Showing posts with label Salah. Show all posts
Showing posts with label Salah. Show all posts

Friday, March 26, 2010

Salah Duduk, Saraf Bisa Terjepit

Kompas.com — Sering kali kita merasakan nyeri dan ngilu pada beberapa bagian tubuh tertentu setelah melakukan aktivitas yang berat atau duduk terlalu lama. Mungkin saja ini bukan nyeri biasa. Jika frekuensi nyeri termasuk sering dan menjalar ke bagian tubuh lain, bisa jadi itu gejala penjepitan saraf atau yang dikenal dengan nama saraf terjepit.

Saraf terjepit merupakan bagian dari nyeri punggung bawah atau low back pain. Pada tulang, ada bagian yang disebut diskus (bantalan atau sambungan di antara dua tulang) yang berfungsi semacam peredam beban (shockbreaker). Kalau diskus meleset dan bergeser, tulang langsung menekan saraf dan menimbulkan rasa nyeri yang amat sangat.

Rasa nyeri tadi sangat khas. Nyeri dapat menjalar ke bagian tubuh lain sesuai penjalaran dari jaringan saraf yang terjepit. Apabila saraf yang terjepit berasal dari bagian leher, nyeri dapat menjalar sampai ke tangan. Apabila nyeri berasal dari pinggang, penjalaran bisa sampai ke lutut, bahkan betis.

"Nyeri yang sangat khas disebut nyeri radikuler. Kadang pasien bisa menunjukkan dari mana dan sampai mana rasa nyeri tersebut menjalar," ungkap Dr Tiara Aninditha, Sp.S, ahli saraf dari RS Cipto Mangunkusumo. Bagian tubuh yang paling sering mengalami penjepitan saraf, tambahnya, adalah leher dan pinggang karena paling sering digunakan untuk bergerak.

Tak hanya lansia
"Sering kita menganggap saraf terjepit hanya dialami lansia yang semakin tua semakin rapuh tulangnya. Sebenarnya orang usia produktif pun dapat mengalami penjepitan saraf ini," tutur Dr Tiara.

Pada lansia, saraf terjepit bisa karena bantalan yang menyambungkan dua tulang menjadi elastis. Akibatnya, tulang langsung menekan tulang lain dan terjadi penjepitan saraf yang menimbulkan nyeri pada bagian tubuh tersebut. Saraf terjepit pada lansia juga dapat terjadi karena pengapuran atau tumbuhnya tulang muda yang runcing pada tulang belakang sehingga menekan saraf dan terasa sakit.

Osteoporosis (pengeroposan tulang) juga dapat menyebabkan saraf terjepit pada lansia. Pada osteoporosis, yang berkurang adalah massa tulangnya. "Jadi, ibarat tembok, semennya yang berkurang," tuturnya. Kasus nyeri pinggang jenis ini lebih sering terjadi pada wanita daripada pria.

Cenderung membungkuk
Pada usia produktif, biasanya saraf terjepit terjadi karena aktivitas harian yang terlalu berat. Sering mengangkat beban berat yang hanya bertumpu pada satu bagian tubuh akan membuat tulang di bagian tersebut tertekan dan mengenai saraf sehingga timbul nyeri.

"Posisi duduk yang salah juga dapat menyebabkan saraf terjepit. Kita sering duduk dengan posisi membungkuk. Ini salah. Posisi duduk yang baik adalah tegak dan menyandar," ujarnya.

Kelainan bentuk tulang punggung (skoliosis) juga dapat menjadi penyebab saraf terjepit. "Biasanya kelainan tulang punggung ini karena kebiasaan berdiri dan duduk yang salah sehingga tulang punggung jadi tidak lurus atau cenderung membungkuk," katanya.

Kanker dan TB
Banyak kondisi lain yang dapat menimbulkan saraf terjepit, salah satunya tuberkulosis, biasa disingkat TBC atau TB. Kuman TB yang tak cepat ditangani dapat menyebar dan memakan tulang sehingga tulang jadi keropos dan langsung mengenai saraf.

