Showing posts with label Belum. Show all posts
Showing posts with label Belum. Show all posts

Saturday, April 3, 2010

Belum Juga Hamil, Jangan-jangan Infertil

Seorang wanita bersama suaminya datang menemui dokter dengan keinginan untuk mempunyai anak. Sebagai pasangan, mereka sudah menikah sekitar lima bulan dan belum juga ada tanda-tanda kehamilan. Lalu, timbullah kekhawatiran apakah mungkin mereka tidak subur? Kekhawatiran itulah yang membuat beragam pertanyaan dan kecemasan muncul dalam pikiran mereka.

Sebenarnya, apa yang dimaksud tidak subur itu? Apakah pasangan yang sudah menikah lima bulan dan belum dikaruniai anak sudah bisa dikategorikan tidak subur atau infertil?

Belum tentu karena ternyata infertilitas memiliki kriteria hingga dapat disebut infertil. Infertilitas atau yang lebih dikenal dengan istilah awam dengan ketidaksuburan pasangan untuk mempunyai anak tidaklah bisa dinyatakan dalam waktu 5 bulan. Jadi, kapankah pasangan bisa disebut infertil?

Sebenarnya, pasangan baru dapat disebut infertil jika sang wanita belum mengalami kehamilan meski melakukan hubungan tanpa adanya proteksi dan dihadapkan pada kemungkinan kehamilan. Infertil berlaku untuk pasangan usia subur yang sudah mencoba untuk mendapatkan kehamilan selama 12 bulan atau selama 6 bulan pada wanita yang berusia di atas 35 tahun ke atas.

Infertilitas sebenarnya merupakan hal yang umum terjadi. Menurut data Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sebesar 10 persen dari wanita di Amerika Serikat berusia 15-44 tahun berhadapan dengan masalah sulit hamil atau menjaga kehamilannya.  Infertilitas bisa terjadi sebanyak 10-15 persen pada pasangan usia subur.

Selama 50 tahun, angka prevalensi ini tidak banyak berubah, tetapi terjadi perubahan pada penyebab dan usia pasien. Seiring bertambahnya usia seorang wanita, insiden infertilitas akan semakin meningkat.

Pada lingkungan di mana perencanaan berkeluarga dan pengembangan karier lebih diutamakan, sebagian wanita menunda untuk mempunyai anak hingga berumur 30 tahun ke atas sehingga kerap kali para wanita ini lebih sulit untuk hamil dan mempunyai peningkatan risiko untuk mengalami keguguran.

Kerap kali dugaan infertilitas terjadi karena kesalahan dari pihak wanita. Padahal, tidak begitu! Infertilitas tidak selalu disebabkan oleh kelainan pada wanita. Kedua belah pihak bisa mempunyai masalah yang bisa menyebabkan infertilitas. Sekitar sepertiga dari kasus infertilitas disebabkan oleh wanita, sepertiganya lagi oleh pria. Sisanya disebabkan karena kombinasi dari keduanya atau oleh penyebab lainnya yang tidak diketahui.

Akan tetapi, seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi yang canggih, kita pun bisa melakukan berbagai macam terapi untuk mempunyai anak. Untuk itu, dokter perlu mengetahui riwayat kesehatan dari pasangan, termasuk faktor risiko penyebab ketidaksuburan. Setelah itu, biasanya akan dilakukan pemeriksaan yang diperlukan yang berkaitan dengan infertilitas.

dr Intan Airlina Febiliawanti

Belum Juga Hamil, Jangan-jangan Infertil

Seorang wanita bersama suaminya datang menemui dokter dengan keinginan untuk mempunyai anak. Sebagai pasangan, mereka sudah menikah sekitar lima bulan dan belum juga ada tanda-tanda kehamilan. Lalu, timbullah kekhawatiran apakah mungkin mereka tidak subur? Kekhawatiran itulah yang membuat beragam pertanyaan dan kecemasan muncul dalam pikiran mereka.

Sebenarnya, apa yang dimaksud tidak subur itu? Apakah pasangan yang sudah menikah lima bulan dan belum dikaruniai anak sudah bisa dikategorikan tidak subur atau infertil?

