Showing posts with label Banyak. Show all posts
Showing posts with label Banyak. Show all posts

Thursday, March 25, 2010

Terlalu Banyak Duduk? Awas Sitting Disease!

KOMPAS.com - Kemungkinan terbesar, saat membaca tulisan ini, Anda sedang duduk. Jika Anda seperti kebanyakan pengguna komputer, Anda sudah berada di tempat duduk tersebut dalam waktu cukup lama. Jika memerhatikan dan menghitung aktivitas Anda belakangan ini, apakah tubuh Anda benar-benar "aktif"? Jika jawabannya "tidak", maka sudah saatnya Anda mengetahui bahwa duduk terlalu lama akan menimbulkan masalah kesehatan tersendiri bagi Anda di masa mendatang.

Meski Anda berpikir bahwa kegiatan Anda segudang, tapi perhatikanlah kembali aktivitas dan gerak tubuh Anda. Apakah selama perjalanan dari rumah ke kantor, Anda hanya duduk di mobil, duduk di balik meja selama 8 jam, lalu sisa hari dihabiskan di depan televisi selama berjam-jam? Apakah Anda mengandalkan surat elektronik untuk berkorespondensi, berbelanja lewat internet, dan mengandalkan fasilitas yang membuat Anda tak harus beranjak dari tempat duduk? Jika ya, maka Anda sudah terkena "penyakit terlalu banyak duduk".

Penyakit terlalu banyak duduk (sitting disease) ini merupakan satu jenis "tren" baru bagi mereka yang memiliki gaya hidup minim aktivitas atau olahraga. Meski rasanya tak ada yang salah dalam menjalankan kebiasaan ini, namun sebuah riset terbaru mengatakan bahwa ketika tubuh jarang bergerak bisa meningkatkan risiko terkena penyakit jantung, diabetes, kanker, dan obesitas. Di bulan Januari tahun ini, para ahli dari Inggris menemukan adanya hubungan antara terlalu lama duduk dengan peningkatan risiko terkena penyakit. Di saat yang berdekatan pula, para peneliti dari Australia mengatakan, bahwa setiap satu jam kita duduk di depan televisi, bisa meningkatkan 18 persen kemungkinan terkena penyakit kardiovaskuler.

James Levine, MD, PhD, profesor obat-obatan dari Mayo Clinic di Rochester, Minnesota, dan penulis Move aLittle, Lose a Lot mengatakan, "Manusia berevolusi sebagai entitas yang berjalan, mengeksplor dunia menggunakan kakinya." Namun, anehnya, menurut Levine, bahwa di dunia yang sekarang, manusia menghabiskan sebagian waktunya dalam sehari dengan duduk. Menurutnya, hal ini merupakan sebuah kungkungan fisik seseorang. Saran dari Levine, lawan penyakit terlalu banyak duduk dengan mengambil langkah untuk mulai aktif secara fisik. Hal ini bisa dilakukan dengan mengubah susunan jadwal harian Anda secara drastis. Misal, dengan mengikuti kelas-kelas di gym, berangkat ke kantor naik sepeda, menaruh sepeda statis atau treadmill di depan televisi, atau menyewa seorang pelatih kebugaran pribadi. Jika terlalu mahal, Anda bisa menciptakan kegiatan-kegiatan kecil untuk mulai bergerak di sela-sela hari Anda.

Terlalu Banyak Duduk? Awas Sitting Disease!

KOMPAS.com - Kemungkinan terbesar, saat membaca tulisan ini, Anda sedang duduk. Jika Anda seperti kebanyakan pengguna komputer, Anda sudah berada di tempat duduk tersebut dalam waktu cukup lama. Jika memerhatikan dan menghitung aktivitas Anda belakangan ini, apakah tubuh Anda benar-benar "aktif"? Jika jawabannya "tidak", maka sudah saatnya Anda mengetahui bahwa duduk terlalu lama akan menimbulkan masalah kesehatan tersendiri bagi Anda di masa mendatang.

