Showing posts with label Lupa. Show all posts
Showing posts with label Lupa. Show all posts

Saturday, April 10, 2010

Lupa, Demensia, dan Amnesia

Surat keterangan dokter terkait Nunun Nurbaeti Daradjatun  yang berkali-kali alpa datang ke persidangan kasus dugaan suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Miranda Goeltom segera menarik perhatian. Betapa tidak?

Dalam surat keterangan itu disebutkan, perempuan tokoh kunci kasus itu menderita penyakit lupa berat. Belakangan, jawaban ”lupa” dari saksi kasus-kasus korupsi kerap membuat hakim jengkel.

Dalam kehidupan sehari-hari, melupakan sesuatu dianggap hal biasa. Lupa nama seseorang yang menyapa kita di jalan, lupa di mana menaruh kunci, atau lupa apa yang baru saja hendak dikerjakan. Namun, ternyata persoalan lupa tidaklah sesederhana yang kita bayangkan. Sebaliknya, sungguh rumit, sekompleks sistem otak manusia.

Fungsi dasar otak, antara lain melihat, merasa, meraba, bergerak, keseimbangan, mendengar, dan pengaturan fungsi organ tubuh. Adapun fungsi luhur otak mencakup intelektual kognitif, ingatan, perilaku, dan emosi.

Otak memiliki sekitar 100 miliar sel dengan kecepatan berkembang neuron atau sel otak 50.000-100.000 per detik. Sebagiannya akan mati. Sel-sel mengatur diri menjadi kluster. Kluster yang rapat disebut modul, sedang kluster yang menjalin hubungan komunikasi dengan modul lain disebut sirkuit.

Spesialis saraf sekaligus Koordinator Klinik Memori di Siloam Hospitals Lippo Karawaci, Rocksy Fransisca, mengatakan, fungsi memori terdapat dalam hipokampus, komponen fungsional sistem limbik.

Hipokampus memegang peranan penting dalam menghubungkan dan sebaliknya mengirimkan informasi ke hipotalamus guna membantu mengatur informasi yang akan dipelajari. Jika hipokampus mengalami kerusakan, seseorang sulit menyimpan informasi baru. Tidak berarti fungsi ingatan berada di titik tertentu

lantaran sistem otak berbentuk sirkuit. ”Jika bagian lain terganggu, ingatan ikut terganggu,” ujarnya.

Penyebab lupa

Penurunan daya ingat disebabkan banyak faktor, antara lain gangguan organik di otak, tekanan psikologis, dan gangguan lain (gula dan oksigen).

Kerusakan fungsi memori organik disebabkan antara lain, ada penyakit di otak akibat stroke, infeksi, tumor, dan degeneratif (penurunan kondisi) sehingga ada kerusakan di otak. Akibatnya, fungsi otak terganggu, terutama ingatan. Umumnya, yang pertama kali terganggu ialah ingatan jangka pendek.

Gangguan fungsi kognitif, demensia, misalnya, dapat disebabkan alzheimer yang dikenal sebagai demensia alzheimer. Penurunan fungsi itu dapat pula diakibatkan gangguan pembuluh darah otak (demensia vaskular) di antaranya stroke, sumbatan kecil pada pembuluh darah otak yang meluas sehingga banyak sel-sel otak yang mati.

Demensia merupakan gangguan fungsi kognitif menyeluruh otak yang ditandai antara lain dengan gangguan fungsi memori. Biasanya diawali dengan memori jangka pendek lalu diikuti ingatan jangka menengah dan panjang. Kondisi itu disertai satu atau lebih gangguan fungsi kognitif lain: kemampuan berbahasa, orientasi, bertindak secara berencana, berhitung, dan pengenalan benda.

Demensia bersifat progresif dan ingatan sulit dikembalikan. ”Ketika seseorang terkena stroke, fungsi otak, termasuk ingatan, ada yang terganggu. Bisa saja fungsi ingatan jangka pendek, jangka panjang, atau bahkan keduanya,” ujarnya.

Akibat benturan

 Berbeda dengan demensia, amnesia paling banyak diakibatkan benturan atau guncangan terhadap otak. Amnesia bersifat sementara dan selektif. Umumnya, seseorang yang amnesia hanya lupa pada periode tertentu.

Rocksy mengatakan, berbagai penyakit lain, seperti hipertensi dan diabetes secara terus-menerus secara tidak langsung memengaruhi memori. Penyakit yang terutama dipicu gaya hidup tidak sehat tersebut lalu menjadi faktor risiko terjadinya gangguan lain, seperti demensia.

Memori terkait pula dengan kondisi psikis. Psikiater Nalini Muhdi Agung dari RS Dr Sutomo dan pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya mengatakan, ingatan berkaitan erat dengan emosi dan persepsi.

Trauma kejiwaan yang amat berbekas, misalnya pada korban pemerkosaan, akan timbul represi terhadap ingatan akan kejadian itu. Ingatan itu ditekan ke alam bawah sadar sebagai mekanisme pertahanan ego. Lantas, bisakah manusia memilih apa yang ingin diingat atau dilupakannya?

”Peristiwa, kesan, atau informasi yang disukai, lebih mudah diingat. Informasi atau peristiwa yang tidak disukai dapat diblok oleh alam bawah sadar. Persepsi bahwa sebuah informasi tidak penting membuat orang mengingatnya sesaat,” ujar Nalini.

Ingatan seseorang terhadap sesuatu juga bergantung pada cara pencatatan terhadap informasi yang diterima serta pemanggilannya. Kecerdasan seseorang juga sangat berpengaruh.

