamil," ujar Azim.
Hasil studi Azim juga menemukan, survivor yang hamil memiliki risiko 42 persen lebih rendah untuk meninggal dibanding dengan survivor yang tidak hamil. Hal tersebut diduga karena sebagian besar wanita memang secara alami menjadi lebih sehat saat sedang hamil.
Menanggapi studi tersebut para pakar memberikan catatan bahwa kehamilan yang sehat untuk para survivor tergantung pada tipe kanker dan berapa lama terapi pengobatan yang dijalani. Mereka yang melakukan terapi hormon untuk kanker payudara secara umum perlu waktu lima tahun untuk hamil.
Para wanita juga sebaiknya menunggu waktu dua tahun setelah diagnosis kanker untuk hamil. "Dua tahun adalah periode yang beresiko tinggi kekambuhan sel kanker," kata Maria Leadbater, ahli kanker payudara dari Inggris.
Azim mengatakan, hubungan antara hormon dan kanker payudara lebih rumit daripada yang selama ini diketahui. Estrogen memang jadi pemicu kanker payudara dan saat hamil tubuh seorang wanita memproduksi lebih banyak estrogen. Namun, hormon estrogen dalam jumlah sangat tinggi juga bisa membunuh sel kanker.
Hormon lain yang diproduksi tubuh saat kehamilan, seperti hormon untuk menghasilkan ASI, telah terbukti melindungi tubuh dari sel kanker payudara.
Labels:
Aman,
Kanker,
KankerPayudara,
Kehamilan,
kesehatan,
Pasien,
Pasien Kanker,
Payudara,
untuk
Tuesday, March 23, 2010
Waspada, Kanker Payudara pun Menyerang Saat Kehamilan
KOMPAS.com- Kehamilan dan laktasi merupakan dua hal yang tidak terpisahkan dari diri seorang perempuan. Kehamilan sendiri seringkali dipandang sebagai masa di mana seorang perempuan menganggap dirinya sebagai calon ibu dan akan sangat menjaga kesehatannya sehingga kemungkinan bahwa ia terkena kanker sangatlah jauh dari pemikirannya.
Meskipun jarang, diagnosis kanker payudara merupakan penyebab kematian akibat kanker nomor dua setelah kanker serviks sebagai kanker yang paling sering didapatkan semasa kehamilan dan juga pada masa persalinan.
Dalam beberapa studi, perempuan yang terpapar dengan kadar estrogen yang tinggi dalam kurun waktu yang lama diperkirakan mempunyai risiko lebih tinggi untuk terkena kanker payudara.
Ini termasuk untuk perempuan yang mempunyai masa menstruasi lebih lama, permulaan menstruasi sebelum usia 12 atau pada mereka yang baru mengalami menopause setelah usia 55 tahun.
Beberapa studi menyatakan laktasi yang dilakukan hingga kurun waktu 1½ hingga 2 tahun bisa mengurangi risiko kanker payudara atau pada mereka yang mempunyai anak banyak sehingga sering menyusui anaknya.
Perubahan hormonal dan imunologi yang terjadi pada saat kehamilan sering diasumsikan sebagai salah satu penyebab pertumbuhan sel kanker payudara, akan tetapi hal ini masih menjadi kontroversi karena masih banyak studi yang belum berhasil membuktikannya. Hal ini disebabkan tidak adanya perbedaan insiden dari kanker payudara pada perempuan hamil dan tidak hamil pada populasi umum.
Alasan mengapa kehamilan dan laktasi berpengaruh terhadap risiko kanker payudara? Mungkin disebabkan karena kurangnya siklus menstruasi selama hidupnya, tetapi ada sebuah informasi baru yang menyatakan bahwa hal ini juga berkaitan dengan adanya kadar hormon lain yaitu prolaktin.
Sebuah studi pada 2008 menunjukkan bahwa perempuan yang menyusui bayinya hingga satu tahun bahkan lebih mempunyai kadar prolaktin yang rendah hingga seumur hidupnya meskipun mereka tak lagi menyusui. Hal ini juga diperkirakan berpengaruh terhadap risiko kanker payudara, akan tetapi hal ini masih harus ditelusuri lebih lanjut.
dr.Intan Airlina Febiliawanti
Meskipun jarang, diagnosis kanker payudara merupakan penyebab kematian akibat kanker nomor dua setelah kanker serviks sebagai kanker yang paling sering didapatkan semasa kehamilan dan juga pada masa persalinan.
Dalam beberapa studi, perempuan yang terpapar dengan kadar estrogen yang tinggi dalam kurun waktu yang lama diperkirakan mempunyai risiko lebih tinggi untuk terkena kanker payudara.
Ini termasuk untuk perempuan yang mempunyai masa menstruasi lebih lama, permulaan menstruasi sebelum usia 12 atau pada mereka yang baru mengalami menopause setelah usia 55 tahun.
Beberapa studi menyatakan laktasi yang dilakukan hingga kurun waktu 1½ hingga 2 tahun bisa mengurangi risiko kanker payudara atau pada mereka yang mempunyai anak banyak sehingga sering menyusui anaknya.
Perubahan hormonal dan imunologi yang terjadi pada saat kehamilan sering diasumsikan sebagai salah satu penyebab pertumbuhan sel kanker payudara, akan tetapi hal ini masih menjadi kontroversi karena masih banyak studi yang belum berhasil membuktikannya. Hal ini disebabkan tidak adanya perbedaan insiden dari kanker payudara pada perempuan hamil dan tidak hamil pada populasi umum.
