Career networking semestinya dibangun sejak pertama kali kita menginjakkan kaki di dunia kerja. Apabila merasa relasi Anda itu-itu saja, pertanda saatnya Anda bergaul lagi. Atasi kendala yang membuat langkah Anda terhambat.
"Teman saya punya banyak relasi, bahkan tak sedikit menjadi teman akrabnya. Saya kok enggak bisa seprti dia, ya?"
Dasar networking itu gampang saja. Selama Anda tahu cara berbicara dengan orang lain dan enggak punya masalah dalam melakukan interaksi sosial, yang diperlukan hanyalah berteman. Tapi, Anda tak harus menjadi sahabat karib seseorang untuk bisa mendapatkan keuntungan dari pertemanan itu. Anda cuma perlu jadi kenalan yang baik, yang bisa diandalkan saat dia membutuhkan bantuan. Sikap helpful adalah dasar networking, selama itu tidak saling merugikan. Di lain waktu, bantuan Anda itu pasti akan terbayar. Karena suka membantu, orang lain tak ragu membalas saat Anda memerlukannya.Berteman atau mencari teman bisa dengan cara bergabung dalam organisasi-organisasi atau komunitas. Tak harus berkaitan dengan pekerjaan, tapi sebaiknya memang yang Anda tertarik. Dengan begitu, Anda akan aktif di dalamnya dan tidak merasa "tersiksa". Oh ya, jangan remehkan network pertemanan. Karena ini juga potensial untuk membantu Anda mendapat pekerjaan, bisnis baru, kontak-kontak yang Anda perlukan dalam pekerjaan, dan sebagainya.
"Saya pemalu dan 'introvert'. Saya sulit membuka pembicaraan, apalagi ngobrol panjang lebar. Pokoknya saya 'garing' banget, deh"
Apa pun kepribadian Anda, selama Anda memiliki karier dan ingin berkembang, networking harus terus dilakoni. Coba lakukan hal berikut ini:
* Relaks. Rasa grogi atau khawatir akan mudah terpancar dan terlihat, jadi jangan biarkan itu terjadi. Saat akan memulai suatu pembicaraan atau kontak dengan seseorang, tarik napas dalam-dalam, berpikir positif, katakan bahwa Anda orang yang menyenangkan. Jangan merasa "kecil" dibandingkan orang lain karena Anda punya hak berkenalan dengan siapa pun. Kalau tak dapat respons positif dari orang yang Anda dekati, jangan kecil hati, cuek saja.
* Jadi diri sendiri. Jangan meniru gaya orang lain dan berpikir keras tentang bahan obrolan yang hebat-hebat. Ngobrol saja tentang hal-hal yang masuk akal, sehari-hari, dan ringan. Bisa saja diawali dengan kondisi cuaca saat itu. Jika dilakukan dengan benar, pembicaraan akan terus berkembang ke hal lain. Tak perlu mencoba melucu karena tidak semua orang dianugerahi kemampuan menarik perhatian orang lain dengan gaya lucu. Lakukan kontak mata dan senyum. Ini membuat Anda terlihat antusias, pede, dan menghargai orang lain.
* Manners itu nomor satu. Jadilah pendengar yang baik, hindari terlalu banyak menginterupsi dan mengeluarkan komentar-komentar sinis atau kasar. Akhiri pembicaraan dengan elegan dan tawarkan untuk saling bertukar kartu nama.
"Saya selalu fokus, bahkan dalam memilih teman atau relasi. Saya tidak akan berteman dengan seseorang yang menurut saya enggak bakal memberi manfaat"
Pertanyaannya, siapa sih yang seharusnya ada di dalam daftar kontak Anda? Siapa yang harus didekati? Jawabannya adalah siapa pun yang Anda kenal. Setiap orang yang tahu nama Anda, semestinya masuk dalam contact list Anda (kecuali orang yang jelas-jelas membenci Anda).