Belum tentu karena ternyata infertilitas memiliki kriteria hingga dapat disebut infertil. Infertilitas atau yang lebih dikenal dengan istilah awam dengan ketidaksuburan pasangan untuk mempunyai anak tidaklah bisa dinyatakan dalam waktu 5 bulan. Jadi, kapankah pasangan bisa disebut infertil?

Sebenarnya, pasangan baru dapat disebut infertil jika sang wanita belum mengalami kehamilan meski melakukan hubungan tanpa adanya proteksi dan dihadapkan pada kemungkinan kehamilan. Infertil berlaku untuk pasangan usia subur yang sudah mencoba untuk mendapatkan kehamilan selama 12 bulan atau selama 6 bulan pada wanita yang berusia di atas 35 tahun ke atas.

Infertilitas sebenarnya merupakan hal yang umum terjadi. Menurut data Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sebesar 10 persen dari wanita di Amerika Serikat berusia 15-44 tahun berhadapan dengan masalah sulit hamil atau menjaga kehamilannya.  Infertilitas bisa terjadi sebanyak 10-15 persen pada pasangan usia subur.

Selama 50 tahun, angka prevalensi ini tidak banyak berubah, tetapi terjadi perubahan pada penyebab dan usia pasien. Seiring bertambahnya usia seorang wanita, insiden infertilitas akan semakin meningkat.

Pada lingkungan di mana perencanaan berkeluarga dan pengembangan karier lebih diutamakan, sebagian wanita menunda untuk mempunyai anak hingga berumur 30 tahun ke atas sehingga kerap kali para wanita ini lebih sulit untuk hamil dan mempunyai peningkatan risiko untuk mengalami keguguran.

Kerap kali dugaan infertilitas terjadi karena kesalahan dari pihak wanita. Padahal, tidak begitu! Infertilitas tidak selalu disebabkan oleh kelainan pada wanita. Kedua belah pihak bisa mempunyai masalah yang bisa menyebabkan infertilitas. Sekitar sepertiga dari kasus infertilitas disebabkan oleh wanita, sepertiganya lagi oleh pria. Sisanya disebabkan karena kombinasi dari keduanya atau oleh penyebab lainnya yang tidak diketahui.

Akan tetapi, seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi yang canggih, kita pun bisa melakukan berbagai macam terapi untuk mempunyai anak. Untuk itu, dokter perlu mengetahui riwayat kesehatan dari pasangan, termasuk faktor risiko penyebab ketidaksuburan. Setelah itu, biasanya akan dilakukan pemeriksaan yang diperlukan yang berkaitan dengan infertilitas.

dr Intan Airlina Febiliawanti

Wednesday, March 31, 2010

TOFI, Tubuh Kurus Belum Tentu Sehat

wanita ramping tampak lebih bahagia ketika bercermin dan menikmati setiap lekuk tubuhnya. Tak heran bila tubuh seksi dan ramping selalu diidamkan kaum hawa.

Kendati demikian, belum tentu wanita bertubuh kurus selalu bangga dengan bentuk tubuhnya. Mengapa? "Tidak selalu wanita bertubuh kurus menjadi wanita paling bahagia. Tapi, mereka memang merawat tubuhnya agar lebih percaya diri ketika berhadapan dengan pasangannya," ujar pakar seks Kate Taylor, seperti dilansir The Sun.

Namun, tahukah Anda bahwa sekarang ini sedang marak fenomena TOFI (Thin Outside, Fat Inside)? TOFI lebih banyak dialami wanita bertubuh seksi. Menurut konsep TOFI, meski bentuk tubuh terlihat ideal, bahkan kurus, tapi kadar lemak dalam tubuh melebihi normal. Apa penyebabnya?

Penyebabnya adalah komposisi gizi kurang seimbang, terlalu banyak konsumsi junk food, dan kurang mengonsumsi makanan bergizi. Komposisi seimbang yang harus diasup setiap hari terdiri atas 45-65 persen karbohidrat, sedangkan protein dibutuhkan tubuh sebanyak 10-25 persen sehari. Perbandingan antara protein hewani dengan nabati adalah 2:1. Selain itu, konsumsi lemak 25-40 persen dengan tambahan vitamin A, B, C, D, E, K dan Ca.