Alasan mengapa kehamilan dan laktasi berpengaruh terhadap risiko kanker payudara? Mungkin disebabkan karena kurangnya siklus menstruasi selama hidupnya, tetapi ada sebuah informasi baru yang menyatakan bahwa hal ini juga berkaitan dengan adanya kadar hormon lain yaitu prolaktin.
Sebuah studi pada 2008 menunjukkan bahwa perempuan yang menyusui bayinya hingga satu tahun bahkan lebih mempunyai kadar prolaktin yang rendah hingga seumur hidupnya meskipun mereka tak lagi menyusui. Hal ini juga diperkirakan berpengaruh terhadap risiko kanker payudara, akan tetapi hal ini masih harus ditelusuri lebih lanjut.
dr.Intan Airlina Febiliawanti
Waspada, Kanker Payudara pun Menyerang Saat Kehamilan
KOMPAS.com- Kehamilan dan laktasi merupakan dua hal yang tidak terpisahkan dari diri seorang perempuan. Kehamilan sendiri seringkali dipandang sebagai masa di mana seorang perempuan menganggap dirinya sebagai calon ibu dan akan sangat menjaga kesehatannya sehingga kemungkinan bahwa ia terkena kanker sangatlah jauh dari pemikirannya.
Meskipun jarang, diagnosis kanker payudara merupakan penyebab kematian akibat kanker nomor dua setelah kanker serviks sebagai kanker yang paling sering didapatkan semasa kehamilan dan juga pada masa persalinan.
Dalam beberapa studi, perempuan yang terpapar dengan kadar estrogen yang tinggi dalam kurun waktu yang lama diperkirakan mempunyai risiko lebih tinggi untuk terkena kanker payudara.
Ini termasuk untuk perempuan yang mempunyai masa menstruasi lebih lama, permulaan menstruasi sebelum usia 12 atau pada mereka yang baru mengalami menopause setelah usia 55 tahun.
Beberapa studi menyatakan laktasi yang dilakukan hingga kurun waktu 1½ hingga 2 tahun bisa mengurangi risiko kanker payudara atau pada mereka yang mempunyai anak banyak sehingga sering menyusui anaknya.
Perubahan hormonal dan imunologi yang terjadi pada saat kehamilan sering diasumsikan sebagai salah satu penyebab pertumbuhan sel kanker payudara, akan tetapi hal ini masih menjadi kontroversi karena masih banyak studi yang belum berhasil membuktikannya. Hal ini disebabkan tidak adanya perbedaan insiden dari kanker payudara pada perempuan hamil dan tidak hamil pada populasi umum.
Alasan mengapa kehamilan dan laktasi berpengaruh terhadap risiko kanker payudara? Mungkin disebabkan karena kurangnya siklus menstruasi selama hidupnya, tetapi ada sebuah informasi baru yang menyatakan bahwa hal ini juga berkaitan dengan adanya kadar hormon lain yaitu prolaktin.
Sebuah studi pada 2008 menunjukkan bahwa perempuan yang menyusui bayinya hingga satu tahun bahkan lebih mempunyai kadar prolaktin yang rendah hingga seumur hidupnya meskipun mereka tak lagi menyusui. Hal ini juga diperkirakan berpengaruh terhadap risiko kanker payudara, akan tetapi hal ini masih harus ditelusuri lebih lanjut.
dr.Intan Airlina Febiliawanti
Meskipun jarang, diagnosis kanker payudara merupakan penyebab kematian akibat kanker nomor dua setelah kanker serviks sebagai kanker yang paling sering didapatkan semasa kehamilan dan juga pada masa persalinan.
Dalam beberapa studi, perempuan yang terpapar dengan kadar estrogen yang tinggi dalam kurun waktu yang lama diperkirakan mempunyai risiko lebih tinggi untuk terkena kanker payudara.
Ini termasuk untuk perempuan yang mempunyai masa menstruasi lebih lama, permulaan menstruasi sebelum usia 12 atau pada mereka yang baru mengalami menopause setelah usia 55 tahun.
Beberapa studi menyatakan laktasi yang dilakukan hingga kurun waktu 1½ hingga 2 tahun bisa mengurangi risiko kanker payudara atau pada mereka yang mempunyai anak banyak sehingga sering menyusui anaknya.
Perubahan hormonal dan imunologi yang terjadi pada saat kehamilan sering diasumsikan sebagai salah satu penyebab pertumbuhan sel kanker payudara, akan tetapi hal ini masih menjadi kontroversi karena masih banyak studi yang belum berhasil membuktikannya. Hal ini disebabkan tidak adanya perbedaan insiden dari kanker payudara pada perempuan hamil dan tidak hamil pada populasi umum.
Alasan mengapa kehamilan dan laktasi berpengaruh terhadap risiko kanker payudara? Mungkin disebabkan karena kurangnya siklus menstruasi selama hidupnya, tetapi ada sebuah informasi baru yang menyatakan bahwa hal ini juga berkaitan dengan adanya kadar hormon lain yaitu prolaktin.
Sebuah studi pada 2008 menunjukkan bahwa perempuan yang menyusui bayinya hingga satu tahun bahkan lebih mempunyai kadar prolaktin yang rendah hingga seumur hidupnya meskipun mereka tak lagi menyusui. Hal ini juga diperkirakan berpengaruh terhadap risiko kanker payudara, akan tetapi hal ini masih harus ditelusuri lebih lanjut.
dr.Intan Airlina Febiliawanti
Subscribe to:
Posts (Atom)