Tak jadi soal apa pekerjaannya, di mana dia tinggal, seberapa besar power dan kekayaannya. Jangan membuat praduga atau asumsi siapa yang bisa dan tidak bisa membantu Anda. Ford R Myers, seorang pakar karier di Amerika, mengatakan, sebagian besar kliennya yang awalnya punya masalah dalam networking, setelah berkonsultasi dengannya, justru mendapatkan pekerjaan melalui orang-orang yang justru tidak mereka harapkan bakal bisa membantu. Nah, apakah Anda masih mau terlalu pilih-pilih teman?
"Saya sudah datang ke pertemuan-pertemuan, gaul di Facebook, mengumpulkan banyak kartu nama. Tapi, kontak-kontak saya itu 'bertebaran' sehingga saat membutuhkannya, saya bingung mencari"
Networking perlu ketelatenan dan keteraturan. Dalam buku Gaul, Meraih Lebih Banyak Kesempatan (Eileen Rachman & Petrina Omar), kalau Anda sudah memiliki sekumpulan kontak, bergabung dalam sejumlah pertemuan, datang ke pertemuan-pertemuan, tugas selanjutnya adalah menjaga hubungan terus berkesinambungan. Salah satu caranya adalah dengan mengembangkan database atau membuat catatan-catatan penting tentang kontak-kontak Anda atau database. Misalnya, orang yang selalu dan perlu segera dihubungi beri tanda "HOT", di acara apa Anda bertemu, hal-hal yang dipertukarkan, dan topik obrolan yang terakhir kali dibicarakan.
KOMPAS.com
Showing posts with label Ada. Show all posts
Showing posts with label Ada. Show all posts
Wednesday, March 31, 2010
Berteman, Enggak Ada Ruginya
Career networking semestinya dibangun sejak pertama kali kita menginjakkan kaki di dunia kerja. Apabila merasa relasi Anda itu-itu saja, pertanda saatnya Anda bergaul lagi. Atasi kendala yang membuat langkah Anda terhambat.
"Teman saya punya banyak relasi, bahkan tak sedikit menjadi teman akrabnya. Saya kok enggak bisa seprti dia, ya?"
Dasar networking itu gampang saja. Selama Anda tahu cara berbicara dengan orang lain dan enggak punya masalah dalam melakukan interaksi sosial, yang diperlukan hanyalah berteman. Tapi, Anda tak harus menjadi sahabat karib seseorang untuk bisa mendapatkan keuntungan dari pertemanan itu. Anda cuma perlu jadi kenalan yang baik, yang bisa diandalkan saat dia membutuhkan bantuan. Sikap helpful adalah dasar networking, selama itu tidak saling merugikan. Di lain waktu, bantuan Anda itu pasti akan terbayar. Karena suka membantu, orang lain tak ragu membalas saat Anda memerlukannya.Berteman atau mencari teman bisa dengan cara bergabung dalam organisasi-organisasi atau komunitas. Tak harus berkaitan dengan pekerjaan, tapi sebaiknya memang yang Anda tertarik. Dengan begitu, Anda akan aktif di dalamnya dan tidak merasa "tersiksa". Oh ya, jangan remehkan network pertemanan. Karena ini juga potensial untuk membantu Anda mendapat pekerjaan, bisnis baru, kontak-kontak yang Anda perlukan dalam pekerjaan, dan sebagainya.
"Saya pemalu dan 'introvert'. Saya sulit membuka pembicaraan, apalagi ngobrol panjang lebar. Pokoknya saya 'garing' banget, deh"
Apa pun kepribadian Anda, selama Anda memiliki karier dan ingin berkembang, networking harus terus dilakoni. Coba lakukan hal berikut ini:
* Relaks. Rasa grogi atau khawatir akan mudah terpancar dan terlihat, jadi jangan biarkan itu terjadi. Saat akan memulai suatu pembicaraan atau kontak dengan seseorang, tarik napas dalam-dalam, berpikir positif, katakan bahwa Anda orang yang menyenangkan. Jangan merasa "kecil" dibandingkan orang lain karena Anda punya hak berkenalan dengan siapa pun. Kalau tak dapat respons positif dari orang yang Anda dekati, jangan kecil hati, cuek saja.