Tak cukup memerhatikan asupan makanan seimbang, pemilik tubuh kurus pun harus mengatur jadwal makan lebih teratur dan memerhatikan jumlah kalori sesuai kebutuhan. Perhatikan tiga aspek penting agar tubuh sehat, yaitu konsumsi asupan gizi seimbang, olahraga teratur, serta istirahat cukup. Kesemua aspek tersebut harus diperhatikan sejak dini bila Anda ingin bertubuh kurus, dan tentu saja sehat.
 
okezone.com

TOFI, Tubuh Kurus Belum Tentu Sehat

wanita ramping tampak lebih bahagia ketika bercermin dan menikmati setiap lekuk tubuhnya. Tak heran bila tubuh seksi dan ramping selalu diidamkan kaum hawa.

Kendati demikian, belum tentu wanita bertubuh kurus selalu bangga dengan bentuk tubuhnya. Mengapa? "Tidak selalu wanita bertubuh kurus menjadi wanita paling bahagia. Tapi, mereka memang merawat tubuhnya agar lebih percaya diri ketika berhadapan dengan pasangannya," ujar pakar seks Kate Taylor, seperti dilansir The Sun.

Namun, tahukah Anda bahwa sekarang ini sedang marak fenomena TOFI (Thin Outside, Fat Inside)? TOFI lebih banyak dialami wanita bertubuh seksi. Menurut konsep TOFI, meski bentuk tubuh terlihat ideal, bahkan kurus, tapi kadar lemak dalam tubuh melebihi normal. Apa penyebabnya?

Penyebabnya adalah komposisi gizi kurang seimbang, terlalu banyak konsumsi junk food, dan kurang mengonsumsi makanan bergizi. Komposisi seimbang yang harus diasup setiap hari terdiri atas 45-65 persen karbohidrat, sedangkan protein dibutuhkan tubuh sebanyak 10-25 persen sehari. Perbandingan antara protein hewani dengan nabati adalah 2:1. Selain itu, konsumsi lemak 25-40 persen dengan tambahan vitamin A, B, C, D, E, K dan Ca.

Tak cukup memerhatikan asupan makanan seimbang, pemilik tubuh kurus pun harus mengatur jadwal makan lebih teratur dan memerhatikan jumlah kalori sesuai kebutuhan. Perhatikan tiga aspek penting agar tubuh sehat, yaitu konsumsi asupan gizi seimbang, olahraga teratur, serta istirahat cukup. Kesemua aspek tersebut harus diperhatikan sejak dini bila Anda ingin bertubuh kurus, dan tentu saja sehat.
 
okezone.com

Thursday, March 25, 2010

9 Alasan Mengapa Bobot Anda Belum Turun Juga

KOMPAS.com - Usaha-usaha keras untuk mengurangi berat tubuh belum juga memberikan hasil menyenangkan? Mungkin karena Anda melakukan satu atau lebih dari alasan di bawah ini. Simak dan cari tahu.
Anda Butuh Tidur Siang
Kebanyakan orang makan untuk menambah energi saat mereka merasa kelelahan. Merasa kelelahan bisa membuat seseorang kekurangan fokus mental dan "tak peduli" akan gaya hidupnya. Manusia akan "lari" ke asupan makanan agar bisa tetap terjaga di antara waktu makan besar, padahal yang sebenarnya ia butuhkan hanyalah tidur siang sejenak.

Sehat Tidak Sama dengan Rendah Kalori
Langkah pertama untuk menjaga kondisi sehat adalah untuk mengisi asupan sehari-hari dengan lemak nabati yang sehat, (seperti minyak zaitun). Semua lemak, baik yang sehat maupun tidak, sama-sama memiliki kalori, kira-kira sebanyak 120 setiap satu sendok makan. Kacang-kacang yang baik untuk jantung bisa jadi makanan camilan yang sehat, namun, tetap harus mengkontrol jumlah sajiannya. Karena satu genggam kacang saja bisa mencapai 100 kalori.