”Lupa berat”

Begitu mendengar kata ”penyakit lupa berat” Nalini dan Rocksy sempat terbingung-bingung. Nalini berpendapat, diagnostik dari seorang ahli hendaknya menggunakan bahasa ilmiah yang dapat dipahami.

Pusing, misalnya, bisa saja mengarah ke berbagai penyakit, mulai dari vertigo sampai migrain. Saat hanya disebutkan ”penyakit lupa berat” tentu akan menimbulkan pertanyaan, penyakit lupa seperti apa.

Di samping itu, tes untuk menegakkan diagnosis harus sesuai. Magnetic resonance image (MRI) biasanya lebih digunakan untuk melihat adanya kerusakan pada otak. Seberapa berat penurunan fungsi memori sendiri tidak dapat dideteksi dengan alat itu.

Rocksy mengatakan, telah tersedia cukup banyak alat tes dan skrining untuk mengukur fungsi ingatan. Tes fungsi ingatan yang sederhana, misalnya, pasien diminta membaca sepuluh kata dalam sepuluh detik. Beberapa saat kemudian ditanyakan kembali apakah masih mengingat bacaan tersebut.

 Jadi, berhati-hatilah jika mulai sering berkata, ”Ah... sudah lupa, tuh...”
Kompas/Indiria Permanasari

Lupa, Demensia, dan Amnesia

Surat keterangan dokter terkait Nunun Nurbaeti Daradjatun  yang berkali-kali alpa datang ke persidangan kasus dugaan suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Miranda Goeltom segera menarik perhatian. Betapa tidak?

Dalam surat keterangan itu disebutkan, perempuan tokoh kunci kasus itu menderita penyakit lupa berat. Belakangan, jawaban ”lupa” dari saksi kasus-kasus korupsi kerap membuat hakim jengkel.

Dalam kehidupan sehari-hari, melupakan sesuatu dianggap hal biasa. Lupa nama seseorang yang menyapa kita di jalan, lupa di mana menaruh kunci, atau lupa apa yang baru saja hendak dikerjakan. Namun, ternyata persoalan lupa tidaklah sesederhana yang kita bayangkan. Sebaliknya, sungguh rumit, sekompleks sistem otak manusia.

Fungsi dasar otak, antara lain melihat, merasa, meraba, bergerak, keseimbangan, mendengar, dan pengaturan fungsi organ tubuh. Adapun fungsi luhur otak mencakup intelektual kognitif, ingatan, perilaku, dan emosi.

Otak memiliki sekitar 100 miliar sel dengan kecepatan berkembang neuron atau sel otak 50.000-100.000 per detik. Sebagiannya akan mati. Sel-sel mengatur diri menjadi kluster. Kluster yang rapat disebut modul, sedang kluster yang menjalin hubungan komunikasi dengan modul lain disebut sirkuit.

Spesialis saraf sekaligus Koordinator Klinik Memori di Siloam Hospitals Lippo Karawaci, Rocksy Fransisca, mengatakan, fungsi memori terdapat dalam hipokampus, komponen fungsional sistem limbik.

Hipokampus memegang peranan penting dalam menghubungkan dan sebaliknya mengirimkan informasi ke hipotalamus guna membantu mengatur informasi yang akan dipelajari. Jika hipokampus mengalami kerusakan, seseorang sulit menyimpan informasi baru. Tidak berarti fungsi ingatan berada di titik tertentu

lantaran sistem otak berbentuk sirkuit. ”Jika bagian lain terganggu, ingatan ikut terganggu,” ujarnya.

Penyebab lupa

Penurunan daya ingat disebabkan banyak faktor, antara lain gangguan organik di otak, tekanan psikologis, dan gangguan lain (gula dan oksigen).

Kerusakan fungsi memori organik disebabkan antara lain, ada penyakit di otak akibat stroke, infeksi, tumor, dan degeneratif (penurunan kondisi) sehingga ada kerusakan di otak. Akibatnya, fungsi otak terganggu, terutama ingatan. Umumnya, yang pertama kali terganggu ialah ingatan jangka pendek.

Gangguan fungsi kognitif, demensia, misalnya, dapat disebabkan alzheimer yang dikenal sebagai demensia alzheimer. Penurunan fungsi itu dapat pula diakibatkan gangguan pembuluh darah otak (demensia vaskular) di antaranya stroke, sumbatan kecil pada pembuluh darah otak yang meluas sehingga banyak sel-sel otak yang mati.

Demensia merupakan gangguan fungsi kognitif menyeluruh otak yang ditandai antara lain dengan gangguan fungsi memori. Biasanya diawali dengan memori jangka pendek lalu diikuti ingatan jangka menengah dan panjang. Kondisi itu disertai satu atau lebih gangguan fungsi kognitif lain: kemampuan berbahasa, orientasi, bertindak secara berencana, berhitung, dan pengenalan benda.

Demensia bersifat progresif dan ingatan sulit dikembalikan. ”Ketika seseorang terkena stroke, fungsi otak, termasuk ingatan, ada yang terganggu. Bisa saja fungsi ingatan jangka pendek, jangka panjang, atau bahkan keduanya,” ujarnya.

Akibat benturan

 Berbeda dengan demensia, amnesia paling banyak diakibatkan benturan atau guncangan terhadap otak. Amnesia bersifat sementara dan selektif. Umumnya, seseorang yang amnesia hanya lupa pada periode tertentu.