* Jadi diri sendiri. Jangan meniru gaya orang lain dan berpikir keras tentang bahan obrolan yang hebat-hebat. Ngobrol saja tentang hal-hal yang masuk akal, sehari-hari, dan ringan. Bisa saja diawali dengan kondisi cuaca saat itu. Jika dilakukan dengan benar, pembicaraan akan terus berkembang ke hal lain. Tak perlu mencoba melucu karena tidak semua orang dianugerahi kemampuan menarik perhatian orang lain dengan gaya lucu. Lakukan kontak mata dan senyum. Ini membuat Anda terlihat antusias, pede, dan menghargai orang lain.
* Manners itu nomor satu. Jadilah pendengar yang baik, hindari terlalu banyak menginterupsi dan mengeluarkan komentar-komentar sinis atau kasar. Akhiri pembicaraan dengan elegan dan tawarkan untuk saling bertukar kartu nama.
"Saya selalu fokus, bahkan dalam memilih teman atau relasi. Saya tidak akan berteman dengan seseorang yang menurut saya enggak bakal memberi manfaat"
Pertanyaannya, siapa sih yang seharusnya ada di dalam daftar kontak Anda? Siapa yang harus didekati? Jawabannya adalah siapa pun yang Anda kenal. Setiap orang yang tahu nama Anda, semestinya masuk dalam contact list Anda (kecuali orang yang jelas-jelas membenci Anda).
Tak jadi soal apa pekerjaannya, di mana dia tinggal, seberapa besar power dan kekayaannya. Jangan membuat praduga atau asumsi siapa yang bisa dan tidak bisa membantu Anda. Ford R Myers, seorang pakar karier di Amerika, mengatakan, sebagian besar kliennya yang awalnya punya masalah dalam networking, setelah berkonsultasi dengannya, justru mendapatkan pekerjaan melalui orang-orang yang justru tidak mereka harapkan bakal bisa membantu. Nah, apakah Anda masih mau terlalu pilih-pilih teman?
"Saya sudah datang ke pertemuan-pertemuan, gaul di Facebook, mengumpulkan banyak kartu nama. Tapi, kontak-kontak saya itu 'bertebaran' sehingga saat membutuhkannya, saya bingung mencari"
Networking perlu ketelatenan dan keteraturan. Dalam buku Gaul, Meraih Lebih Banyak Kesempatan (Eileen Rachman & Petrina Omar), kalau Anda sudah memiliki sekumpulan kontak, bergabung dalam sejumlah pertemuan, datang ke pertemuan-pertemuan, tugas selanjutnya adalah menjaga hubungan terus berkesinambungan. Salah satu caranya adalah dengan mengembangkan database atau membuat catatan-catatan penting tentang kontak-kontak Anda atau database. Misalnya, orang yang selalu dan perlu segera dihubungi beri tanda "HOT", di acara apa Anda bertemu, hal-hal yang dipertukarkan, dan topik obrolan yang terakhir kali dibicarakan.
KOMPAS.com
"Teman saya punya banyak relasi, bahkan tak sedikit menjadi teman akrabnya. Saya kok enggak bisa seprti dia, ya?"
Dasar networking itu gampang saja. Selama Anda tahu cara berbicara dengan orang lain dan enggak punya masalah dalam melakukan interaksi sosial, yang diperlukan hanyalah berteman. Tapi, Anda tak harus menjadi sahabat karib seseorang untuk bisa mendapatkan keuntungan dari pertemanan itu. Anda cuma perlu jadi kenalan yang baik, yang bisa diandalkan saat dia membutuhkan bantuan. Sikap helpful adalah dasar networking, selama itu tidak saling merugikan. Di lain waktu, bantuan Anda itu pasti akan terbayar. Karena suka membantu, orang lain tak ragu membalas saat Anda memerlukannya.Berteman atau mencari teman bisa dengan cara bergabung dalam organisasi-organisasi atau komunitas. Tak harus berkaitan dengan pekerjaan, tapi sebaiknya memang yang Anda tertarik. Dengan begitu, Anda akan aktif di dalamnya dan tidak merasa "tersiksa". Oh ya, jangan remehkan network pertemanan. Karena ini juga potensial untuk membantu Anda mendapat pekerjaan, bisnis baru, kontak-kontak yang Anda perlukan dalam pekerjaan, dan sebagainya.