Dalam Masa Pengobatan
Jika Anda baru mulai pengobatan dan merasa bobot tubuh Anda merangkak naik, bisa jadi karena obat-obatan tersebut memperlambat metabolisme tubuh atau menstimulasi nafsu makan. Ini termasuk dalam obat-obatan antidepresan dan penyeimbang mood, antihistamin, insulin, dan obat antiradang. Diskusikan dengan dokter Anda apakah mungkin untuk melanjutkan pengobatan tersebut dengan obat yang efeknya lebih ringan.

Ada Penyakit Medis tak Terdiagnosa
Beberapa penyakit medis cenderung "tak terdeteksi" dan bisa berkontribusi pada masalah pengurangan berat badan. Masalah seperti tiroid, kenaikan tingkat insulin darah (bahkan tanpa gula darah yang tinggi akibat diabetes sekalipun), dan kelainan mood (depresi dan kecemasan) bisa menjadi penghalang turunnya berat badan. Cek dengan dokter Anda dan mintalah pengecekan darah untuk menentukan masalah utamanya.

Anda Butuh Manajemen Stres
"Makan tanpa sadar" datang dari kekurangan fokus dan kesulitan menghadapi stres dalam hidup. Kita makan untuk meredakan ketegangan dan memberikan "hadiah" kepada diri sendiri, yang padahal hanya berhasil dalam waktu singkat. Amat penting untuk mencari cara agar kita tidak "lari" ke makanan sebagai pengendali stres.

Melewatkan Waktu Makan
Entah karena berusaha menghemat waktu, uang, atau kalori, melewatkan waktu makan merupakan sebuah penghalang besar untuk pengurangan berat badan. Ketika kita melewatkan waktu makan, tubuh akan bereaksi dan membuat kita lapar hingga waktu makan selanjutnya. Inilah mengapa mereka yang suka melewatkan waktu makan akan cenderung makan berlebihan di penghujung hari.

Salah Porsi
Bahkan peracik makanan profesional pun tak bisa memperhitungkan kalori yang tersaji setiap kali ada makanan di hadapannya. Kurangi porsi Anda dengan menggunakan piring kecil dan pastikan untuk selalu membaca ukuran saji setiap kali Anda akan makan makanan kemasan.

Berolahraga Terlalu Banyak
Berolahraga dan berkeringat banyak memang akan menggoda kita berpikir bahwa kita berhasil membakar banyak kalori. Padahal, ada efek yang tersembunyi di baliknya. Pasalnya, olahraga yang berlebihan bisa menstimulasi rasa lapar, karena tubuh kita merespon untuk minta diisi energi ulang untuk menyeimbangkan metabolisme. Ini adalah hal yang alamiah, dan mudah untuk membohongi diri kita bahwa tubuh kita butuh ratusan kalori ekstra.

Estimasi Berlebihan Kalori yang Terbakar
Kita cenderung melewati estimasi banyaknya kalori yang terbakar saat berolahraga. Mudah untuk berpikir bahwa kita telah membakar ribuan kalori saat kita sedang berkeringat. Padahal, tak hanya durasi, tapi intensitas latihan juga berpengaruh. Berpikir bahwa kita sudah membakar kalori yang cukup untuk mengkompensasi asupan berlebih hanya akan menjadi alasan untuk kita makan berlebihan

9 Alasan Mengapa Bobot Anda Belum Turun Juga

KOMPAS.com - Usaha-usaha keras untuk mengurangi berat tubuh belum juga memberikan hasil menyenangkan? Mungkin karena Anda melakukan satu atau lebih dari alasan di bawah ini. Simak dan cari tahu.
Anda Butuh Tidur Siang
Kebanyakan orang makan untuk menambah energi saat mereka merasa kelelahan. Merasa kelelahan bisa membuat seseorang kekurangan fokus mental dan "tak peduli" akan gaya hidupnya. Manusia akan "lari" ke asupan makanan agar bisa tetap terjaga di antara waktu makan besar, padahal yang sebenarnya ia butuhkan hanyalah tidur siang sejenak.