Rocksy mengatakan, berbagai penyakit lain, seperti hipertensi dan diabetes secara terus-menerus secara tidak langsung memengaruhi memori. Penyakit yang terutama dipicu gaya hidup tidak sehat tersebut lalu menjadi faktor risiko terjadinya gangguan lain, seperti demensia.

Memori terkait pula dengan kondisi psikis. Psikiater Nalini Muhdi Agung dari RS Dr Sutomo dan pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya mengatakan, ingatan berkaitan erat dengan emosi dan persepsi.

Trauma kejiwaan yang amat berbekas, misalnya pada korban pemerkosaan, akan timbul represi terhadap ingatan akan kejadian itu. Ingatan itu ditekan ke alam bawah sadar sebagai mekanisme pertahanan ego. Lantas, bisakah manusia memilih apa yang ingin diingat atau dilupakannya?

”Peristiwa, kesan, atau informasi yang disukai, lebih mudah diingat. Informasi atau peristiwa yang tidak disukai dapat diblok oleh alam bawah sadar. Persepsi bahwa sebuah informasi tidak penting membuat orang mengingatnya sesaat,” ujar Nalini.

Ingatan seseorang terhadap sesuatu juga bergantung pada cara pencatatan terhadap informasi yang diterima serta pemanggilannya. Kecerdasan seseorang juga sangat berpengaruh.

”Lupa berat”

Begitu mendengar kata ”penyakit lupa berat” Nalini dan Rocksy sempat terbingung-bingung. Nalini berpendapat, diagnostik dari seorang ahli hendaknya menggunakan bahasa ilmiah yang dapat dipahami.

Pusing, misalnya, bisa saja mengarah ke berbagai penyakit, mulai dari vertigo sampai migrain. Saat hanya disebutkan ”penyakit lupa berat” tentu akan menimbulkan pertanyaan, penyakit lupa seperti apa.

Di samping itu, tes untuk menegakkan diagnosis harus sesuai. Magnetic resonance image (MRI) biasanya lebih digunakan untuk melihat adanya kerusakan pada otak. Seberapa berat penurunan fungsi memori sendiri tidak dapat dideteksi dengan alat itu.

Rocksy mengatakan, telah tersedia cukup banyak alat tes dan skrining untuk mengukur fungsi ingatan. Tes fungsi ingatan yang sederhana, misalnya, pasien diminta membaca sepuluh kata dalam sepuluh detik. Beberapa saat kemudian ditanyakan kembali apakah masih mengingat bacaan tersebut.

 Jadi, berhati-hatilah jika mulai sering berkata, ”Ah... sudah lupa, tuh...”
Kompas/Indiria Permanasari

Saturday, April 3, 2010

Mudah Lupa Saat Hamil? Hormon Pemicunya

Banyak ibu hamil yang mengeluhkan dirinya jadi lebih pelupa, terutama untuk hal-hal kecil, seperti lupa meletakkan kunci atau mengingat nama seseorang. Studi menunjukkan, naiknya kadar hormon selama kehamilan menjadi biang keladinya.

Dalam sebuah penelitian, Diane Farrar dari University of Bradford, Inggris, melakukan sebuah tes memori spasial terhadap ibu hamil. Memori spasial adalah daya ingat mengenai ruang, misalnya, di mana mobil diparkir atau kacamata disimpan.

Para peneliti juga mengukur kadar hormon seks dan meminta para responden menjawab pertanyaan mengenai kadar kecemasan dan mood mereka. Hasil studi yang melibatkan 23 ibu hamil ini dibandingkan dengan 24 wanita yang tidak hamil.

Selama trisemester kedua dan ketiga, para ibu hamil secara signifikan memiliki memori spasial yang lebih buruk dibandingkan rekannya yang tidak hamil. Gangguan daya ingat bahkan masih tinggal hingga tiga bulan pasca-persalinan. Para ibu hamil juga dilaporkan memiliki mood yang tidak stabil dan dilanda kecemasan selama hamil.

Menurut studi yang dipresentasikan dalam pertemuan Society for Endocrinology di Inggris itu, tingginya kadar hormon seks yang bersirkulasi dalam tubuh ibu hamil diduga berpengaruh negatif terhadap bagian saraf di otak yang berfungsi dalam daya ingat spasial.

"Seperti diketahui, steroid seks dalam kadar tinggi bisa berdampak merusak di saraf. Meski begitu, kami tidak bisa berspekulasi bahwa hal ini hanya dipengaruhi oleh hormon, mungkin masih ada sebab lainnya," kata Farrar.

Kemungkinan lain adalah perasaan depresi yang sering dialami ibu hamil berpengaruh terhadap daya ingatnya. Para ahli juga mencatat bahwa tidak semua ibu hamil mengalami gangguan daya ingat.

KOMPAS.com

Mudah Lupa Saat Hamil? Hormon Pemicunya

Banyak ibu hamil yang mengeluhkan dirinya jadi lebih pelupa, terutama untuk hal-hal kecil, seperti lupa meletakkan kunci atau mengingat nama seseorang. Studi menunjukkan, naiknya kadar hormon selama kehamilan menjadi biang keladinya.

Dalam sebuah penelitian, Diane Farrar dari University of Bradford, Inggris, melakukan sebuah tes memori spasial terhadap ibu hamil. Memori spasial adalah daya ingat mengenai ruang, misalnya, di mana mobil diparkir atau kacamata disimpan.

Para peneliti juga mengukur kadar hormon seks dan meminta para responden menjawab pertanyaan mengenai kadar kecemasan dan mood mereka. Hasil studi yang melibatkan 23 ibu hamil ini dibandingkan dengan 24 wanita yang tidak hamil.