"Saya pemalu dan 'introvert'. Saya sulit membuka pembicaraan, apalagi ngobrol panjang lebar. Pokoknya saya 'garing' banget, deh"
Apa pun kepribadian Anda, selama Anda memiliki karier dan ingin berkembang, networking harus terus dilakoni. Coba lakukan hal berikut ini:
* Relaks. Rasa grogi atau khawatir akan mudah terpancar dan terlihat, jadi jangan biarkan itu terjadi. Saat akan memulai suatu pembicaraan atau kontak dengan seseorang, tarik napas dalam-dalam, berpikir positif, katakan bahwa Anda orang yang menyenangkan. Jangan merasa "kecil" dibandingkan orang lain karena Anda punya hak berkenalan dengan siapa pun. Kalau tak dapat respons positif dari orang yang Anda dekati, jangan kecil hati, cuek saja.
* Jadi diri sendiri. Jangan meniru gaya orang lain dan berpikir keras tentang bahan obrolan yang hebat-hebat. Ngobrol saja tentang hal-hal yang masuk akal, sehari-hari, dan ringan. Bisa saja diawali dengan kondisi cuaca saat itu. Jika dilakukan dengan benar, pembicaraan akan terus berkembang ke hal lain. Tak perlu mencoba melucu karena tidak semua orang dianugerahi kemampuan menarik perhatian orang lain dengan gaya lucu. Lakukan kontak mata dan senyum. Ini membuat Anda terlihat antusias, pede, dan menghargai orang lain.
* Manners itu nomor satu. Jadilah pendengar yang baik, hindari terlalu banyak menginterupsi dan mengeluarkan komentar-komentar sinis atau kasar. Akhiri pembicaraan dengan elegan dan tawarkan untuk saling bertukar kartu nama.
"Saya selalu fokus, bahkan dalam memilih teman atau relasi. Saya tidak akan berteman dengan seseorang yang menurut saya enggak bakal memberi manfaat"
Pertanyaannya, siapa sih yang seharusnya ada di dalam daftar kontak Anda? Siapa yang harus didekati? Jawabannya adalah siapa pun yang Anda kenal. Setiap orang yang tahu nama Anda, semestinya masuk dalam contact list Anda (kecuali orang yang jelas-jelas membenci Anda).
Tak jadi soal apa pekerjaannya, di mana dia tinggal, seberapa besar power dan kekayaannya. Jangan membuat praduga atau asumsi siapa yang bisa dan tidak bisa membantu Anda. Ford R Myers, seorang pakar karier di Amerika, mengatakan, sebagian besar kliennya yang awalnya punya masalah dalam networking, setelah berkonsultasi dengannya, justru mendapatkan pekerjaan melalui orang-orang yang justru tidak mereka harapkan bakal bisa membantu. Nah, apakah Anda masih mau terlalu pilih-pilih teman?
"Saya sudah datang ke pertemuan-pertemuan, gaul di Facebook, mengumpulkan banyak kartu nama. Tapi, kontak-kontak saya itu 'bertebaran' sehingga saat membutuhkannya, saya bingung mencari"
Networking perlu ketelatenan dan keteraturan. Dalam buku Gaul, Meraih Lebih Banyak Kesempatan (Eileen Rachman & Petrina Omar), kalau Anda sudah memiliki sekumpulan kontak, bergabung dalam sejumlah pertemuan, datang ke pertemuan-pertemuan, tugas selanjutnya adalah menjaga hubungan terus berkesinambungan. Salah satu caranya adalah dengan mengembangkan database atau membuat catatan-catatan penting tentang kontak-kontak Anda atau database. Misalnya, orang yang selalu dan perlu segera dihubungi beri tanda "HOT", di acara apa Anda bertemu, hal-hal yang dipertukarkan, dan topik obrolan yang terakhir kali dibicarakan.
KOMPAS.com
Monday, March 29, 2010
Ada "Ringtone" yang Bikin Langsing
Reputasi Jepang sebagai negara terdepan dalam teknologi telepon selular tampaknya tak terbantahkan. Dalam lima tahun terakhir, mereka telah memanfaatkan handset untuk memilih saluran TV atau alat pembayaran dengan menempelkan layar ponsel ke pemindai. Kini, kegemaran mereka pada ponsel dimanfaatkan sebagai alat terapi penyakit.