Meski Anda berpikir bahwa kegiatan Anda segudang, tapi perhatikanlah kembali aktivitas dan gerak tubuh Anda. Apakah selama perjalanan dari rumah ke kantor, Anda hanya duduk di mobil, duduk di balik meja selama 8 jam, lalu sisa hari dihabiskan di depan televisi selama berjam-jam? Apakah Anda mengandalkan surat elektronik untuk berkorespondensi, berbelanja lewat internet, dan mengandalkan fasilitas yang membuat Anda tak harus beranjak dari tempat duduk? Jika ya, maka Anda sudah terkena "penyakit terlalu banyak duduk".

Penyakit terlalu banyak duduk (sitting disease) ini merupakan satu jenis "tren" baru bagi mereka yang memiliki gaya hidup minim aktivitas atau olahraga. Meski rasanya tak ada yang salah dalam menjalankan kebiasaan ini, namun sebuah riset terbaru mengatakan bahwa ketika tubuh jarang bergerak bisa meningkatkan risiko terkena penyakit jantung, diabetes, kanker, dan obesitas. Di bulan Januari tahun ini, para ahli dari Inggris menemukan adanya hubungan antara terlalu lama duduk dengan peningkatan risiko terkena penyakit. Di saat yang berdekatan pula, para peneliti dari Australia mengatakan, bahwa setiap satu jam kita duduk di depan televisi, bisa meningkatkan 18 persen kemungkinan terkena penyakit kardiovaskuler.

James Levine, MD, PhD, profesor obat-obatan dari Mayo Clinic di Rochester, Minnesota, dan penulis Move aLittle, Lose a Lot mengatakan, "Manusia berevolusi sebagai entitas yang berjalan, mengeksplor dunia menggunakan kakinya." Namun, anehnya, menurut Levine, bahwa di dunia yang sekarang, manusia menghabiskan sebagian waktunya dalam sehari dengan duduk. Menurutnya, hal ini merupakan sebuah kungkungan fisik seseorang. Saran dari Levine, lawan penyakit terlalu banyak duduk dengan mengambil langkah untuk mulai aktif secara fisik. Hal ini bisa dilakukan dengan mengubah susunan jadwal harian Anda secara drastis. Misal, dengan mengikuti kelas-kelas di gym, berangkat ke kantor naik sepeda, menaruh sepeda statis atau treadmill di depan televisi, atau menyewa seorang pelatih kebugaran pribadi. Jika terlalu mahal, Anda bisa menciptakan kegiatan-kegiatan kecil untuk mulai bergerak di sela-sela hari Anda.

Wednesday, March 24, 2010

Makin Banyak Pria Keluhkan Kejantanan

KOMPAS.com - Para ahli memperkirakan, lebih dari 100 juga pria di seluruh dunia mengalami gangguan fungsi seksual. Di Amerika Serikat, 30 persen pria mengalami ejakulasi dini, sedangkan di Indonesia, diperkirakan sekitar 20 persen pria yang datang ke klinik impotensi mengeluhkan juniornya yang selesai lebih cepat. Mengapa kini makin banyak pria bermasalah dengan "kejantanannya?"

Menurut penjelasan dr. Andi Sugiarto, Sp.RM, dari Rumah Sakit Pantiwilasa Citarum, Semarang, pada banyak kasus ejakulasi dini (ED), faktor psikis sangat berpengaruh. "Saat ini pressure orang sangat tinggi, terutama dari pekerjaan dan kehidupan sosial. Orang juga cenderung lebih cemas dan tergesa-gesa," katanya dalam seminar online Mengatasi Ejakulasi Dini (25/2).

Faktor lain terjadinya ejakulasi dini adalah rendahnya kadar serotonin (zat yg ada di saraf kita yg fungsinya mengantarkan impuls saraf). "Dewasa ini faktor kurangnya serotonin juga meningkat yang bisa disebabkan oleh tingginya konsumsi makanan yang mengandung pengawet," ujar dr.Andi.