Selama trisemester kedua dan ketiga, para ibu hamil secara signifikan memiliki memori spasial yang lebih buruk dibandingkan rekannya yang tidak hamil. Gangguan daya ingat bahkan masih tinggal hingga tiga bulan pasca-persalinan. Para ibu hamil juga dilaporkan memiliki mood yang tidak stabil dan dilanda kecemasan selama hamil.

Menurut studi yang dipresentasikan dalam pertemuan Society for Endocrinology di Inggris itu, tingginya kadar hormon seks yang bersirkulasi dalam tubuh ibu hamil diduga berpengaruh negatif terhadap bagian saraf di otak yang berfungsi dalam daya ingat spasial.

"Seperti diketahui, steroid seks dalam kadar tinggi bisa berdampak merusak di saraf. Meski begitu, kami tidak bisa berspekulasi bahwa hal ini hanya dipengaruhi oleh hormon, mungkin masih ada sebab lainnya," kata Farrar.

Kemungkinan lain adalah perasaan depresi yang sering dialami ibu hamil berpengaruh terhadap daya ingatnya. Para ahli juga mencatat bahwa tidak semua ibu hamil mengalami gangguan daya ingat.

KOMPAS.com

Monday, March 29, 2010

Mudah Lupa, Pertanda Demensia

Istri saya sebenarnya lebih muda tiga tahun dari saya. Umurnya 64 tahun, sebenarnya keadaan fisiknya cukup baik. Dia masih mandiri dan masih menghadiri berbagai pertemuan ibu-ibu di kampung dengan teratur. Namun, sejak setahun ini dia mudah sekali lupa. Kami sering mengalami kehilangan kunci kamar. Jika kami keluar rumah, kunci kamar disimpan istri saya. Kesulitan mulai timbul jika kami pulang dan istri saya lupa tempat menyimpan kunci.

Cukup lama waktu yang diperlukan untuk mencari kunci, mulai dari membongkar tas dan mencari di tempat-tempat lain. Jika istri saya menerima telepon yang ditujukan untuk saya, dia juga sering lupa siapa yang menelepon. Malam hari istri saya senang menonton TV, terutama diskusi. Dia memang rajin mengikuti berita mengenai anak dan perempuan. Namun, jika saya tanyakan siapa yang berbicara, dia lama sekali baru dapat mengingat. Juga isi keseluruhan pembicaraan di televisi kurang dapat ditangkap dengan baik.

Saya agak khawatir dia terkena stroke. Karena ayahnya dulu meninggal karena penyakit tersebut. Menurut dokter spesialis penyakit dalam yang menjadi dokter keluarga kami, istri saya menderita penurunan fungsi kognitif ringan. Saya merasa lega bahwa kelainan yang dideritanya bukanlah kelainan yang serius, tetapi saya juga heran kenapa istri saya yang lebih muda lebih mudah lupa daripada saya yang lebih tua. Sekarang saya belum berani melepaskan istri saya bepergian sendiri keluar rumah. Jika memungkinkan, saya akan menyertainya. Jika saya tak dapat menemaninya, saya usahakan ada anggota keluarga lain yang menemani. Maklumlah, anak-anak kami semuanya telah berkeluarga dan tinggal berlainan kota dengan kami.

Jika akan berbelanja, kami membuat catatan yang harus dibeli sehingga dia tak lupa apa yang harus dibeli. Secara keseluruhan, sebenarnya kehidupan kami cukup menyenangkan di usia tua. Saya merasa bersyukur karena banyak teman kami pada usia yang hampir serupa mengalami penyakit-penyakit yang jauh lebih serius. Saya mohon saran dari dokter, apa yang dapat saya lakukan untuk mengurangi kebiasaan lupa istri saya. Adakah faktor-faktor yang dapat memberatkan kebiasaan lupanya? Apakah kebiasaan lupa istri saya sudah dapat digolongkan demensia? Terima kasih atas penjelasan dokter.

(M di J)


Saya ikut merasa senang Anda dan istri dapat menikmati masa usia lanjut dengan bahagia. Penurunan kognitif yang ringan memang dapat terjadi pada usia lanjut. Kekerapannya, menurut Perhimpunan Gerentologi Medik Indonesia, berkisar antara 3% dan 15%. Kelainan ini dapat digolongkan sindrom predemensia. Pada keadaan ini, kondisi yang dihadapi istri Anda merupakan kondisi transisi fungsi kognisi antara penuaan normal dan demensia ringan. Sebagian penurunan kognitif ringan ini dapat menjadi demensia. Selain penurunan kognitif ringan ini, terdapat keadaan penurunan fungsi kognitif ringan yang berhubungan dengan iskemia (penurunan aliran darah) serta infark jaringan otak akibat penyakit pembuluh darah dan aterosklerosis.

Faktor-faktor risiko timbulnya gangguan kognitif ringan adalah usia lanjut, tekanan darah tinggi, diabetes melitus, dislipidemia, merokok, obesitas, penyakit paru obstruktif menahun, gagal jantung, dan gangguan pembekuan darah. Diagnosis gangguan fungsi kognitif ringan dapat ditunjang dengan pemeriksaan neuropsikiatri. Pemeriksaan yang sering dilakukan adalah Mini Mental State Examination. Pada keadaan gangguan kognitif ringan mempunyai nilai > 24, sedangkan nilai < 24 digolongkan sebagai demensia. Pada gangguan fungsi kognitif ringan biasanya aktivitas sehari-hari penderita masih baik.