Untuk menyembuhkan demam akibat alergi jerami yang pada musim semi ini menyebar luas, para insinyur di Jepang menciptakan terapi penyembuhan alergi dengan menggunakan ringtone (nada dering) ponsel. Cukup mendengarkan ringtone dan mendekatkannya ke hidung, suara ringtone khusus ini diyakini akan mengeluarkan serbuk sari pemicu alergi.
Pemanfaatan ringtone tidak berhenti sampai di situ saja. The Japan Ringing Tone Laboratory yang dipimpin oleh Matsumi Suzuki, pakar teknologi identifikasi suara, memperkenalkan terapi nada dering untuk mereka yang ingin menguruskan badan.
Matsumi Suzuki merupakan orang di balik alat Bow-lingual, yakni alat untuk mengartikan suara gonggongan anjing sehingga si pemilik mengerti maksud "ucapan" hewan kesayangannya itu.
Kendati efektivitas dari terapi ringtone ini masih diragukan, kini layanan terapi canggih ini sangat populer di Jepang. So, kita tunggu saja kapan teknologi ini sampai di Tanah Air!
KOMPAS.com
Untuk menyembuhkan demam akibat alergi jerami yang pada musim semi ini menyebar luas, para insinyur di Jepang menciptakan terapi penyembuhan alergi dengan menggunakan ringtone (nada dering) ponsel. Cukup mendengarkan ringtone dan mendekatkannya ke hidung, suara ringtone khusus ini diyakini akan mengeluarkan serbuk sari pemicu alergi.
Pemanfaatan ringtone tidak berhenti sampai di situ saja. The Japan Ringing Tone Laboratory yang dipimpin oleh Matsumi Suzuki, pakar teknologi identifikasi suara, memperkenalkan terapi nada dering untuk mereka yang ingin menguruskan badan.
Matsumi Suzuki merupakan orang di balik alat Bow-lingual, yakni alat untuk mengartikan suara gonggongan anjing sehingga si pemilik mengerti maksud "ucapan" hewan kesayangannya itu.
Kendati efektivitas dari terapi ringtone ini masih diragukan, kini layanan terapi canggih ini sangat populer di Jepang. So, kita tunggu saja kapan teknologi ini sampai di Tanah Air!
KOMPAS.com
Ada "Ringtone" yang Bikin Langsing
Reputasi Jepang sebagai negara terdepan dalam teknologi telepon selular tampaknya tak terbantahkan. Dalam lima tahun terakhir, mereka telah memanfaatkan handset untuk memilih saluran TV atau alat pembayaran dengan menempelkan layar ponsel ke pemindai. Kini, kegemaran mereka pada ponsel dimanfaatkan sebagai alat terapi penyakit.
Untuk menyembuhkan demam akibat alergi jerami yang pada musim semi ini menyebar luas, para insinyur di Jepang menciptakan terapi penyembuhan alergi dengan menggunakan ringtone (nada dering) ponsel. Cukup mendengarkan ringtone dan mendekatkannya ke hidung, suara ringtone khusus ini diyakini akan mengeluarkan serbuk sari pemicu alergi.
Pemanfaatan ringtone tidak berhenti sampai di situ saja. The Japan Ringing Tone Laboratory yang dipimpin oleh Matsumi Suzuki, pakar teknologi identifikasi suara, memperkenalkan terapi nada dering untuk mereka yang ingin menguruskan badan.
Matsumi Suzuki merupakan orang di balik alat Bow-lingual, yakni alat untuk mengartikan suara gonggongan anjing sehingga si pemilik mengerti maksud "ucapan" hewan kesayangannya itu.
Kendati efektivitas dari terapi ringtone ini masih diragukan, kini layanan terapi canggih ini sangat populer di Jepang. So, kita tunggu saja kapan teknologi ini sampai di Tanah Air!
KOMPAS.com
Untuk menyembuhkan demam akibat alergi jerami yang pada musim semi ini menyebar luas, para insinyur di Jepang menciptakan terapi penyembuhan alergi dengan menggunakan ringtone (nada dering) ponsel. Cukup mendengarkan ringtone dan mendekatkannya ke hidung, suara ringtone khusus ini diyakini akan mengeluarkan serbuk sari pemicu alergi.