Sehat Tidak Sama dengan Rendah Kalori
Langkah pertama untuk menjaga kondisi sehat adalah untuk mengisi asupan sehari-hari dengan lemak nabati yang sehat, (seperti minyak zaitun). Semua lemak, baik yang sehat maupun tidak, sama-sama memiliki kalori, kira-kira sebanyak 120 setiap satu sendok makan. Kacang-kacang yang baik untuk jantung bisa jadi makanan camilan yang sehat, namun, tetap harus mengkontrol jumlah sajiannya. Karena satu genggam kacang saja bisa mencapai 100 kalori.

Dalam Masa Pengobatan
Jika Anda baru mulai pengobatan dan merasa bobot tubuh Anda merangkak naik, bisa jadi karena obat-obatan tersebut memperlambat metabolisme tubuh atau menstimulasi nafsu makan. Ini termasuk dalam obat-obatan antidepresan dan penyeimbang mood, antihistamin, insulin, dan obat antiradang. Diskusikan dengan dokter Anda apakah mungkin untuk melanjutkan pengobatan tersebut dengan obat yang efeknya lebih ringan.

Ada Penyakit Medis tak Terdiagnosa
Beberapa penyakit medis cenderung "tak terdeteksi" dan bisa berkontribusi pada masalah pengurangan berat badan. Masalah seperti tiroid, kenaikan tingkat insulin darah (bahkan tanpa gula darah yang tinggi akibat diabetes sekalipun), dan kelainan mood (depresi dan kecemasan) bisa menjadi penghalang turunnya berat badan. Cek dengan dokter Anda dan mintalah pengecekan darah untuk menentukan masalah utamanya.

Anda Butuh Manajemen Stres
"Makan tanpa sadar" datang dari kekurangan fokus dan kesulitan menghadapi stres dalam hidup. Kita makan untuk meredakan ketegangan dan memberikan "hadiah" kepada diri sendiri, yang padahal hanya berhasil dalam waktu singkat. Amat penting untuk mencari cara agar kita tidak "lari" ke makanan sebagai pengendali stres.

Melewatkan Waktu Makan
Entah karena berusaha menghemat waktu, uang, atau kalori, melewatkan waktu makan merupakan sebuah penghalang besar untuk pengurangan berat badan. Ketika kita melewatkan waktu makan, tubuh akan bereaksi dan membuat kita lapar hingga waktu makan selanjutnya. Inilah mengapa mereka yang suka melewatkan waktu makan akan cenderung makan berlebihan di penghujung hari.

Salah Porsi
Bahkan peracik makanan profesional pun tak bisa memperhitungkan kalori yang tersaji setiap kali ada makanan di hadapannya. Kurangi porsi Anda dengan menggunakan piring kecil dan pastikan untuk selalu membaca ukuran saji setiap kali Anda akan makan makanan kemasan.

Berolahraga Terlalu Banyak
Berolahraga dan berkeringat banyak memang akan menggoda kita berpikir bahwa kita berhasil membakar banyak kalori. Padahal, ada efek yang tersembunyi di baliknya. Pasalnya, olahraga yang berlebihan bisa menstimulasi rasa lapar, karena tubuh kita merespon untuk minta diisi energi ulang untuk menyeimbangkan metabolisme. Ini adalah hal yang alamiah, dan mudah untuk membohongi diri kita bahwa tubuh kita butuh ratusan kalori ekstra.

Estimasi Berlebihan Kalori yang Terbakar
Kita cenderung melewati estimasi banyaknya kalori yang terbakar saat berolahraga. Mudah untuk berpikir bahwa kita telah membakar ribuan kalori saat kita sedang berkeringat. Padahal, tak hanya durasi, tapi intensitas latihan juga berpengaruh. Berpikir bahwa kita sudah membakar kalori yang cukup untuk mengkompensasi asupan berlebih hanya akan menjadi alasan untuk kita makan berlebihan