Pengendalian faktor risiko pada usia lanjut akan kekerapan gangguan fungsi kognitif ringan dapat diturunkan. Sedangkan bagi pasien yang sudah mengalami gangguan fungsi kognitif ringan pengendalian faktor risiko dapat memperbaiki fungsi kognitif dan menahan laju kelainan ini menjadi demensia. Usaha yang dapat dilakukan adalah memantau dan mengendalikan tekanan darah, diabetes mellitus, dislipidemia, menurunkan berat badan berlebih, serta mengendalikan hiperkoagulasi darah. Obat-obat yang digunakan untuk penyakit alzheimer juga manfaat untuk terapi gangguan fungsi kognitif ringan ini. Keterlibatan penderita dalam kehidupan sosial serta partisipasi pada kegiatan yang merangsang fungsi kognitif dapat memperlambat munculnya gangguan fungsi kognitif ringan ini.

Nah, Anda tentu bersyukur tidak mengalami gangguan fungsi kognitif, tetapi tentu Anda harus mempertahankan gaya hidup sehat sehingga faktor risiko gangguan fungsi kognitif dapat dihindari. Saya berharap istri Anda akan semakin baik fungsi kognitifnya dan Anda sekeluarga akan selalu sehat dan bahagia.

Konsultasi dijawab Dr Samsuridjal Djauzi
KOMPAS.com 

Mudah Lupa, Pertanda Demensia

Istri saya sebenarnya lebih muda tiga tahun dari saya. Umurnya 64 tahun, sebenarnya keadaan fisiknya cukup baik. Dia masih mandiri dan masih menghadiri berbagai pertemuan ibu-ibu di kampung dengan teratur. Namun, sejak setahun ini dia mudah sekali lupa. Kami sering mengalami kehilangan kunci kamar. Jika kami keluar rumah, kunci kamar disimpan istri saya. Kesulitan mulai timbul jika kami pulang dan istri saya lupa tempat menyimpan kunci.

Cukup lama waktu yang diperlukan untuk mencari kunci, mulai dari membongkar tas dan mencari di tempat-tempat lain. Jika istri saya menerima telepon yang ditujukan untuk saya, dia juga sering lupa siapa yang menelepon. Malam hari istri saya senang menonton TV, terutama diskusi. Dia memang rajin mengikuti berita mengenai anak dan perempuan. Namun, jika saya tanyakan siapa yang berbicara, dia lama sekali baru dapat mengingat. Juga isi keseluruhan pembicaraan di televisi kurang dapat ditangkap dengan baik.

Saya agak khawatir dia terkena stroke. Karena ayahnya dulu meninggal karena penyakit tersebut. Menurut dokter spesialis penyakit dalam yang menjadi dokter keluarga kami, istri saya menderita penurunan fungsi kognitif ringan. Saya merasa lega bahwa kelainan yang dideritanya bukanlah kelainan yang serius, tetapi saya juga heran kenapa istri saya yang lebih muda lebih mudah lupa daripada saya yang lebih tua. Sekarang saya belum berani melepaskan istri saya bepergian sendiri keluar rumah. Jika memungkinkan, saya akan menyertainya. Jika saya tak dapat menemaninya, saya usahakan ada anggota keluarga lain yang menemani. Maklumlah, anak-anak kami semuanya telah berkeluarga dan tinggal berlainan kota dengan kami.

Jika akan berbelanja, kami membuat catatan yang harus dibeli sehingga dia tak lupa apa yang harus dibeli. Secara keseluruhan, sebenarnya kehidupan kami cukup menyenangkan di usia tua. Saya merasa bersyukur karena banyak teman kami pada usia yang hampir serupa mengalami penyakit-penyakit yang jauh lebih serius. Saya mohon saran dari dokter, apa yang dapat saya lakukan untuk mengurangi kebiasaan lupa istri saya. Adakah faktor-faktor yang dapat memberatkan kebiasaan lupanya? Apakah kebiasaan lupa istri saya sudah dapat digolongkan demensia? Terima kasih atas penjelasan dokter.

(M di J)


Saya ikut merasa senang Anda dan istri dapat menikmati masa usia lanjut dengan bahagia. Penurunan kognitif yang ringan memang dapat terjadi pada usia lanjut. Kekerapannya, menurut Perhimpunan Gerentologi Medik Indonesia, berkisar antara 3% dan 15%. Kelainan ini dapat digolongkan sindrom predemensia. Pada keadaan ini, kondisi yang dihadapi istri Anda merupakan kondisi transisi fungsi kognisi antara penuaan normal dan demensia ringan. Sebagian penurunan kognitif ringan ini dapat menjadi demensia. Selain penurunan kognitif ringan ini, terdapat keadaan penurunan fungsi kognitif ringan yang berhubungan dengan iskemia (penurunan aliran darah) serta infark jaringan otak akibat penyakit pembuluh darah dan aterosklerosis.

Faktor-faktor risiko timbulnya gangguan kognitif ringan adalah usia lanjut, tekanan darah tinggi, diabetes melitus, dislipidemia, merokok, obesitas, penyakit paru obstruktif menahun, gagal jantung, dan gangguan pembekuan darah. Diagnosis gangguan fungsi kognitif ringan dapat ditunjang dengan pemeriksaan neuropsikiatri. Pemeriksaan yang sering dilakukan adalah Mini Mental State Examination. Pada keadaan gangguan kognitif ringan mempunyai nilai > 24, sedangkan nilai < 24 digolongkan sebagai demensia. Pada gangguan fungsi kognitif ringan biasanya aktivitas sehari-hari penderita masih baik.