Pemanfaatan ringtone tidak berhenti sampai di situ saja. The Japan Ringing Tone Laboratory yang dipimpin oleh Matsumi Suzuki, pakar teknologi identifikasi suara, memperkenalkan terapi nada dering untuk mereka yang ingin menguruskan badan.
Matsumi Suzuki merupakan orang di balik alat Bow-lingual, yakni alat untuk mengartikan suara gonggongan anjing sehingga si pemilik mengerti maksud "ucapan" hewan kesayangannya itu.
Kendati efektivitas dari terapi ringtone ini masih diragukan, kini layanan terapi canggih ini sangat populer di Jepang. So, kita tunggu saja kapan teknologi ini sampai di Tanah Air!
KOMPAS.com
Tuesday, March 23, 2010
Tak Ada Orang Gemuk yang Sehat
KOMPAS.com - Gemuk tak lagi menjadi lambang kemakmuran. Kegemukan atau obesitas justru mengundang pelbagai penyakit yang memperpendek umur. Karena itu sebelum memasuki awal tahun yang baru ini para ahli kembali mengingatkan bahwa obesitas mampu merampas kehidupan. Tak ada orang gemuk yang bisa sehat dalam jangka panjang.
Berdasarkan penelitan selama 30 tahun terhadap 1.800 pria Swedia yang dimulai saat mereka berusia 50 tahun, para peneliti menyimpulkan bahwa orang obesitas tidak memiliki metabolisme yang sehat. Selama periode penelitian ini mereka yang obesitas umumnya meninggal karena penyakit kardiovaskular, seperti stroke atau serangan jantung.
Selain faktor kegemukan, para ahli juga mengukur prevalensi sindrom metabolik, seperti kadar gula darah, hipertensi, trigiliserida, kolesterol, serta lingkar pinggang, yang merupakan salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular.
Sebelumnya para pakar berpendapat bahwa risiko penyakit jantung lebih rendah pada orang gemuk yang tidak memiliki sindrom metabolik. Hal ini menyebabkan orang mengelompokkan adanya obesitas yang sehat.
Namun, laporan terbaru menyebutkan, studi tersebut umumnya bukan penelitian jangka panjang karena gangguan kesehatan biasanya baru muncul setelah 15 tahun.
Dalam laporan yang dipublikasikan dalam jurnal kesehatan Circulation, para peneliti mencatat bahwa risiko penyakit dalam jangka panjang tetap tinggi meski orang gemuk tak memiliki sindrom metabolik.
Kebiasaan menyantap makanan berlemak dan berkalori tinggi yang tidak diimbangi olahraga merupakan gerbang menuju obesitas atau kegemukan yang akan mengundang penyakit. Untuk mengurangi risiko kegemukan, konsumsi makanan sebaiknya dibatasi dan diimbangi dengan olahraga secara teratur.
Berdasarkan penelitan selama 30 tahun terhadap 1.800 pria Swedia yang dimulai saat mereka berusia 50 tahun, para peneliti menyimpulkan bahwa orang obesitas tidak memiliki metabolisme yang sehat. Selama periode penelitian ini mereka yang obesitas umumnya meninggal karena penyakit kardiovaskular, seperti stroke atau serangan jantung.
Selain faktor kegemukan, para ahli juga mengukur prevalensi sindrom metabolik, seperti kadar gula darah, hipertensi, trigiliserida, kolesterol, serta lingkar pinggang, yang merupakan salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular.
Sebelumnya para pakar berpendapat bahwa risiko penyakit jantung lebih rendah pada orang gemuk yang tidak memiliki sindrom metabolik. Hal ini menyebabkan orang mengelompokkan adanya obesitas yang sehat.
Namun, laporan terbaru menyebutkan, studi tersebut umumnya bukan penelitian jangka panjang karena gangguan kesehatan biasanya baru muncul setelah 15 tahun.
Dalam laporan yang dipublikasikan dalam jurnal kesehatan Circulation, para peneliti mencatat bahwa risiko penyakit dalam jangka panjang tetap tinggi meski orang gemuk tak memiliki sindrom metabolik.