Selain itu, secara umum jumlah penderita penyakit diabetes melitus dan penderita gangguan saraf juga lebih banyak sehingga frekuensi ejakulasi dini lebih sering. Dengan semakin bertambahnya usia, maka faktor fisik (gangguan kesehatan) menjadi semakin berperan. Sementara itu pada penderita ED yang lebih muda, biasanya disebabkan karena faktor psikis.

Ejakulasi dini bisa membuat pria merasa kecewa dan rendah diri karena tidak bisa memuaskan pasangan. "Apalagi dalam hubungan seks, wanita lebih lama naik gairahnya. Bagaimana bisa memuaskan pasangan kalau belum apa-apa sudah ejakulasi," ujarnya.

Karena merasa rendah diri, menurut dr.Andi akibatnya banyak pria yang merasa malas untuk berhubungan seks. Bila ini berlangsung dalam waktu lama, bukan cuma ED, pria tersebut juga bisa mengalami gangguan ereksi. "Karena merasa tertekan, ia tidak bisa ereksi lagi," ujarnya.

Selain dengan obat-obatan, ED bisa diatasi dengan seks terapi dan latihan kegel. "Terapi seks harus dilakukan seorang pria dengan pasangannya. Dimulai dari konsultasi hingga terapi, suami istri harus bekerjasama," paparnya. Keberhasilan terapi tentu akan meningkatkan kualitas hidup bersama.

Makin Banyak Pria Keluhkan Kejantanan

KOMPAS.com - Para ahli memperkirakan, lebih dari 100 juga pria di seluruh dunia mengalami gangguan fungsi seksual. Di Amerika Serikat, 30 persen pria mengalami ejakulasi dini, sedangkan di Indonesia, diperkirakan sekitar 20 persen pria yang datang ke klinik impotensi mengeluhkan juniornya yang selesai lebih cepat. Mengapa kini makin banyak pria bermasalah dengan "kejantanannya?"

Menurut penjelasan dr. Andi Sugiarto, Sp.RM, dari Rumah Sakit Pantiwilasa Citarum, Semarang, pada banyak kasus ejakulasi dini (ED), faktor psikis sangat berpengaruh. "Saat ini pressure orang sangat tinggi, terutama dari pekerjaan dan kehidupan sosial. Orang juga cenderung lebih cemas dan tergesa-gesa," katanya dalam seminar online Mengatasi Ejakulasi Dini (25/2).

Faktor lain terjadinya ejakulasi dini adalah rendahnya kadar serotonin (zat yg ada di saraf kita yg fungsinya mengantarkan impuls saraf). "Dewasa ini faktor kurangnya serotonin juga meningkat yang bisa disebabkan oleh tingginya konsumsi makanan yang mengandung pengawet," ujar dr.Andi.

Selain itu, secara umum jumlah penderita penyakit diabetes melitus dan penderita gangguan saraf juga lebih banyak sehingga frekuensi ejakulasi dini lebih sering. Dengan semakin bertambahnya usia, maka faktor fisik (gangguan kesehatan) menjadi semakin berperan. Sementara itu pada penderita ED yang lebih muda, biasanya disebabkan karena faktor psikis.

Ejakulasi dini bisa membuat pria merasa kecewa dan rendah diri karena tidak bisa memuaskan pasangan. "Apalagi dalam hubungan seks, wanita lebih lama naik gairahnya. Bagaimana bisa memuaskan pasangan kalau belum apa-apa sudah ejakulasi," ujarnya.

Karena merasa rendah diri, menurut dr.Andi akibatnya banyak pria yang merasa malas untuk berhubungan seks. Bila ini berlangsung dalam waktu lama, bukan cuma ED, pria tersebut juga bisa mengalami gangguan ereksi. "Karena merasa tertekan, ia tidak bisa ereksi lagi," ujarnya.

Selain dengan obat-obatan, ED bisa diatasi dengan seks terapi dan latihan kegel. "Terapi seks harus dilakukan seorang pria dengan pasangannya. Dimulai dari konsultasi hingga terapi, suami istri harus bekerjasama," paparnya. Keberhasilan terapi tentu akan meningkatkan kualitas hidup bersama.