Pengendalian faktor risiko pada usia lanjut akan kekerapan gangguan fungsi kognitif ringan dapat diturunkan. Sedangkan bagi pasien yang sudah mengalami gangguan fungsi kognitif ringan pengendalian faktor risiko dapat memperbaiki fungsi kognitif dan menahan laju kelainan ini menjadi demensia. Usaha yang dapat dilakukan adalah memantau dan mengendalikan tekanan darah, diabetes mellitus, dislipidemia, menurunkan berat badan berlebih, serta mengendalikan hiperkoagulasi darah. Obat-obat yang digunakan untuk penyakit alzheimer juga manfaat untuk terapi gangguan fungsi kognitif ringan ini. Keterlibatan penderita dalam kehidupan sosial serta partisipasi pada kegiatan yang merangsang fungsi kognitif dapat memperlambat munculnya gangguan fungsi kognitif ringan ini.

Nah, Anda tentu bersyukur tidak mengalami gangguan fungsi kognitif, tetapi tentu Anda harus mempertahankan gaya hidup sehat sehingga faktor risiko gangguan fungsi kognitif dapat dihindari. Saya berharap istri Anda akan semakin baik fungsi kognitifnya dan Anda sekeluarga akan selalu sehat dan bahagia.

Konsultasi dijawab Dr Samsuridjal Djauzi
KOMPAS.com 

Tuesday, March 23, 2010

Mau Jantung Sehat? Jangan Lupa Serat!



KOMPAS.com -  Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu penyebab kematian utama di dunia, termasuk di Indonesia. Meningkatnya jumlah kematian tersebut dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup. Diet tinggi serat membantu menghindari serangan mematikan itu.

Semua orang tentu takut terkena serangan jantung yang bisa berakhir dengan kematian mendadak. Mengutip sebuah laporan, dalam sebuah seminar tentang jantung, Dr. Idris Idham, Sp.JP, FESC, mengatakan bahwa lebih dari satu juta orang di Amerika Serikat mengalami serangan jantung setiap tahunnya.

Separuh di antara mereka mengalami kematian pada jam-jam pertama setelah serangan. Setengah lainnya berhasil mencapai rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan dan dirawat di Unit Perawatan Koroner Intensif (ICCU) atau disebut juga Unit Perawatan Kardiovaskular Intensif (Cardio Vascular Care Unit).

Angka kematian pasien yang sempat masuk rumah sakit mencapai sekitar 15 persen, biasanya akibat matinya (necrose) otot jantung yang luas. Sekitar 425.000 pasien yang dirawat bisa meninggalkan rumah sakit, tetapi sekitar 10 persen (42.000 orang) dari jumlah itu meninggal setelah setahun kemudian.

Menurut Dr. Idris, serangan jantung terjadi bila terdapat kematian otot-otot jantung yang disebabkan oleh terhentinya pasokan darah ke otot jantung. Kejadian itu akibat tersumbatnya satu atau lebih pembuluh darah arteri koroner oleh gumpalan darah. Gumpalan darah ini disebut trombus. Tersumbatnya pembuluh koroner mengakibatkan otot-otot jantung lain tidak mendapat pasokan darah dengan segala nutrisi yang ada di dalamnya, seperti glukosa, vitamin, dan mineral, hormon-hormon dan elektrolit seperti natrium, kalium, magnesium, dan kalsium.

Meski begitu, Anda tak perlu cemas. Untuk mengurangi risiko gangguan di atas, berbagai upaya dapat dilakukan. Intinya adalah selalu menjaga kadar kolesterol darah yang bisa menjadi biang penyumbatan pembuluh koroner, tidak tinggi. Selain memanfaatkan vitamin B3 (niasin), C, dan E, upaya itu juga dapat dilakukan dengan diet tinggi serat.

Manfaat Serat
Dulu serat dianggap sebagai the forgotten nutrient karena fungsinya belum jelas. Namun, sebagai salah satu komponen bahan makanan, kini serat diketahui punya peran penting dalam menjaga kesehatan.

Serat terdiri dari dua jenis, yakni serat larut dan tak larut. Serat larut tidak dapat dicerna oleh enzim pencernaan, tetapi larut dalam air panas. Serat larut inilah yang membuat perut kenyang lebih lama dan memberikan energi lebih panjang serta bermanfaat menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Umumnya terdapat pada buah dan sayur, terutama serelia seperti oat.

Serat tak larut tidak dapat dicerna dan juga tidak larut dalam air panas. Meski tidak dapat dicerna, kata DR. Ali Khomsan, serat punya fungsi metabolisme zat gizi yang penting. Di dalam pencernaan, serat membantu proses fermentasi sari makanan. Serat ini bermanfaat mencegah sembelit, bersifat lembut bagi usus dan menghindarkan risiko kanker perut. Serat ini terdapat pada sayuran seperti asparagus, kacang polong, dan serelia seperti oat.

Karena tidak dicerna, serat masuk ke kolon (usus besar) dalam keadaan utuh. Serat mencapai kolon dalam volume besar dan membutuhkan tempat luas, sehingga menimbulkan perasaan kenyang. Karena itu, kehadiran serat dalam lambung dan saluran pencernaan akan mengurangi keinginan seseorang untuk makan lebih banyak, sehingga mencegah timbulnya risiko kegemukan.