Kebiasaan menyantap makanan berlemak dan berkalori tinggi yang tidak diimbangi olahraga merupakan gerbang menuju obesitas atau kegemukan yang akan mengundang penyakit. Untuk mengurangi risiko kegemukan, konsumsi makanan sebaiknya dibatasi dan diimbangi dengan olahraga secara teratur.
Tak Ada Orang Gemuk yang Sehat
KOMPAS.com - Gemuk tak lagi menjadi lambang kemakmuran. Kegemukan atau obesitas justru mengundang pelbagai penyakit yang memperpendek umur. Karena itu sebelum memasuki awal tahun yang baru ini para ahli kembali mengingatkan bahwa obesitas mampu merampas kehidupan. Tak ada orang gemuk yang bisa sehat dalam jangka panjang.
Berdasarkan penelitan selama 30 tahun terhadap 1.800 pria Swedia yang dimulai saat mereka berusia 50 tahun, para peneliti menyimpulkan bahwa orang obesitas tidak memiliki metabolisme yang sehat. Selama periode penelitian ini mereka yang obesitas umumnya meninggal karena penyakit kardiovaskular, seperti stroke atau serangan jantung.
Selain faktor kegemukan, para ahli juga mengukur prevalensi sindrom metabolik, seperti kadar gula darah, hipertensi, trigiliserida, kolesterol, serta lingkar pinggang, yang merupakan salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular.
Sebelumnya para pakar berpendapat bahwa risiko penyakit jantung lebih rendah pada orang gemuk yang tidak memiliki sindrom metabolik. Hal ini menyebabkan orang mengelompokkan adanya obesitas yang sehat.
Namun, laporan terbaru menyebutkan, studi tersebut umumnya bukan penelitian jangka panjang karena gangguan kesehatan biasanya baru muncul setelah 15 tahun.
Dalam laporan yang dipublikasikan dalam jurnal kesehatan Circulation, para peneliti mencatat bahwa risiko penyakit dalam jangka panjang tetap tinggi meski orang gemuk tak memiliki sindrom metabolik.
Kebiasaan menyantap makanan berlemak dan berkalori tinggi yang tidak diimbangi olahraga merupakan gerbang menuju obesitas atau kegemukan yang akan mengundang penyakit. Untuk mengurangi risiko kegemukan, konsumsi makanan sebaiknya dibatasi dan diimbangi dengan olahraga secara teratur.
Berdasarkan penelitan selama 30 tahun terhadap 1.800 pria Swedia yang dimulai saat mereka berusia 50 tahun, para peneliti menyimpulkan bahwa orang obesitas tidak memiliki metabolisme yang sehat. Selama periode penelitian ini mereka yang obesitas umumnya meninggal karena penyakit kardiovaskular, seperti stroke atau serangan jantung.
Selain faktor kegemukan, para ahli juga mengukur prevalensi sindrom metabolik, seperti kadar gula darah, hipertensi, trigiliserida, kolesterol, serta lingkar pinggang, yang merupakan salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular.
Sebelumnya para pakar berpendapat bahwa risiko penyakit jantung lebih rendah pada orang gemuk yang tidak memiliki sindrom metabolik. Hal ini menyebabkan orang mengelompokkan adanya obesitas yang sehat.
Namun, laporan terbaru menyebutkan, studi tersebut umumnya bukan penelitian jangka panjang karena gangguan kesehatan biasanya baru muncul setelah 15 tahun.
Dalam laporan yang dipublikasikan dalam jurnal kesehatan Circulation, para peneliti mencatat bahwa risiko penyakit dalam jangka panjang tetap tinggi meski orang gemuk tak memiliki sindrom metabolik.
Kebiasaan menyantap makanan berlemak dan berkalori tinggi yang tidak diimbangi olahraga merupakan gerbang menuju obesitas atau kegemukan yang akan mengundang penyakit. Untuk mengurangi risiko kegemukan, konsumsi makanan sebaiknya dibatasi dan diimbangi dengan olahraga secara teratur.
Subscribe to:
Posts (Atom)