Kanker dan tumor juga bisa menyebabkan saraf terjepit: "Pada kasus ini, kanker atau tumor sudah menyebar ke tulang sehingga jadi rapuh. Saraf terjepit langsung oleh tulang," ungkapnya.
Tak sedikit pula saraf terjepit akibat trauma jatuh. Seseorang yang pernah jatuh dengan posisi terduduk, kemungkinan dapat mengalami retak tulang belakang dan saraf terjepit. (GHS/putri)

Salah Duduk, Saraf Bisa Terjepit

Kompas.com — Sering kali kita merasakan nyeri dan ngilu pada beberapa bagian tubuh tertentu setelah melakukan aktivitas yang berat atau duduk terlalu lama. Mungkin saja ini bukan nyeri biasa. Jika frekuensi nyeri termasuk sering dan menjalar ke bagian tubuh lain, bisa jadi itu gejala penjepitan saraf atau yang dikenal dengan nama saraf terjepit.

Saraf terjepit merupakan bagian dari nyeri punggung bawah atau low back pain. Pada tulang, ada bagian yang disebut diskus (bantalan atau sambungan di antara dua tulang) yang berfungsi semacam peredam beban (shockbreaker). Kalau diskus meleset dan bergeser, tulang langsung menekan saraf dan menimbulkan rasa nyeri yang amat sangat.

Rasa nyeri tadi sangat khas. Nyeri dapat menjalar ke bagian tubuh lain sesuai penjalaran dari jaringan saraf yang terjepit. Apabila saraf yang terjepit berasal dari bagian leher, nyeri dapat menjalar sampai ke tangan. Apabila nyeri berasal dari pinggang, penjalaran bisa sampai ke lutut, bahkan betis.

"Nyeri yang sangat khas disebut nyeri radikuler. Kadang pasien bisa menunjukkan dari mana dan sampai mana rasa nyeri tersebut menjalar," ungkap Dr Tiara Aninditha, Sp.S, ahli saraf dari RS Cipto Mangunkusumo. Bagian tubuh yang paling sering mengalami penjepitan saraf, tambahnya, adalah leher dan pinggang karena paling sering digunakan untuk bergerak.

Tak hanya lansia
"Sering kita menganggap saraf terjepit hanya dialami lansia yang semakin tua semakin rapuh tulangnya. Sebenarnya orang usia produktif pun dapat mengalami penjepitan saraf ini," tutur Dr Tiara.

Pada lansia, saraf terjepit bisa karena bantalan yang menyambungkan dua tulang menjadi elastis. Akibatnya, tulang langsung menekan tulang lain dan terjadi penjepitan saraf yang menimbulkan nyeri pada bagian tubuh tersebut. Saraf terjepit pada lansia juga dapat terjadi karena pengapuran atau tumbuhnya tulang muda yang runcing pada tulang belakang sehingga menekan saraf dan terasa sakit.

Osteoporosis (pengeroposan tulang) juga dapat menyebabkan saraf terjepit pada lansia. Pada osteoporosis, yang berkurang adalah massa tulangnya. "Jadi, ibarat tembok, semennya yang berkurang," tuturnya. Kasus nyeri pinggang jenis ini lebih sering terjadi pada wanita daripada pria.

Cenderung membungkuk
Pada usia produktif, biasanya saraf terjepit terjadi karena aktivitas harian yang terlalu berat. Sering mengangkat beban berat yang hanya bertumpu pada satu bagian tubuh akan membuat tulang di bagian tersebut tertekan dan mengenai saraf sehingga timbul nyeri.

"Posisi duduk yang salah juga dapat menyebabkan saraf terjepit. Kita sering duduk dengan posisi membungkuk. Ini salah. Posisi duduk yang baik adalah tegak dan menyandar," ujarnya.