Menurut Dr. Lanny Lestiani, Sp.G(K), MSc., ahli gizi dari Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), makanan tinggi serat membantu menurunkan kolestrol di dalam darah. Serat bermanfaat dalam menahan air dan viskositas di saluran pencernaan, akan diubah menjadi gel di dalam usus. Tujuannya untuk menahan air sehingga orang tidak mudah lapar.

Sayur Masak
DR. Ali Khomsan menambahkan, sumber serat seperti sayuran dan buah-buahan mudah dijumpai dalam menu sehari-hari. Sayuran bisa dikonsumsi dalam bentuk mentah atau setelah diproses melalui perebusan. Meski begitu, hasil penelitian seorang mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), Rahayu, tahun 1990, menunjukkan serat makanan dalam sayuran yang dimasak justru meningkat dibandingkan dengan sayuran mentah.

Bagaimana bisa demikian? Proses pemasakan memang akan menghilangkan beberapa zat gizi. Selain itu, proses pemasakan juga menyebabkan terjadinya reaksi pencokelatan yang dalam analisis gizi terhitung sebagai serat makanan. Inilah yang menyebabkan sayuran yang dimasak punya kandungan serat lebih tinggi. Dalam penelitiannya, Rahayu menemukan bahwa sayuran yang direbus dengan air menghasilkan kadar serat makanan tertinggi (6,40 persen), dikukus (6,24 persen), dimasak dengan santan (5,98 persen), dan mentah (5,97 persen).

Secara umum, kandungan serat di dalam sayuran mencapai 32 persen, buah 38 persen, gandum 32 persen, dan kacang 25 persen. Kata Dr. Lanny, kebutuhan serat untuk orang Indonesia adalah 10-14 gr/1.000 kalori.

Serat Oat
Tak bisa dipungkiri, kini Indonesia dibanjiri produk oat, yang sering disebut havermut, masuk dalam keluarga serelia. Dibanding beras yang tiap 100 gramnya mengandung 0,1 gram serat larut dan gandum yang hanya 2,2 gram, per 100 gram oat mengandung 5,1 gram serat larut. Kandungan serat yang tinggi ini membuat oat layak dijadikan dijadikan pilihan untuk diet tinggi serat.

Sebagai gambaran, serat yang larut dalam tubuh dapat mengikat kolesterol dan mengeluarkannya dari tubuh. Peran itulah yang mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah, hingga menurunkan risiko PJK. Orang yang mengalami obesitas pun bisa mengombinasikan oat dengan makanan rendah kolesterol dan lemak. Oat bisa dimanfaatkan dalam bentuk bubur gandum, biskuit, maupun roti.

Bagaimana oat menurunkan kadar kolesterol dalam darah? Berikut ini uraian singkatnya:

1.    Di dalam hati, kolesterol diubah menjadi asam empedu, kemudian dilepas ke usus halus untuk membantu mencerna lemak dari makanan yang dikonsumsi.

2.    Bila mengasup oatmeal, serat larut oat dalam usus halus membentuk gel yang mengikat lemak, kolesterol, dan asam empedu.

3.    Karena diikat oleh serat larut oat yang berbentuk gel, sebagian asam empedu tidak dapat diserap kembali melalui dinding usus halus, kemudian asam empedu dikeluarkan melalui usus besar, sehingga asam empedu di hati berkurang.

4.    Untuk menggantikan asam empedu yang hilang, hati akan menarik kolesterol dari darah untuk memproduksi asam empedu.

5.    Akibatnya, total kadar kolesterol darah akan menurun.

6.    Dengan menurunnya kadar kolesterol darah, risiko PJK dapat dicegah.

Mau Jantung Sehat? Jangan Lupa Serat!



KOMPAS.com -  Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu penyebab kematian utama di dunia, termasuk di Indonesia. Meningkatnya jumlah kematian tersebut dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup. Diet tinggi serat membantu menghindari serangan mematikan itu.

Semua orang tentu takut terkena serangan jantung yang bisa berakhir dengan kematian mendadak. Mengutip sebuah laporan, dalam sebuah seminar tentang jantung, Dr. Idris Idham, Sp.JP, FESC, mengatakan bahwa lebih dari satu juta orang di Amerika Serikat mengalami serangan jantung setiap tahunnya.

Separuh di antara mereka mengalami kematian pada jam-jam pertama setelah serangan. Setengah lainnya berhasil mencapai rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan dan dirawat di Unit Perawatan Koroner Intensif (ICCU) atau disebut juga Unit Perawatan Kardiovaskular Intensif (Cardio Vascular Care Unit).

Angka kematian pasien yang sempat masuk rumah sakit mencapai sekitar 15 persen, biasanya akibat matinya (necrose) otot jantung yang luas. Sekitar 425.000 pasien yang dirawat bisa meninggalkan rumah sakit, tetapi sekitar 10 persen (42.000 orang) dari jumlah itu meninggal setelah setahun kemudian.

Menurut Dr. Idris, serangan jantung terjadi bila terdapat kematian otot-otot jantung yang disebabkan oleh terhentinya pasokan darah ke otot jantung. Kejadian itu akibat tersumbatnya satu atau lebih pembuluh darah arteri koroner oleh gumpalan darah. Gumpalan darah ini disebut trombus. Tersumbatnya pembuluh koroner mengakibatkan otot-otot jantung lain tidak mendapat pasokan darah dengan segala nutrisi yang ada di dalamnya, seperti glukosa, vitamin, dan mineral, hormon-hormon dan elektrolit seperti natrium, kalium, magnesium, dan kalsium.