Kelainan bentuk tulang punggung (skoliosis) juga dapat menjadi penyebab saraf terjepit. "Biasanya kelainan tulang punggung ini karena kebiasaan berdiri dan duduk yang salah sehingga tulang punggung jadi tidak lurus atau cenderung membungkuk," katanya.

Kanker dan TB
Banyak kondisi lain yang dapat menimbulkan saraf terjepit, salah satunya tuberkulosis, biasa disingkat TBC atau TB. Kuman TB yang tak cepat ditangani dapat menyebar dan memakan tulang sehingga tulang jadi keropos dan langsung mengenai saraf.

Kanker dan tumor juga bisa menyebabkan saraf terjepit: "Pada kasus ini, kanker atau tumor sudah menyebar ke tulang sehingga jadi rapuh. Saraf terjepit langsung oleh tulang," ungkapnya.
Tak sedikit pula saraf terjepit akibat trauma jatuh. Seseorang yang pernah jatuh dengan posisi terduduk, kemungkinan dapat mengalami retak tulang belakang dan saraf terjepit. (GHS/putri)

Tuesday, March 23, 2010

Salah Kaprah 4 Sehat 5 Sempurna



Kompas - Masyarakat salah kaprah dalam memahami slogan ”4 Sehat 5 Sempurna”. Salah satu penyebabnya adalah adanya buku pelajaran yang salah menjelaskan konsep pola makan sehat.

Hal itu disampaikan pengajar Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Dr dr Endang Achadi MPH, selaku pembicara dalam Simposium Gizi Internasional 2009 dan Konferensi Gizi Klinik Asia Pasifik Ke-6 di Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (12/10).

Menurut dia, kesalahpahaman masyarakat tergambar dari hasil penelitian pemahaman masyarakat tentang diet berimbang yang dilakukan di 10 kabupaten/kota di Indonesia pada 2009.

”Responden antara lain 100 siswa SD kelas IV dan V. Sebagian besar siswa menganggap diet seimbang adalah 4 sehat 5 sempurna. Mereka tahu vitamin itu penting, tetapi ada siswa yang berpendapat, buah-buahan yang murah tidak bervitamin, sementara buah mahal itu bervitamin. Yang paling mengkhawatirkan, para siswa itu menganggap susu lengkap,” kata Endang.

Ada murid tidak menganggap sumber karbohidrat selain nasi bisa dikonsumsi untuk menggantikan nasi. ”Mi, misalnya, dianggap sebagai lauk dan semua siswa jajan di sekolah,” katanya.

Para orangtua dan guru memahami diet seimbang sebagai 4 sehat 5 sempurna. ”Ada buku pelajaran IPA untuk kelas III dan kelas V mendefinisikan diet seimbang sebagai 4 sehat 5 sempurna. Tak ada penjelasan bahwa diet seimbang meliputi olahraga, atau minum banyak air. Ada buku menyatakan, anak harus minum susu karena kandungan gizi sayur berkurang saat dimasak. Timbul kesan, kandungan gizi susu tak berubah saat dimasak,” katanya.

Abstrak

Selaku penanya, ahli gizi dari Universitas Indonesia, Prof Dr Walujo Soerjodibroto Msc PhD SpGk(K) mengingatkan, slogan 4 Sehat 5 Sempurna adalah konsep gizi paling dikenal masyarakat dan memberi arahan tentang pola makan sehat. Konsep diet seimbang terlalu abstrak, teknis, juga bagi para ahli gizi.

”Kita selalu mengatakan, ibu hamil harus jalani diet seimbang, penderita penyakit tertentu jalani diet seimbang. Lalu apa pengertian diet seimbang? Jangan-jangan itu istilah yang tidak berarti apa-apa,” kata Walujo.

Dia menyatakan, dia bukan menolak pelurusan pemahaman pola makan dan hidup sehat, tetapi para ahli gizi seharusnya memberi arahan pola hidup yang lebih konkret daripada memakai istilah ”diet berimbang”.