Meski begitu, Anda tak perlu cemas. Untuk mengurangi risiko gangguan di atas, berbagai upaya dapat dilakukan. Intinya adalah selalu menjaga kadar kolesterol darah yang bisa menjadi biang penyumbatan pembuluh koroner, tidak tinggi. Selain memanfaatkan vitamin B3 (niasin), C, dan E, upaya itu juga dapat dilakukan dengan diet tinggi serat.

Manfaat Serat
Dulu serat dianggap sebagai the forgotten nutrient karena fungsinya belum jelas. Namun, sebagai salah satu komponen bahan makanan, kini serat diketahui punya peran penting dalam menjaga kesehatan.

Serat terdiri dari dua jenis, yakni serat larut dan tak larut. Serat larut tidak dapat dicerna oleh enzim pencernaan, tetapi larut dalam air panas. Serat larut inilah yang membuat perut kenyang lebih lama dan memberikan energi lebih panjang serta bermanfaat menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Umumnya terdapat pada buah dan sayur, terutama serelia seperti oat.

Serat tak larut tidak dapat dicerna dan juga tidak larut dalam air panas. Meski tidak dapat dicerna, kata DR. Ali Khomsan, serat punya fungsi metabolisme zat gizi yang penting. Di dalam pencernaan, serat membantu proses fermentasi sari makanan. Serat ini bermanfaat mencegah sembelit, bersifat lembut bagi usus dan menghindarkan risiko kanker perut. Serat ini terdapat pada sayuran seperti asparagus, kacang polong, dan serelia seperti oat.

Karena tidak dicerna, serat masuk ke kolon (usus besar) dalam keadaan utuh. Serat mencapai kolon dalam volume besar dan membutuhkan tempat luas, sehingga menimbulkan perasaan kenyang. Karena itu, kehadiran serat dalam lambung dan saluran pencernaan akan mengurangi keinginan seseorang untuk makan lebih banyak, sehingga mencegah timbulnya risiko kegemukan.

Menurut Dr. Lanny Lestiani, Sp.G(K), MSc., ahli gizi dari Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), makanan tinggi serat membantu menurunkan kolestrol di dalam darah. Serat bermanfaat dalam menahan air dan viskositas di saluran pencernaan, akan diubah menjadi gel di dalam usus. Tujuannya untuk menahan air sehingga orang tidak mudah lapar.

Sayur Masak
DR. Ali Khomsan menambahkan, sumber serat seperti sayuran dan buah-buahan mudah dijumpai dalam menu sehari-hari. Sayuran bisa dikonsumsi dalam bentuk mentah atau setelah diproses melalui perebusan. Meski begitu, hasil penelitian seorang mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), Rahayu, tahun 1990, menunjukkan serat makanan dalam sayuran yang dimasak justru meningkat dibandingkan dengan sayuran mentah.

Bagaimana bisa demikian? Proses pemasakan memang akan menghilangkan beberapa zat gizi. Selain itu, proses pemasakan juga menyebabkan terjadinya reaksi pencokelatan yang dalam analisis gizi terhitung sebagai serat makanan. Inilah yang menyebabkan sayuran yang dimasak punya kandungan serat lebih tinggi. Dalam penelitiannya, Rahayu menemukan bahwa sayuran yang direbus dengan air menghasilkan kadar serat makanan tertinggi (6,40 persen), dikukus (6,24 persen), dimasak dengan santan (5,98 persen), dan mentah (5,97 persen).

Secara umum, kandungan serat di dalam sayuran mencapai 32 persen, buah 38 persen, gandum 32 persen, dan kacang 25 persen. Kata Dr. Lanny, kebutuhan serat untuk orang Indonesia adalah 10-14 gr/1.000 kalori.

Serat Oat
Tak bisa dipungkiri, kini Indonesia dibanjiri produk oat, yang sering disebut havermut, masuk dalam keluarga serelia. Dibanding beras yang tiap 100 gramnya mengandung 0,1 gram serat larut dan gandum yang hanya 2,2 gram, per 100 gram oat mengandung 5,1 gram serat larut. Kandungan serat yang tinggi ini membuat oat layak dijadikan dijadikan pilihan untuk diet tinggi serat.

Sebagai gambaran, serat yang larut dalam tubuh dapat mengikat kolesterol dan mengeluarkannya dari tubuh. Peran itulah yang mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah, hingga menurunkan risiko PJK. Orang yang mengalami obesitas pun bisa mengombinasikan oat dengan makanan rendah kolesterol dan lemak. Oat bisa dimanfaatkan dalam bentuk bubur gandum, biskuit, maupun roti.

Bagaimana oat menurunkan kadar kolesterol dalam darah? Berikut ini uraian singkatnya:

1.    Di dalam hati, kolesterol diubah menjadi asam empedu, kemudian dilepas ke usus halus untuk membantu mencerna lemak dari makanan yang dikonsumsi.

2.    Bila mengasup oatmeal, serat larut oat dalam usus halus membentuk gel yang mengikat lemak, kolesterol, dan asam empedu.

3.    Karena diikat oleh serat larut oat yang berbentuk gel, sebagian asam empedu tidak dapat diserap kembali melalui dinding usus halus, kemudian asam empedu dikeluarkan melalui usus besar, sehingga asam empedu di hati berkurang.

4.    Untuk menggantikan asam empedu yang hilang, hati akan menarik kolesterol dari darah untuk memproduksi asam empedu.

5.    Akibatnya, total kadar kolesterol darah akan menurun.

6.    Dengan menurunnya kadar kolesterol darah, risiko PJK dapat dicegah.