”Saya tidak mengatakan konsep 4 Sehat 5 Sempurna itu sudah bagus. Namun, membuang konsep 4 Sehat 5 Sempurna dan menggantinya dengan konsep diet seimbang justru membingungkan. Istilah diet seimbang tidak memberikan acuan perilaku apa pun. Adapun 4 Sehat 5 Sempurna setidaknya memberikan arahan perilaku. Mungkin pengertian ’5 Sempurna’ itu yang perlu diganti, agar tidak menimbulkan persepsi, tidak minum susu itu tidak sehat,” kata Walujo.

Salah Kaprah 4 Sehat 5 Sempurna



Kompas - Masyarakat salah kaprah dalam memahami slogan ”4 Sehat 5 Sempurna”. Salah satu penyebabnya adalah adanya buku pelajaran yang salah menjelaskan konsep pola makan sehat.

Hal itu disampaikan pengajar Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Dr dr Endang Achadi MPH, selaku pembicara dalam Simposium Gizi Internasional 2009 dan Konferensi Gizi Klinik Asia Pasifik Ke-6 di Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (12/10).

Menurut dia, kesalahpahaman masyarakat tergambar dari hasil penelitian pemahaman masyarakat tentang diet berimbang yang dilakukan di 10 kabupaten/kota di Indonesia pada 2009.

”Responden antara lain 100 siswa SD kelas IV dan V. Sebagian besar siswa menganggap diet seimbang adalah 4 sehat 5 sempurna. Mereka tahu vitamin itu penting, tetapi ada siswa yang berpendapat, buah-buahan yang murah tidak bervitamin, sementara buah mahal itu bervitamin. Yang paling mengkhawatirkan, para siswa itu menganggap susu lengkap,” kata Endang.

Ada murid tidak menganggap sumber karbohidrat selain nasi bisa dikonsumsi untuk menggantikan nasi. ”Mi, misalnya, dianggap sebagai lauk dan semua siswa jajan di sekolah,” katanya.

Para orangtua dan guru memahami diet seimbang sebagai 4 sehat 5 sempurna. ”Ada buku pelajaran IPA untuk kelas III dan kelas V mendefinisikan diet seimbang sebagai 4 sehat 5 sempurna. Tak ada penjelasan bahwa diet seimbang meliputi olahraga, atau minum banyak air. Ada buku menyatakan, anak harus minum susu karena kandungan gizi sayur berkurang saat dimasak. Timbul kesan, kandungan gizi susu tak berubah saat dimasak,” katanya.

Abstrak

Selaku penanya, ahli gizi dari Universitas Indonesia, Prof Dr Walujo Soerjodibroto Msc PhD SpGk(K) mengingatkan, slogan 4 Sehat 5 Sempurna adalah konsep gizi paling dikenal masyarakat dan memberi arahan tentang pola makan sehat. Konsep diet seimbang terlalu abstrak, teknis, juga bagi para ahli gizi.

”Kita selalu mengatakan, ibu hamil harus jalani diet seimbang, penderita penyakit tertentu jalani diet seimbang. Lalu apa pengertian diet seimbang? Jangan-jangan itu istilah yang tidak berarti apa-apa,” kata Walujo.

Dia menyatakan, dia bukan menolak pelurusan pemahaman pola makan dan hidup sehat, tetapi para ahli gizi seharusnya memberi arahan pola hidup yang lebih konkret daripada memakai istilah ”diet berimbang”.

”Saya tidak mengatakan konsep 4 Sehat 5 Sempurna itu sudah bagus. Namun, membuang konsep 4 Sehat 5 Sempurna dan menggantinya dengan konsep diet seimbang justru membingungkan. Istilah diet seimbang tidak memberikan acuan perilaku apa pun. Adapun 4 Sehat 5 Sempurna setidaknya memberikan arahan perilaku. Mungkin pengertian ’5 Sempurna’ itu yang perlu diganti, agar tidak menimbulkan persepsi, tidak minum susu itu tidak sehat,” kata Walujo.